Hagia Sophia

08 February 2023

Para Penyelamat dan Korban Gempa Turki Hadapi Suhu Ekstrem

Penyelamatan korban gempa Turki. (Foto: Ismail Coskun/IHA via AP)

Pemerintah Turki telah mengirimkan ribuan petugas pencarian dan penyelamatan ke wilayah Turki selatan, yang dilanda dua kali gempa bumi. Namun para korban dan penyelamat masih harus berhadapan dengan risiko yang berat: hipotermia.

Gempa dengan magnitudo 7,8 yang melanda Turki dan Suriah pada Senin (6/3/2023) diperkirakan akan menjadi salah satu bencana yang paling mematikan dalam dekade ini. Sejauh ini dilaporkan 5 ribu orang tewas akibat bencana tersebut.

Kota-kota yang dilanda gempa seperti Malatya, Kahramanmaras, Gaziantep, dan Diyarbakır menghadapi cuaca dingin, hujan, dan bahkan salju, karena suhu turun mendekati nol.

Pakar meteorologi dan spesialis manajemen bencana dari Universitas Teknik Istanbul Mikdat Kadıoğlu mengatakan kepada media lokal Turki bahwa petugas penyelamat harus bergegas, karena orang-orang di bawah reruntuhan mungkin tidak dapat bertahan dari aturan 72 jam periode emas penyelamatan.

"Mereka mungkin hanya punya waktu 24 jam," katanya.

Tim penyelamat menggali puing-puing dalam suhu yang berada di atas titik beku pada hari Senin (6/2), sementara penyelamat darurat khawatir tentang suhu rendah yang mencapai titik terendah sekitar 20 derajat, membuat korban selamat yang masih terperangkap rentan terhadap hipotermia dan radang dingin, atau mati kedinginan.

Bahkan para korban yang dipindahkan ke rumah sakit menghadapi kedinginan karena gempa memutuskan aliran listrik dan panas ke begitu banyak bangunan yang masih berdiri.

"Penyelamat harus berpacu dengan waktu dan hipotermia untuk menemukan siapa pun yang masih terperangkap di bawah reruntuhan," kata Mikdat.























Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Hadapi Suhu Ekstrem, Korban Gempa Turki Berisiko Alami Hipotermia"