![]() |
| Foto: Shutterstock |
Istilah 'Superflu' atau influenza H3N2 varian Subclade K tengah menjadi sorotan setelah dilaporkan meledak di beberapa negara seperti Amerika Serikat dan Inggris. Banyak yang bertanya-tanya mengapa varian ini seolah begitu agresif dan cepat menulari banyak orang dalam waktu singkat.
Menanggapi fenomena tersebut, dokter spesialis paru dari RS Paru Persahabatan, Prof dr Agus Dwi Susanto, SpP(K), menjelaskan bahwa Subclade K sebenarnya merupakan mutasi dari virus yang sudah ada sebelumnya. Namun, mutasi ini memberikan karakteristik yang berbeda dari flu pada umumnya.
"Pada dasarnya influenza Subclade K ini masih jenis influenza musiman yaitu jenis Influenza A (H3N2), hanya mengalami mutasi sehingga memiliki bbrp sifat yg berbeda dengan influenza musiman pada umumnya," ujar Prof Agus.
Lebih lanjut, dia mengungkapkan bahwa kemampuan varian ini dalam menyebar secara luas dipengaruhi oleh faktor biologis virus yang jauh lebih agresif saat menginfeksi manusia. Varian influenza ini memiliki laju replikasi yang lebih cepat dalam saluran napas sehingga meningkatkan jumlah virus yang diproduksi.
Selain itu subclade K memiliki viral load yang lebih tinggi di saluran napas atas sehingga meningkatkan potensi penularannya.
"Mutasi subclade K membuatnya lebih resisten terhadap vaksin flu," tutur Prof Agus.
Di sisi lain, mengenai sebutan yang beredar di publik, ia menegaskan bahwa 'super flu' hanyalah istilah bahasa awam untuk menggambarkan tingkat keparahan gejala yang ditimbulkan.
"Istilah superflu sebenarnya bukan istilah medis, ini lebih ke arah istilah umum yang dipakai untuk flu yang agresif, mudah menyebar dan gejala yang lebih parah," tambahnya.
Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Dokter Paru Sebut 'Super Flu' Subclade K Lebih Mudah Menular, Ini Penyebabnya"
