Hagia Sophia

03 January 2026

Kasus 'Super Flu' di AS Terus Meningkat, Sampai Kapan Kasusnya Akan Mereda?

Foto ilustrasi: AP/Andres Kudacki

Kasus flu dengan penyebaran cepat yang dijuluki 'super flu' terus melonjak di Amerika Serikat. Rumah sakit dibanjiri pasien, angka rawat inap melonjak tajam, dan para dokter memperingatkan bahwa wabah ini belum mendekati puncaknya.

Data dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) AS menunjukkan aktivitas flu berada di level hingga sangat tinggi di 32 negara bagian dan wilayah per pekan yang berakhir 20 Desember 2025. Angka ini melonjak signifikan dibanding pekan sebelumnya yang mencatat 17 wilayah.

Sejak Oktober, sedikitnya 7,5 juta orang dilaporkan jatuh sakit.

Lonjakan paling mencolok terlihat pada angka rawat inap. Dalam satu minggu, jumlah pasien yang dirawat akibat flu nyaris dua kali lipat, dari 9.944 menjadi 19.053 orang.

Sekitar 3.100 kematian akibat flu tercatat musim ini, termasuk lima kematian pada anak, naik dari dua kasus pekan sebelumnya.

Dokter memperkirakan lonjakan belum akan mereda dalam waktu dekat. Kasus diprediksi melandai pada akhir Januari atau Februari 2026.

"Kurva kasusnya meningkat tajam dan belum menunjukkan tanda-tanda mencapai puncak," terang spesialis penyakit infeksi senior di Mass General Brigham, Boston, Dr Daniel Kuritzkes, dikutip dari NBC NEWS.

Menyebar Lebih Cepat dari Biasanya

Musim flu biasanya terjadi setiap Oktober hingga Mei. Tetapi, musim ini penyebaran virus terjadi lebih cepat dan lebih luas.

Negara bagian seperti California, Nevada, Missouri, Arkansas, Alabama, dan Florida kini masuk kategori aktivitas flu tinggi. Sementara itu, New York, New Jersey, South Carolina, Louisiana, dan Colorado berada di level sangat tinggi, menduduki posisi teratas dalam skala CDC.

Sejumlah rumah sakit melaporkan lonjakan pasien sejak akhir November 2025.

"Saya tidak ingat pernah melihat kasus flu datang sedini dan sebanyak ini," kata Dr Jennifer Goebel dari South Shore University Hospital, New York.

"Jumlahnya benar-benar luar biasa," sambungnya.

Anak Kecil hingga Lansia Paling Rentan

Bayi dan anak-anak hingga usia 4 tahun menjadi kelompok yang paling terdampak. Tetapi, seiring meningkatnya kasus, anak usia sekolah hingga dewasa muda juga mulai banyak yang terinfeksi.

Lansia dan orang dengan penyakit kronis menjadi kelompok yang paling berisiko mengalami kondisi berat hingga harus dirawat. Situasi semakin kompleks karena kasus flu bertumpuk dengan COVID-19 dan Respiratory Syncytial Virus (RSV), membuat ketersediaan tempat tidur rumah sakit semakin terbatas.

Meski menyerang semua usia, dokter mencatat sebagian besar pasien yang membutuhkan perawatan intensif adalah mereka yang belum di vaksin flu.

Apa Itu 'Super Flu'?

Strain yang mendominasi saat ini adalah Influenza A H3N2, khususnya varian bermutasi yang dikenal sebagai subklade K. Varian ini menyebar lebih cepat dan dikenal berpotensi menyebabkan gejala lebih berat, sehingga diduga menjadi pemicu lonjakan rawat inap.

Meski disebut 'super flu', Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menegaskan belum ada bukti bahwa varian ini menyebabkan penyakit yang lebih parah dibanding strain sebelumnya.

Gejala Masih Sama, Tapi Bisa Lebih Berat

Gejala flu yang muncul umumnya mirip dengan musim sebelumnya, seperti demam tinggi, menggigil, batuk, sesak napas, dan nyeri otot. Pada sebagian pasien juga muncul sakit kepala, kelelahan, hingga mual, muntah, dan diare.

Gejala berat lebih sering dialami orang yang belum divaksin, lansia, serta orang dengan penyakit penyerta. Dokter mengingatkan agar segera mencari pertolongan medis jika demam tinggi tidak turun atau muncul sesak napas.

Kapan Ini Berakhir dan Perlukah Vaksin?

Dokter menegaskan belum terlambat untuk mendapatkan vaksin flu. Meski vaksin tahun ini tidak sepenuhnya cocok dengan varian terbaru, vaksin tetap terbukti efektif mencegah gejala berat, rawat inap, dan kematian.

"Vaksin membantu tubuh memberikan perlindungan," tutur para dokter.

























Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Infeksi 'Super Flu' Terus Melonjak di AS, Kapan Kasusnya Bakal Mereda?"