![]() |
| Asupan gula bikin anak hiperaktif, mitos atau fakta ya? Foto: Getty Images/iStockphoto/Marcia Nelsis |
Setiap kali anak terlihat lebih aktif, sulit diam, atau berlarian setelah mengonsumsi makanan dan minuman manis, gula kerap langsung disalahkan. Istilah sugar rush pun kembali muncul-fenomena yang diyakini membuat anak hiperaktif akibat lonjakan gula dalam tubuh.
Isu lama ini kembali ramai setelah dr Meta Hanindita, SpA, seorang dokter anak dan konsultan nutrisi, menyinggungnya dalam sebuah podcast. Dalam podcast tersebut, dr Meta menegaskan bahwa konsep 'sugar rush', yang mengaitkan gula dengan hiperaktivitas, adalah mitos.
Meski ditegaskan juga oleh dr Meta bahwa asupan gula berlebih punya dampak negatif, pernyataan soal sugar rush memantik lagi kontroversi yang sudah sejak lama jadi perdebatan di kalangan ahli. Pendapat bahwa gula punya pengaruh pada anak hiperaktif, muncul lagi dengan berbagai argumen pendukungnya.
Benarkah gula bisa memicu perilaku hiperaktif pada anak, dan apakah ada kaitannya dengan Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD), atau justru sugar rush hanyalah mitos yang terlanjur dipercaya banyak orang?
Apa Itu Sugar Rush?
Untuk memahami perdebatan ini, penting mengenal terlebih dahulu apa yang dimaksud dengan sugar rush. Istilah ini populer digunakan untuk menggambarkan kondisi ketika anak tampak lebih aktif, gelisah, atau sulit diam setelah mengonsumsi makanan dan minuman manis. Dalam pemahaman awam, perilaku tersebut kerap dikaitkan dengan lonjakan kadar gula darah yang diyakini memberi "energi berlebih" secara tiba-tiba.
Namun, di balik popularitasnya, sugar rush bukan istilah medis resmi dan tidak tercantum dalam literatur diagnosis kesehatan anak. Istilah ini lebih banyak lahir dari pengalaman sehari-hari orang tua, terutama saat anak mengonsumsi makanan manis dalam situasi tertentu, seperti pesta ulang tahun atau acara keluarga yang penuh stimulasi.
Seiring waktu, anggapan ini pun mulai dipertanyakan, terutama ketika penelitian ilmiah mencoba menguji apakah perilaku tersebut benar-benar berasal dari efek biologis gula.
Adakah Kaitan Gula dengan Hiperaktivitas?
Keraguan terhadap konsep sugar rush mendorong topik ini diteliti secara lebih serius. Anggapan bahwa gula dapat membuat anak menjadi hiperaktif telah lama diuji melalui berbagai penelitian. Salah satu rujukan yang paling sering dikutip adalah kajian besar yang dimuat di Journal of the American Medical Association (JAMA) oleh Wolraich dkk., yang menunjukkan bahwa anak yang mengonsumsi gula tidak terbukti menjadi lebih hiperaktif atau mengalami gangguan kemampuan berpikir dibandingkan anak yang tidak mengonsumsi gula atau mengonsumsi pengganti gula.
Hasil serupa juga ditemukan dalam penelitian lain yang dipublikasikan di Journal of Affective Disorders oleh Del-Ponte dkk. Dalam penelitian ini, anak yang sama diikuti dari waktu ke waktu untuk melihat apakah konsumsi gula berkaitan dengan munculnya ADHD. Hasilnya, tidak ditemukan kaitan yang jelas antara asupan gula dan risiko ADHD pada anak usia sekolah. Temuan serupa juga dilaporkan dalam berbagai penelitian di Amerika Serikat dan Eropa, yang secara konsisten tidak menemukan hubungan langsung antara konsumsi gula dan hiperaktivitas pada anak.
Menariknya, sejumlah penelitian mencatat bahwa perubahan perilaku anak lebih sering muncul dalam laporan orang tua dibandingkan saat anak diamati langsung oleh peneliti. Kondisi ini dinilai dapat menimbulkan bias, khususnya expectancy bias, yaitu ketika keyakinan awal orang tua misalnya anggapan bahwa gula membuat anak hiperaktif memengaruhi cara mereka menilai perilaku anak. Dalam sejumlah penelitian, termasuk Wolraich dkk., orang tua melaporkan anak tampak lebih aktif setelah makan manis, meskipun saat perilaku anak diamati langsung dalam kondisi terkontrol, perubahan tersebut tidak terlihat secara nyata.
