Hagia Sophia

08 January 2026

Tidak Hanya 'Super Flu', Penyakit Ini Juga Menghantui Warga AS

Foto: AP/Andres Kudacki

Amerika Serikat tak hanya dihantui kemunculan varian baru influenza A (H3N2) subclade K atau yang dikenal sebagai 'super flu' yang diduga memicu lonjakan kasus flu, tetapi juga meningkatnya kasus batuk rejan atau pertusis (whooping cough).

Batuk rejan, yang kerap dijuluki 'batuk 100 hari', disebabkan oleh infeksi pertusis. Menurut Centers for Disease Control and Prevention AS (CDC), penyakit ini biasanya diawali gejala mirip flu, seperti pilek, demam, atau batuk ringan.

Seiring waktu, gejala dapat berkembang menjadi serangan batuk hebat yang berlangsung selama berminggu-minggu hingga berbulan-bulan. Pada fase kedua penyakit, sebagian pengidap mengeluarkan suara khas 'whoop' saat menarik napas setelah batuk.

Infeksi ini berisiko menimbulkan penyakit berat bahkan kematian, terutama pada anak kecil. Sekitar 1 dari 3 bayi berusia di bawah 1 tahun yang terinfeksi batuk rejan membutuhkan perawatan di rumah sakit. Meski demikian, CDC menilai banyak kasus tidak terdeteksi dan tidak dilaporkan.

Sepanjang tahun ini, CDC melaporkan hampir 28.000 kasus batuk rejan di AS. Angka tersebut memang lebih rendah dibanding puncak tahun lalu, yang mencapai 35.493 kasus, namun jauh lebih tinggi dibanding 2023 yang hanya mencatat 7.063 kasus. Sebelumnya, jumlah kasus setinggi ini terakhir terjadi pada 2014, dengan 32.971 kasus.

Menurut Pan American Health Organization, sepanjang tahun ini tercatat 13 kematian akibat pertusis di AS, sebagian besar pada anak di bawah usia 1 tahun.

Kenaikan kasus batuk rejan tidak hanya terjadi di AS. Organisasi tersebut, yang merupakan kantor regional World Health Organization (WHO) untuk kawasan Amerika, mencatat 977.000 kasus pertusis dilaporkan ke WHO sepanjang tahun lalu, meningkat lima kali lipat dibandingkan tahun 2023.

Scott Roberts, wakil direktur medis pencegahan infeksi di Yale School of Medicine, menilai lonjakan kasus di AS dipicu oleh turunnya angka vaksinasi, serta hilangnya kekebalan kelompok selama pandemi COVID-19, di antara faktor lainnya.

"Saya khawatir keraguan terhadap vaksin ikut berperan. Ini penyakit yang sebenarnya bisa dicegah dengan vaksin, dan setiap penurunan cakupan vaksinasi akan berdampak pada meningkatnya kasus pertusis," ujarnya.

"Tahun lalu, kami mengalami banyak wabah di lingkungan kampus. Yang terjadi, banyak orang sudah menerima rangkaian vaksinasi masa kanak-kanak, tetapi tidak melanjutkan dengan vaksin penguat," ujarnya.

























Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Nggak Cuma 'Super Flu'! AS Juga Dihantui Penyakit Ini, Hampir 28 Ribu Kasus di 2025"