![]() |
| Ilustrasi satelit yang mengorbit di very low earth orbit (VLEO). Foto: Jalopnik |
Very Low Earth Orbit (VLEO) diprediksikan akan semakin dilirik para perusahaan teknologi untuk mengoperasikan satelitnya, selain mengorbit di Low Earth Orbit (LEO), Medium Earth Orbit (MEO), maupun Geostasioner Earth Orbit (GEO). Apa itu VLEO?
Diketahui bahwa saat ini ada sekitar 15 ribu satelit yang mengelilingi Bumi. Kebanyakan dari mereka, seperti Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS), teleskop Hubble, berada di orbit Bumi rendah atau LEO yang ketinggiannya mencapai hingga 2.000 kilometer di atas permukaan daratan.
Namun, seiring semakin banyaknya satelit yang diluncurkan ke LEO, seperti konstelasi internet Starlink milik SpaceX saja pada akhirnya akan mengirimkan ribuan satelit lagi ke VLEO, di mana wilayah LEO ini menjadi agak padat .
Seperti dikutip dari Space, Senin (5/1/2026) LEO merupakan orbit super rendah yang disebut-sebut sebagai frontier berikutnya dalam teknologi satelit. orbit ini berada di ketinggian sekitar 100 hingga 400 kilometer dari permukaan Bumi.
Hal yang membuat VLEO ini akan semakin dilirik oleh perusahaan satelit, yaitu hal pertama akan membuat latensi lebih rendah. Semakin dekat satelit ke Bumi, semakin singkat jarak yang ditempuh sinyal. Ini berarti koneksi internet bisa lebih cepat dan responsif, faktor penting untuk layanan seperti panggilan video, game online, hingga aplikasi real-time.
Kedua, pengamatan Bumi jadi lebih tajam. Satelit VLEO bisa menghasilkan gambar resolusi tinggi untuk pemantauan cuaca, pertanian, perubahan iklim, hingga penanganan bencana.
Ketiga, daya pancar bisa lebih hemat. Karena jaraknya lebih dekat, satelit tidak perlu memancarkan sinyal sekuat satelit yang berada di orbit lebih tinggi.
Salah satu contoh paling populer dari tren ini adalah Starlink, layanan internet satelit milik SpaceX. Saat ini, perusahaan milik Elon Musk itu sudah dikenal mengoperasikan ribuan satelit di orbit rendah. Namun ke depan, SpaceX disebut tertarik untuk mengoperasikan satelit di ketinggian yang lebih rendah lagi, mendekati wilayah VLEO. Tujuannya jelas, untuk menekan latensi lebih jauh dan meningkatkan kualitas koneksi, terutama untuk wilayah terpencil.
Dengan orbit yang lebih rendah, waktu tempuh sinyal Starlink ke pengguna di Bumi bisa semakin singkat, mendekati pengalaman internet berbasis kabel fiber.
Meski terdengar menjanjikan, VLEO bukan tanpa tantangan. Di ketinggian tersebut, atmosfer Bumi belum sepenuhnya hilang. Gesekan udara bisa memperlambat satelit dan membuatnya cepat turun. Artinya, satelit VLEO membutuhkan sistem pendorong aktif agar tetap berada di orbit.
Belum lagi ancaman oksigen atomik, partikel agresif di ketinggian rendah yang dapat mengikis material satelit. Karena itu, pengembangan VLEO juga mendorong inovasi material baru dan teknologi propulsi yang lebih canggih.
Terlepas dari tantangannya, banyak ahli menilai VLEO sebagai langkah logis berikutnya dalam evolusi satelit. Dengan kebutuhan internet global yang terus meningkat, serta tuntutan data Bumi yang makin detail, orbit super rendah menawarkan kombinasi efisiensi dan performa.
Bagi perusahaan seperti Starlink, VLEO bisa menjadi cara untuk menghadirkan koneksi satelit yang makin mendekati kualitas jaringan darat.
Artikel ini telah tayang di inet.detik.com dengan judul "Mengenal VLEO, Orbit Super Rendah Bikin Internet Satelit Makin Ngebut"
