Hagia Sophia

08 February 2023

Wanita Ini Iseng Lakukan USG, Ternyata Ada Benjolan di Payudaranya

Ibu Lily, pejuang kanker dari Cancer Survivor Komunitas Samudera Kasih (Foto: detikhealth/ Averus Al Kautsar)

Seiring momen Hari Kanker Sedunia 2023, kanker payudara menjadi salah satu sorotan besar pemerintah dan para dokter di Indonesia. Mengacu pada data Globocan 2020, kasus kanker di Indonesia mencapai 396.914 kasus. Di antaranya, kanker payudara menyumbang jumlah terbanyak hingga mencapai 68.858 kasus atau sekitar 16,6 persen dari keseluruhan kasus.

Seorang wanita asal Jakarta Selatan, Lily (48), membagikan kisahnya berjuang melawan kanker. Ia tergabung dalam komunitas Cancer Survivor Komunitas Samudera Kasih.

Dirinya menceritakan, awalnya tak ada keluhan atau masalah apa pun terkait kesehatannya. 'Iseng' berinisatif, Lily pun memutuskan untuk melakukan skrining pada 2013.

"Saya kebetulan adalah orang yang suka melakukan skrining atau deteksi dini. Jadi tahun 2013 USG ramai-ramai. Tidak ada keluhan, tidak ada problem semua berjalan normal. Sampai dari hasil medical check-up menyatakan ada benjolan 1 cm di payudara sebelah kiri," ucap Lily saat ditemui detikcom di Jakarta Selatan, Selasa (7/2/2023).

Ketika pertama kali mendapatkan diagnosis kanker, Lily kebingungan. Di kepalanya terngiang-ngiang mitos seputar kanker yang sering didengarnya.

"Bingung (usai divonis). Terus juga banyak mitos-mitos mungkin itu kelenjar ASI tersumbat. Atau oh mungkin lagi mens coba cek aja habis mens gitu ya. Jadi masih semoga salah (vonis kankernya)," cerita Lily lagi.

Dari perjalanan yang ditempuh Lily, terciptalah sebuah komunitas support untuk pasien-pasien kanker yang sedang berobat. Pasalnya, setiap pasien kanker membutuhkan proses pengobatan yang memakan waktu dan tenaga begitu besar.

Tekanan psikologis yang besar itu dapat dikurangi jika pasien kanker tergabung di komunitas pejuang kanker dan bisa saling berbagi cerita pada sesama pasien kanker.

"Waktu itu pada tahun 2013, pada waktu itu mulai treatment kita sudah mulai di ruang radiasi akhirnya terciptalah sebuah komunitas support. Berawal dari ruang tunggu sambil ngobrol, 'kalau kemo lagi nggak bisa makan kira-kira apa ya, kalau muntah gimana, kalau kulit kering gimana', banyak yang kayak gitu kan?" cerita Lily.

"Akhirnya yuk kita bikin komunitas di mana kita mensupport. Kamu tidak sendiri. Dokter selalu bilang, 'Lily hati gembira adalah obat yang manjur'," sambungnya lagi memberi semangat pada pengidap kanker yang sedang berjuang.

Lebih lanjut Ibu Lily mengisahkan, dirinya sudah dua kali didiagnosis kanker payudara. Lima tahun dari kasus kanker pertamanya, Lily kembali didiagnosis kanker payudara. Namun pada diagnosis kedua, ia sama sekali tidak merasakan gejala lantaran ukuran tumor di payudaranya terbilang kecil dan tidak teraba.

"Pas di tahun kelima, diuji lagi muncul kanker kedua ukurannya 0,5 cm nggak teraba dan tidak terasa, kalau tidak skrining tidak ketahuan," ucapnya.

Karena beragam gejala dan tanda kanker yang tidak terlihat, Lily menekankan pentingnya pemeriksaan secara dini. Hal itu untuk mencegah keterparahan kanker dan tingkat stadium tinggi agar masih bisa diobati.

"Sebelum kanker itu datang kita deteksi dini dulu, jadi nanti masih awal (stadium) ketangkapnya. Jangan udah tambah parah, stage udah lanjut, pastinya untuk kemungkinan hidup dan pengobatannya juga akan kompleks dan repot," pungkasnya.























Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Cerita Lily Ketahuan Kanker Payudara gegara Iseng Cek USG"