Hagia Sophia

19 March 2024

Banyak Warga Singapura Tidak Ingin Punya Anak Lebih dari 1, Ini Alasannya

Angka kesuburan Singapura menyusut (Foto: Getty Images)

Tingkat kesuburan di negara-negara maju seluruh dunia saat ini tengah menurun. Singapura misalnya, perkiraan angka kesuburan di negara ini turun ke rekor terendah 0,97 pada 2023. Hal ini menandakan angka kesuburan di negara tersebut pertama kalinya berada di bawah 1,0.

Bahkan angka tersebut turun lebih jauh dari rekor sebelumnya sebesar 1,04 pada 2022 dan 1,12 pada 2021. Salah seorang menteri di Singapura pada bulan lalu mengatakan di parlemen bahwa berbagai alasan dapat menjadi pemicu rendahnya angka kesuburan di Singapura.

"Beberapa bersifat sementara, misalnya pasangan yang rencana pernikahannya terganggu oleh COVID-19, yang pada gilirannya mungkin menunda rencana menjadi orang tua," kata Menteri di Kantor Perdana Menteri Indranee Rajah, dikutip dari South China Morning Post.

"Yang lain menyebutkan kekhawatiran mengenai biaya finansial dalam membesarkan anak, tekanan untuk menjadi orang tua yang baik, atau kesulitan mengelola komitmen pekerjaan dan keluarga," kata Rajah, seraya menambahkan bahwa tingkat kesuburan yang rendah mencerminkan pergeseran prioritas individu dan norma-norma masyarakat.

Lantaran kekhawatiran mengenai biaya finansial yang terlalu mahal dalam membesarkan anak, tak sedikit warga Singapura yang memilih untuk punya satu anak.

Rui Qi, 26, warga Singapura, yang memiliki seorang putri berusia dua tahun, mengatakan biaya hidup dan kemampuan untuk mengatur keseimbangan kehidupan kerja sebagai alasan utama keputusannya untuk memiliki satu anak.

"Saya tidak melihat gunanya memiliki anak jika saya tidak memberikan yang terbaik dari kemampuan saya. Lebih mudah menafkahi satu orang dibandingkan beberapa orang," kata ibu wiraswasta ini.

"Keluarga yang lebih besar juga berarti keluarganya akan membutuhkan rumah yang lebih besar, dan mengingat meningkatnya biaya perumahan, biaya tersebut akan terlalu besar untuk ditanggung," tambahnya.

Hamil lagi juga akan lebih sulit untuk diatasi, kata Rui Qi.

"Saat ini, saya dan suami tidak punya banyak waktu untuk dihabiskan bersama, karena tidak ada orang lain yang menjaga anak kami. Minimal dengan satu anak, kita bisa bergiliran dan ada yang bisa istirahat sejenak," ujarnya.

Tak hanya itu, Amber Quah, 26, yang juga warga Singapura, berencana membangun keluarga bersama setelah menikah, dan memutuskan ingin memiliki satu anak saja.

Quah dan pasangannya mengambil keputusan ini setelah mempertimbangkan biaya hidup dan inflasi, yang berarti mereka berdua harus bekerja penuh waktu untuk menafkahi keluarga kami dengan nyaman.

"Faktanya, dua anak akan melipatgandakan pengeluaran, melipatgandakan biaya pendidikan, dan melipatgandakan perhatian yang dibutuhkan," kata Quah, seorang pegawai negeri sipil, dan rekannya bekerja sebagai insinyur dirgantara.

"Saya ingin kencan Sabtu malam bersama pasangan saya tanpa harus khawatir apakah anak-anak saya bertengkar," katanya.

"Saya tidak ingin khawatir tentang bagaimana saya akan membiayai pendidikan anak saya, dan kekhawatiran itu berlipat ganda ketika saya memikirkan hal lainnya. Balita mengamuk di satu tangan dan bayi menangis di tangan lainnya? Tidak, terima kasih," lanjutnya lagi.

Di sisi lain, sebuah studi yang dipublikasikan di jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences (PNAS) baru-baru ini juga mengungkapkan semakin banyak pasangan muda yang cenderung hanya memiliki satu anak. Laporan studi tersebut melibatkan 22 ribu orang di delapan negara, termasuk Singapura, yang ditanyai mengenai keluarga ideal mereka di era penurunan angka kesuburan di banyak negara.

Selain warga Singapura, negara lain yang juga terlibat dalam studi ini yakni Jepang, Korea Selatan, Italia, Norwegia, Amerika Serikat, Spanyol serta pasangan asal perkotaan di China.

Responden diminta untuk mempertimbangkan faktor-faktor seperti pendapatan keluarga, keseimbangan kehidupan kerja dan harapan terhadap pendidikan anak-anak mereka, ketika memutuskan jumlah anak yang mereka inginkan.

"Ketidakpedulian relatif terhadap jumlah anak [ideal] yang tepat dapat menyebabkan pasangan, rata-rata, memilih hanya satu anak untuk meningkatkan beberapa fitur keluarga lainnya. Penjelasan ini konsisten dengan tren kesuburan yang diamati, yang secara signifikan lebih rendah daripada perkiraan ideal dua anak pada umumnya," kata studi tersebut, dikutip dari South China Morning Post.


























Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Angka Kesuburan Rendah, Warga Singapura Ogah Punya Anak Lebih dari 1 gegara Ini"