Hagia Sophia

20 January 2023

Kesedihan Warga China yang Kerabatnya Terkena COVID-19

Pilu warga China imbas lonjakan kasus kematian akibat COVID-19. Foto: AP/Ng Han Guan

Warga China kini terpukul imbas lonjakan kasus kematian akibat COVID-19. Salah satunya Ailia, mengaku amat terpukul ketika ayahnya yang berusia 85 tahun meninggal dunia setelah sempat menunjukkan gejala mirip COVID-19.

Mengingat kini virus Corona dilaporkan menyebar ke wilayah desa dengan layanan terbatas. Tidak terkecuali kampung halaman Ailia di provinsi tenggara Jiangxi.

Ailia mengisahkan, ayahnya tidak pernah dites COVID-19. Sementara ia dan ibunya sempat terkonfirmasi positif COVID-19 di waktu yang sama dengan kematian ayahnya. Ia percaya, ayahnya meninggal dunia karena virus Corona.

Ailia mendukung pembukaan kembali wilayah China demi mendorong perekonomian. Namun ia berharap, pencabutan aturan pembatasan tersebut tak malah memicu imbas yang lebih besar dari infeksi virus Corona.

"Kami ingin hal-hal terbuka, tetapi tidak terbuka seperti ini. Tidak dengan mengorbankan begitu banyak orang lanjut usia, yang berdampak besar pada setiap keluarga," ungkap Ailia, dikutip dari Channel News Asia, Kamis (19/1/2023).

Menjelang liburan Tahun Baru Imlek pada 21 Januari, ratusan juta warga CHina melakukan perjalanan untuk menemui keluarga. Banyak warga bakal melakukan perjalanan setelah berkabung kehilangan keluarga yang meninggal dunia imbas gelombang COVID-19.

Pada Sabtu (14/1), China mengumumkan bahwa telah terjadi hampir 60 ribu kematian di rumah sakit terkait COVID-19, terhitung sejak dicabutnya aturan ketat 'Zero COVID-19' pada awal Desember 2022. Peningkatan kasus kematian tersebut mencapai 10 kali lipat dari angka sebelumnya.

Banyak ahli internasional mengatakan jumlah kasus kematian aslinya lebih banyak dibandingkan yang dilaporkan pejabat China. Sebagian karena tidak termasuk orang yang meninggal di rumah sakit, seperti ayah Ailia.

Pejabat China melaporkan di antara kasus kematian tersebut, 90 persen berusia 65 tahun atau lebih dan usia rata-rata adalah 80,3 tahun.

Juga disebutkan, pada 6 Januari terdapat lebih dari 90 persen warga China berusia di atas usia 60 tahun telah divaksinasi. Sedangkan perihal booster pada lansia berusia di atas 80 tahun, baru mencakup 40 persen terhitung hinggga 28 November.

"Kalau saja mereka menggunakan sumber daya yang digunakan untuk mengendalikan virus untuk melindungi orang tua," kata Ailia.

Keputusan China untuk mencabut aturan ketat 'Zero-COVID' muncul setelah ada protes besar-besaran dari warga yang menilai, aturan tersebut terlalu keras. Namun kini, keluhan publik atas penanganan China terhadap COVID-19 sebagian besar dilakukan melalui media sosial yang disensor secara ketat.

Beberapa analis menyebut penanganan COVID-19 di China telah mengikis kepercayaan terhadap pemerintah, terutama dari kalangan urban kelas menengah ke atas.























Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Pilu Warga China Tangisi Kepergian Kerabat Akibat Tertular COVID-19"