Berdasarkan temuan tersebut, sejumlah penelitian menilai bahwa konsep sugar rush lebih banyak dipengaruhi oleh bias persepsi dan faktor situasional, seperti suasana ramai atau momen perayaan, daripada efek biologis langsung gula terhadap perilaku anak. Dengan kata lain, yang sering berubah adalah cara perilaku anak ditafsirkan, bukan perilaku anak itu sendiri.
Namun, temuan ini kerap menimbulkan pertanyaan lanjutan di kalangan orang tua: jika bukan gula, lalu bagaimana seharusnya perilaku anak dipahami?
Apa Arti Hasil Penelitian Ini bagi Orang Tua?
Hasil penelitian ini membantu orang tua melihat perilaku anak dengan lebih utuh. Anak yang terlihat lebih aktif setelah mengonsumsi makanan manis belum tentu bereaksi terhadap gula itu sendiri. Dalam banyak kasus, perilaku tersebut bisa dipengaruhi oleh situasi di sekitarnya, seperti suasana yang ramai, banyak orang, aktivitas bermain yang seru, musik atau suara keras, serta momen perayaan seperti pesta ulang tahun.
Karena itu, perlu diingat bahwa anak yang aktif, banyak bergerak, atau mudah bersemangat tidak selalu menunjukkan masalah perilaku atau gangguan tertentu. Pemahaman ini menjadi penting ketika membahas ADHD, karena kondisi ini kerap disalahpahami dalam keseharian. ADHD merupakan kondisi neurodevelopmental, yaitu kondisi yang berkaitan dengan perkembangan otak sejak dini. Karena itu, ADHD bukan disebabkan oleh pola asuh yang salah, kebiasaan makan tertentu, atau konsumsi gula, dan tidak muncul secara tiba-tiba.
Menghindari gula sepenuhnya pun tidak otomatis menghilangkan gejala. Meski demikian, pola makan tetap berperan dalam membantu menjaga energi, fokus, dan emosi anak agar lebih stabil, bersama dengan faktor lain seperti tidur yang cukup dan lingkungan yang mendukung. Jika perilaku anak terasa mengganggu aktivitas sehari-hari dan berlangsung cukup lama, orang tua dapat mempertimbangkan untuk berkonsultasi dengan tenaga kesehatan.
Lalu Apa Pemicu ADHD?
Berbeda dengan anggapan populer, ADHD bukan kondisi yang muncul akibat satu faktor sederhana. Berdasarkan tinjauan ilmiah, ADHD merupakan gangguan neurodevelopmental multifaktorial, yang berkembang melalui interaksi berbagai faktor sejak masa awal perkembangan otak. Beberapa temuan riset besar menunjukkan bahwa:
- Genetika memainkan peran utama. Studi keluarga, kembar, dan adopsi menunjukkan bahwa ADHD memiliki tingkat heritabilitas yang tinggi. Sejumlah varian gen tertentu diketahui meningkatkan risiko ADHD dan sering ditemukan dalam satu keluarga. Tinjauan dalam Nature Reviews Neuroscience menegaskan bahwa faktor genetik merupakan kontributor dominan dalam perkembangan ADHD, terutama yang berkaitan dengan sistem neurotransmiter otak.
- Faktor neurobiologis dan perkembangan otak. Penelitian neuroimaging menemukan adanya perbedaan struktur dan fungsi otak pada individu dengan ADHD, khususnya pada area yang berperan dalam pengaturan perhatian, kontrol impuls, dan fungsi eksekutif. Jalur neurotransmiter seperti dopamin diketahui berperan penting dalam mekanisme ini.
- Faktor prenatal dan perinatal. Paparan alkohol atau tembakau selama kehamilan, kelahiran prematur, serta berat lahir rendah termasuk faktor yang dapat meningkatkan risiko ADHD karena memengaruhi perkembangan otak sejak sebelum dan sesaat setelah kelahiran.
- Lingkungan awal kehidupan. Faktor lingkungan pada masa awal kehidupan turut memengaruhi risiko ADHD, terutama melalui interaksinya dengan faktor genetik. Lingkungan ini tidak berdiri sendiri sebagai penyebab, melainkan berperan dalam membentuk bagaimana kerentanan genetik diekspresikan selama perkembangan otak.
Para peneliti menegaskan bahwa tidak ada satu penyebab tunggal ADHD. Kondisi ini berkembang melalui kombinasi berbagai faktor yang memengaruhi cara otak tumbuh dan berfungsi dari masa kanak-kanak hingga dewasa. Temuan ini sekaligus meluruskan anggapan bahwa ADHD disebabkan oleh pola makan tertentu seperti konsumsi gula yang tidak didukung oleh bukti ilmiah kuat.
