Hagia Sophia

18 February 2026

Terungkap Lewat Studi: Efek Menguap pada Otak Manusia

Ilustrasi. (Foto: ilustrasi/thinkstock)

Sebuah studi terbaru mengungkap perubahan menarik yang terjadi pada otak saat seseorang menguap. Temuan ini diperoleh setelah para peneliti melakukan pemindaian MRI untuk mengamati secara langsung apa yang terjadi di dalam kepala ketika aktivitas sederhana tersebut berlangsung.

Peneliti dari University of New South Wales, Australia, melakukan pemindaian MRI pada kepala dan leher 22 orang dewasa sehat. Selama proses pemindaian, para partisipan diminta melakukan beberapa aktivitas, seperti menguap dan menarik napas dalam-dalam.

Hasilnya cukup mengejutkan. Para peneliti menemukan bahwa respons otak saat menguap berbeda dari perkiraan sebelumnya dan tidak sepenuhnya sesuai dengan hipotesis awal mereka.

Mengapa Manusia Menguap?

Terdapat beberapa teori yang mencoba menjelaskan alasan manusia menguap. Salah satunya menyebut menguap berfungsi untuk 'membangunkan' otak. Rasa lelah dan bosan juga diketahui dapat memicu respons ini.

"Kebosanan terjadi saat sumber utama stimulasi di lingkungan Anda tidak lagi mampu mempertahankan perhatian Anda. Ini memicu rasa kantuk dengan merangsang sistem sinyal tidur tubuh Anda," tulis para peneliti, dikutip dari Unilad.

Selain itu, para ilmuwan juga menduga menguap merupakan mekanisme tidak disengaja untuk membantu mendinginkan otak. Masuknya udara saat menguap diyakini dapat mempengaruhi aliran darah.

Tidak hanya faktor biologis, ada pula dugaan faktor sosial. Hipotesis komunikasi menyebut bahwa menguap bisa menjadi cara untuk berhubungan dengan orang lain atau mengkomunikasikan rasa bosan.

Bagaimana Hasil Pemindaian MRI?

Setelah menganalisis hasil pemindaian, tim peneliti menemukan bahwa meskipun awalnya mereka memperkirakan menguap dan menarik napas dalam-dalam akan menunjukkan pola yang serupa, ternyata terdapat perbedaan yang signifikan.

Saat seseorang menguap, cairan serebrospinal (CSF) justru bergerak menjauh dari otak. Fenomena ini tidak ditemukan ketika seseorang hanya menarik napas dalam-dalam.

"Menguap memicu pergerakan CSF ke arah yang berlawanan daripada saat menarik napas dalam-dalam," kata ahli saraf Adam Martinac.

"Dan kami hanya duduk di sana seperti, wow kami benar-benar tidak mengharapkan itu," tambahnya.

Cairan serebrospinal (CSF) merupakan cairan bening yang berfungsi melindungi serta menutrisi otak dan sumsum tulang belakang.

Apa Peran Menguap Lebih Besar dari Dugaan?
Salah satu teori menyatakan bahwa menguap mungkin memiliki peran yang lebih besar dalam fungsi otak daripada yang selama ini diperkirakan. Temuan ini sekaligus memperkuat dugaan bahwa menguap kontribusi dalam proses pendinginan otak.

Meski begitu, studi ini juga menemukan adanya kesamaan antara menguap dan menarik napas dalam-dalam. Keduanya sama-sama meningkatkan aliran darah yang keluar dari otak. Menariknya, setiap partisipan memiliki pola menguap yang unik.

"Fleksibilitas ini mungkin menjelaskan variasi pola menguap antar peserta sambil tetap mempertahankan pola yang dapat dikenali dan spesifik untuk setiap individu," beber peneliti.

"Dan menyiratkan bahwa pola menguap bukanlah sesuatu yang dipelajari, tetapi merupakan aspek bawaan dari pemrograman neurologis," pungkasnya.























Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Terungkap Lewat Studi, Ternyata Begini Efek Menguap pada Otak Manusia"