![]() |
| Foto ilustrasi: Getty Images/iStockphoto/peakSTOCK |
Seorang wanita mengaku menyesal setelah menjalani operasi yang kerap disebut sebagai 'designer vagina'. Itu merupakan serangkaian prosedur bedah kosmetik atau ginekologi kosmetik yang bertujuan untuk mengubah penampilan atau fungsi area genital wanita, agar terlihat lebih 'rapi' dan estetis.
Wanita dengan nama samaran Riley Smith mengatakan bahwa sejak lama ia merasa tidak percaya diri dengan ukuran bibir vaginanya. Saat membicarakan kekhawatiran itu dengan teman-temannya, semakin mendorongnya untuk menjalani operasi.
Smith mengungkapkan para tenaga medis menyebut tindakan tersebut merupakan 'operasi yang sederhana'. Tetapi, Smith tidak pernah diberi penjelasan mengenai risiko yang mungkin terjadi.
Ia akhirnya menjalani labiaplasty pada usia 22 tahun. Labiaplasty merupakan prosedur bedah untuk mengurangi ukuran labia minora, yakni lipatan kulit yang mengelilingi uretra dan vagina.
Sebenarnya, Smith sudah ingin menjalani prosedur tersebut sejak berusia 14 tahun.
Komplikasi Pasca Operasi
Setelah operasi, Smith mengalami berbagai komplikasi. Ia menyebut bahwa dirinya merasa 'sangat lelah dan tidak nyaman'.
Bahkan, ia tidak bisa duduk langsung dalam waktu lama dan aktivitas seksual terasa menyakitkan, baik secara fisik dan mental.
Smith terus menghadapi berbagai masalah pasca jaringan diangkat, mulai dari iritasi, kekeringan, hingga infeksi berulang.
"Saya sangat sedih. Penetrasi tidak pernah menyakitkan sebelumnya. Saya merasa sangat marah kepada dokter bedah, sistem, dan diri saya sendiri karena membuat keputusan ini," beber Smith, dikutip dari People.
"Saya sangat marah bagaimana prosedur ini dipromosikan secara sembarangan sebagai meningkatkan kepercayaan diri seksual, peningkatan kebersihan, dan bahkan membuat pakaian dalam lebih nyaman secara fisik," tambahnya.
Cleveland Clinic menjelaskan labiaplasty bersama vaginoplasty merupakan prosedur untuk memperbaiki vagina akibat kerusakan karena kondisi medis, cedera, atau faktor lainnya. Itu termasuk operasi ginekologi yang popularitasnya meningkat dalam beberapa tahun terakhir.
"Wanita memilih operasi karena berbagai alasan, termasuk rasa sakit akibat terpelintir dan tertariknya labia saat bersepeda atau saat berhubungan seksual, gatal, iritasi, dan rasa tidak percaya diri," terang American Society of Plastic Surgeons.
Namun, prosedur tersebut juga memiliki risiko. Risikonya meliputi perdarahan, hematoma, dan infeksi, serta komplikasi yang paling umum, yakni reseksi berlebihan. National Institutes of Health (NIH) mendefinisikan kondisi ini sebagai terlalu banyak tulang, tulang rawan, atau jaringan yang diangkat.
Smith mengatakan bahwa seorang dokter telah membahas kemungkinan operasi rekonstruksi dengannya. Prosedur tersebut akan menggunakan teknik yang sama seperti yang diterapkan pada perempuan korban mutilasi genital perempuan atau female genital mutilation (FGM).
Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), prosedur FGM yang melibatkan pengangkatan sebagian atau seluruh genitalia eksternal perempuan, atau cedera lain pada organ genital perempuan karena alasan non-medis.
Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Curhat Wanita Nyesal Jalani Oplas Miss V, Efek Sampingnya Ngeri"
