Hagia Sophia

05 February 2026

Kenapa Orang Gemuk Sering Merasa Sehat?

Anggapan boleh gemuk asal sehat kerap menyesatkan. Foto: Getty Images/iStockphoto/Suphaporn

Banyak orang merasa tubuhnya tetap baik-baik saja meski berat badan berlebih. Tidak ada keluhan berarti, aktivitas sehari-hari berjalan normal, sehingga kondisi ini kerap dianggap bukan masalah. Padahal, kelebihan berat badan dapat berkaitan erat dengan gangguan metabolik yang berkembang perlahan, termasuk peningkatan gula darah yang sering luput disadari di tahap awal.

Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin mengingatkan, kondisi gemuk bukan sekadar soal penampilan.

"Gemuk itu masalah. Gemuk itu nanti akan menyebabkan tekanan darah tinggi, kolesterol tinggi, dan gula darah," ujarnya dalam Rapat Kerja bersama Komisi IX DPR RI, Senin (19/1/2026).

Ia juga menekankan bahwa banyak orang gemuk merasa sehat sehingga membiarkan kadar gula darah tidak terkontrol, padahal kondisi tersebut dapat memicu berbagai penyakit serius di kemudian hari.

Kenapa Orang Gemuk Sering Merasa Sehat?

Berat badan berlebih tidak selalu langsung menimbulkan keluhan yang terasa. Pada banyak orang, kenaikan berat badan terjadi perlahan sehingga tubuh seolah mampu "beradaptasi" tanpa gejala yang jelas. Kondisi inilah yang membuat orang gemuk kerap merasa tidak perlu memeriksakan diri. Padahal, perubahan metabolik bisa mulai terjadi secara diam-diam, termasuk gangguan pada pengaturan gula darah.

Menkes menegaskan bahwa kondisi ini tidak boleh dianggap sepele. Ia mengingatkan bahwa masalah gula darah kerap diabaikan karena tidak menimbulkan keluhan di awal.

"Ini gula, gula ini mother of all diseases. Didiemin kita ngerasa sehat, orang Indonesia suka gitu kan. Nggak diapa-apain, kena ginjal, kena mata, kena stroke, kena jantung, segala macam penyakit keluar," ujarnya. Situasi inilah yang membuat risiko diabetes dan komplikasinya sering baru terdeteksi ketika kondisi sudah berkembang lebih jauh.

Saat Berat Badan Berlebih Berkaitan dengan Gula Darah

Secara ilmiah, berat badan berlebih berperan penting dalam gangguan pengaturan gula darah melalui mekanisme yang disebut resistensi insulin. Pada kondisi gemuk atau obesitas, terutama jika lemak menumpuk di area perut, jaringan lemak tidak hanya berfungsi sebagai penyimpan energi, tetapi juga menghasilkan berbagai zat proinflamasi.

Zat-zat ini dapat mengganggu kerja insulin, yaitu hormon yang membantu sel tubuh menyerap gula dari darah. Ketika insulin tidak bekerja optimal, gula darah pun cenderung tetap tinggi meski hormon tersebut masih diproduksi tubuh. Kondisi ini bisa berlangsung tanpa gejala dalam waktu lama, sehingga pengidapnya kerap merasa sehat.

Untuk mengimbanginya, tubuh akan berusaha memproduksi insulin dalam jumlah lebih banyak. Namun jika mekanisme ini terjadi terus-menerus, sel penghasil insulin di pankreas dapat mengalami kelelahan. Inilah proses bertahap yang membuat orang dengan berat badan berlebih tampak baik-baik saja di awal, tetapi perlahan berisiko mengalami peningkatan gula darah hingga berkembang menjadi diabetes tipe 2.

Diabetes Bisa Datang Tanpa Gejala Jelas

Salah satu tantangan terbesar dalam diabetes adalah sifatnya yang sering berkembang tanpa keluhan berarti di tahap awal. Kadar gula darah dapat meningkat perlahan tanpa menimbulkan rasa sakit, pusing, atau gangguan aktivitas sehari-hari, sehingga banyak orang tetap merasa sehat.

Kondisi ini membuat diabetes kerap baru terdeteksi saat pemeriksaan kesehatan rutin atau ketika komplikasi mulai muncul, seperti gangguan penglihatan, masalah ginjal, atau keluhan jantung. Fenomena ini juga dijelaskan dalam artikel tinjauan di Indian Journal of Medical Research, yang menyebutkan bahwa diabetes tipe 2 memiliki fase laten atau asymptomatic, yakni ketika gangguan metabolik sudah berlangsung meski pengidapnya belum merasakan gejala jelas.

Karena tubuh masih mampu beradaptasi dalam periode tertentu, sinyal peringatan kerap tidak terasa. Inilah yang membuat diabetes sering disebut sebagai penyakit "diam-diam" dan menegaskan pentingnya pemeriksaan gula darah secara berkala, terutama bagi mereka dengan berat badan berlebih atau faktor risiko lainnya.

Kontrol Sejak Dini, Kunci Cegah Komplikasi Serius

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa pengendalian gula darah sejak dini berperan besar dalam menurunkan risiko komplikasi diabetes, seperti stroke, penyakit jantung, gangguan ginjal, hingga masalah penglihatan. Bahkan, studi besar Diabetes Control and Complications Trial (DCCT) menemukan bahwa kontrol gula darah yang lebih baik dapat menurunkan risiko komplikasi pada mata, ginjal, dan saraf hingga sekitar 60 persen.

Upaya ini tidak harus menunggu seseorang didiagnosis diabetes, tetapi dapat dimulai sejak muncul faktor risiko, termasuk berat badan berlebih. Sejalan dengan itu, Kementerian Kesehatan mendorong masyarakat untuk lebih aktif melakukan pencegahan melalui pemeriksaan kesehatan rutin, penerapan pola hidup sehat, aktivitas fisik teratur, serta pengaturan pola makan dengan membatasi asupan gula. Pemerintah juga menggalakkan program Cek Kesehatan Gratis (CKG) dan pendekatan perilaku sehat CERDIK, yang mencakup Cek kesehatan secara rutin, Enyahkan asap rokok, Rajin aktivitas fisik, Diet seimbang, Istirahat cukup, dan Kelola stres dengan baik, sebagai langkah deteksi dini dan pengendalian faktor risiko penyakit tidak menular, termasuk diabetes.

Selain pemeriksaan rutin dan aktivitas fisik, pengaturan pola makan juga menjadi bagian penting dalam menjaga gula darah tetap terkontrol. Bagi sebagian orang, memilih asupan dengan kandungan gula yang lebih terukur termasuk dari produk nutrisi yang dirancang untuk membantu pengelolaan gula darah dalam keseharian, terutama bagi mereka yang memiliki risiko diabetes atau sedang berupaya menjaga keseimbangan metabolik.

Diabetes memang sering tak terasa di awal, tetapi dampaknya bisa serius. Karena itu, pengendalian gula darah sejak dini menjadi kunci agar tubuh tetap sehat dan terhindar dari komplikasi di kemudian hari.

























Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Ancaman Komplikasi Diabetes di Balik Anggapan 'Boleh Gemuk Asal Sehat'"