Apakah Gula Bisa Memperparah Gejala ADHD?
Meski bukan penyebab ADHD, sejumlah penelitian sepakat bahwa pola makan-termasuk konsumsi gula-dapat memengaruhi bagaimana gejala ADHD muncul dan dikelola sehari-hari. Pada sebagian anak, konsumsi gula berlebihan dapat membuat gejala seperti sulit fokus, impulsivitas, atau perubahan emosi terasa lebih menonjol, terutama jika disertai kurang tidur dan pola makan yang tidak seimbang. Tinjauan ilmiah yang dipublikasikan di The Lancet Psychiatry menegaskan bahwa faktor diet berperan sebagai pemodulasi gejala, bukan penyebab utama ADHD.
Temuan ini sejalan dengan penelitian lain yang dimuat di Journal of Affective Disorders, yang menunjukkan bahwa pola konsumsi tinggi gula dan minuman berpemanis sering kali berkaitan dengan kualitas pola makan yang lebih rendah secara keseluruhan, seperti rendah asupan protein, serat, dan mikronutrien penting. Kondisi ini dapat memengaruhi fungsi kognitif dan regulasi emosi anak, termasuk pada anak dengan ADHD. Meski demikian, para peneliti menekankan bahwa hubungan tersebut bersifat tidak langsung, sehingga tidak dapat diartikan bahwa gula menyebabkan ADHD, melainkan dapat memperburuk gejala pada kondisi tertentu.
Lalu, seberapa jauh konsumsi gula sebenarnya perlu dibatasi?
Seberapa Jauh Gula Perlu Dibatasi?
Bagi orang tua, membatasi gula bukan berarti melarang anak sepenuhnya dari makanan manis. Yang perlu diperhatikan adalah jumlah, frekuensi, dan konteks konsumsinya. Gula dalam jumlah kecil dan sesekali misalnya saat ulang tahun atau acara khusus lainnya yang umumnya tidak menjadi masalah bagi anak yang sehat.
Sebagai acuan, World Health Organization (WHO) merekomendasikan asupan gula tambahan tidak lebih dari 10 persen dari total energi harian, dan idealnya di bawah 5 persen untuk manfaat kesehatan yang lebih baik. Pada anak usia sekolah, batas ini setara dengan sekitar 25 gram gula tambahan per hari, atau kurang lebih enam sendok teh gula. Jumlah ini sebenarnya bisa dengan mudah tercapai hanya dari satu botol minuman manis kemasan berukuran 250-300 mililiter, yang umumnya mengandung sekitar 20-30 gram gula.
Yang dimaksud gula tambahan adalah gula yang ditambahkan ke dalam makanan dan minuman, seperti pada minuman manis, permen, biskuit, kue, sereal manis, serta camilan dan makanan ultra-proses. Jenis gula inilah yang perlu dibatasi karena umumnya tidak disertai zat gizi penting. Sementara itu, gula alami yang terdapat dalam buah dan susu tidak termasuk dalam kategori ini, karena hadir bersama serat, protein, dan mikronutrien lain yang membantu memperlambat penyerapan gula ke dalam tubuh sehingga energi dilepaskan lebih stabil.
Yang perlu dihindari adalah konsumsi gula tambahan berlebihan dan terlalu sering, terutama dari minuman manis dan camilan kemasan rendah gizi. Pola ini dapat membuat energi anak naik turun dengan cepat, sehingga anak lebih mudah lelah, sulit fokus, atau emosinya kurang stabil terutama pada anak dengan ADHD yang cenderung lebih sensitif terhadap perubahan energi.
Karena itu, penting membedakan antara perilaku anak yang sesekali tampak lebih aktif dengan kondisi ADHD yang merupakan gangguan perkembangan saraf. Menyamakan keduanya berisiko membuat orang tua salah menafsirkan perilaku anak dan terlalu cepat menyimpulkan adanya gangguan tertentu.
Pada akhirnya, perdebatan soal sugar rush mengingatkan bahwa perilaku anak tidak bisa dijelaskan secara instan atau disederhanakan hanya pada satu jenis makanan. Ilmu pengetahuan menunjukkan bahwa hiperaktivitas dan ADHD adalah isu yang jauh lebih kompleks, melibatkan perkembangan otak, lingkungan, pola asuh, dan keseharian anak. Dalam isu perilaku anak, jawabannya jarang sesederhana satu sendok gula-yang dibutuhkan justru pemahaman yang lebih utuh dan pendampingan yang tepat.
Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Gaduh Lagi soal 'Sugar Rush', Benarkah Asupan Gula Bikin Anak Hiperaktif?"
