Hagia Sophia

02 February 2023

Untuk Pecinta Makanan Junk Food, Waspadai Hal Ini

Makanan junk food yang termasuk ke dalam kategori makanan ultra proses, bisa memicu kanker ovarium pada wanita. (Foto: Getty Images/iStockphoto/Prot Tachapanit)

Makanan ultra proses atau makanan yang diproduksi dengan proses yang berlebihan kerap diminati orang-orang dewasa ini. Selain karena rasanya lezat, makanan ultra proses juga tidak memakan waktu lama untuk mengolahnya.

Makanan ultra proses meliputi sup instan, saus, pizza beku. Makanan siap saji (junk food) seperti hot dog, sosis, kentang goreng, soda, biskuit kemasan, cake, permen, donat, es krim, dan makanan lainnya juga termasuk ke dalam kategori ultra proses.

Namun sebuah studi terbaru menunjukkan makanan ultra proses meningkatkan risiko dan kematian akibat kanker, khususnya kanker ovarium. Dari 197 ribu partisipan di Inggris, lebih dari setengahnya adalah kaum wanita.

"Makanan ultra proses diproduksi dengan bahan-bahan yang berasal dari industri dan sering menggunakan bahan tambahan makanan untuk menyesuaikan warna, rasa, konsistensi, tekstur, atau memperpanjang umur simpan," kata Dr Kiara Chang dari Imperial College London's School of Public Health sekaligus penulis pertama penelitian tersebut dikutip dari CNN.

"Tubuh kita mungkin tidak bereaksi dengan cara yang sama terhadap bahan dan bahan tambahan ultra proses ini seperti yang mereka lakukan terhadap makanan minim proses yang segar dan bergizi," beber Chang.

Ahli gizi Aston Medical School di Birmingham Duane Mellor menambahkan, orang yang sering mengonsumsi makanan ultra proses lebih suka meminum lebih banyak soda. Alih-alih sayur-sayuran dan makanan bergizi, mereka lebih memilih makanan instan.

"Ini bisa berarti bahwa itu mungkin bukan efek khusus dari makanan ultra proses itu sendiri, tetapi mencerminkan dampak dari asupan makanan sehat yang lebih rendah," kata Mellor, yang tidak terlibat dalam penelitian tersebut.

Konsumsi Makanan Ultra Proses Tingkatkan Risiko Kanker

Studi yang diterbitkan Selasa (31/1/2023) di jurnal eClinicalMedicine, mengamati hubungan antara makan makanan ultra proses dan 34 jenis kanker berbeda selama periode 10 tahun.

Para peneliti memeriksa informasi tentang kebiasaan makan 197.426 orang yang merupakan bagian dari Biobank Inggris. Biobank merupakan database biomedis besar dan sumber penelitian yang mengikuti penduduk dari tahun 2006 hingga 2010.

Studi mencatat jumlah makanan ultra proses yang dikonsumsi oleh orang-orang dalam penelitian ini berkisar dari yang terendah 9,1 persen hingga yang tertinggi 41,4 persen dari makanan atau diet mereka. Pola makan kemudian dibandingkan dengan catatan medis yang mencantumkan diagnosis dan kematian akibat kanker.

Penelitian ini menunjukkan setiap peningkatan 10 persen dalam konsumsi makanan ultra proses dikaitkan dengan peningkatan 2 persen dalam pengembangan kanker apa pun. Sementara itu, konsumsi makanan ultra proses meningkatkan 19 persen risiko kanker ovarium.

Studi juga menemukan, tingkat kematian yang meningkat akibat makanan ultra proses. Risiko kematian akibat kanker meningkat sebesar 6 persen, sedangkan risiko kematian akibat kanker ovarium meningkat sebesar 30 persen.

"Asosiasi ini bertahan setelah penyesuaian untuk berbagai sosio-demografis, status merokok, aktivitas fisik, dan faktor diet utama," demikian yang tertulis dalam penelitian tersebut.

Dalam hal kematian akibat kanker di kalangan wanita, kanker ovarium menempati peringkat kelima di Amerika Serikat (AS). American Cancer Society mencatat kanker ovarium menyumbang lebih banyak kematian daripada kanker lain yang menyerang sistem reproduksi wanita.

"Temuan ini menambah studi sebelumnya yang menunjukkan hubungan antara proporsi makanan ultra proses yang lebih besar dalam diet dan risiko obesitas, serangan jantung, stroke, dan diabetes tipe 2 yang lebih tinggi," kata Simon Steenson, seorang ilmuwan nutrisi di British Nutrition Foundation.

"Namun, batasan penting dari studi sebelumnya dan analisis baru yang diterbitkan hari ini adalah bahwa temuan tersebut bersifat observasional sehingga tidak memberikan bukti hubungan kausal yang jelas antara makanan ultra proses dan kanker, atau risiko penyakit lain," sambung Steenson.

Bukti Lainnya

Dalam studi yang dilakukan Chang dan rekan-rekannya, orang-orang yang mengonsumsi makanan ultra proses berasal dari kaum muda. Selain itu, kebanyakan dari mereka juga tidak memiliki riwayat genetik kanker dari keluarganya.

Konsumen makanan ultra proses dikaitkan dengan obesitas karena mereka jarang melakukan aktivitas fisik. Orang-orang ini juga cenderung memiliki pendapatan rumah tangga dan pendidikan yang lebih rendah dan tinggal di komunitas yang paling kurang mampu.

"Studi ini menambah bukti yang berkembang bahwa makanan ultra proses cenderung berdampak negatif terhadap kesehatan kita, termasuk risiko kanker," kata Dosen Senior Klinis Imperial College London's School of Public Health Dr Eszter Vamos.

Penelitian terbaru ini bukan yang pertama menunjukkan hubungan antara asupan tinggi makanan ultra proses dan kanker. Sebelumnya, pada 2022 penelitian serupa dilakukan di AS.

Penelitian tersebut melibatkan lebih dari 200.000 pria dan wanita di AS. Penelitian ini menemukan hubungan antara makanan ultra proses dan kanker kolorektal, kanker ketiga yang paling banyak didiagnosis di AS pada pria, tetapi tidak pada wanita.

"Ada ratusan studi yang menghubungkan makanan ultra proses dengan obesitas, kanker, penyakit kardiovaskular, dan kematian secara keseluruhan," kata profesor New York University Marion Nestle kepada CNN.

Vamos menambahkan, bukti lain yang tersedia menunjukkan bahwa mengurangi makanan ultra proses dalam diet kita dapat memberikan manfaat kesehatan yang penting.

"Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengonfirmasi temuan ini dan memahami strategi kesehatan masyarakat terbaik untuk mengurangi meluasnya keberadaan dan bahaya makanan ultra proses dalam diet harian kita," tambahnya.
























Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Riset Bawa Kabar Nggak Enak Buat yang Doyan Makan Junk Food"