Hagia Sophia

09 February 2026

Terkait Skandal Epstein, Benarkah Pandemi Sudah Direncanakan?

Rumor bahwa pandemi yang direncanakan mencuat lagi gara-gara skandal Epstein. Foto: Getty Images/iStockphoto/oonal

Isu soal pandemi yang disebut-sebut "direncanakan" kembali ramai setelah beredarnya dokumen lama yang mengaitkan nama Bill Gates dan Jeffrey Epstein, termasuk penyebutan istilah simulasi pandemi. Narasi tersebut cepat menyebar di media sosial dan memicu kembali teori konspirasi terkait wabah global. Padahal, dalam dunia kesehatan masyarakat, simulasi wabah merupakan praktik lazim untuk kesiapsiagaan, sementara dokumen sensasional yang beredar tidak otomatis dapat dijadikan bukti adanya perencanaan pandemi nyata.

Lantas, apa sebenarnya yang dimaksud dengan simulasi wabah dalam dunia kesehatan?

Simulasi pandemi merupakan latihan kesiapsiagaan yang lazim dilakukan, bukan bukti perencanaan wabah nyata. Dalam dunia kesehatan masyarakat, simulasi pandemi adalah latihan kesiapsiagaan untuk menguji seberapa siap suatu negara, sistem kesehatan, atau lembaga dalam menghadapi kemungkinan terburuk jika terjadi wabah penyakit menular. Simulasi ini dilakukan dengan skenario hipotesis, misalnya munculnya virus baru yang mudah menular, lonjakan pasien secara tiba-tiba, hingga keterbatasan alat kesehatan dan tenaga medis.

Latihan semacam ini lazim dilakukan oleh pemerintah, lembaga riset, rumah sakit, hingga organisasi kesehatan internasional seperti World Health Organization dan The US Centers for Disease Control and Prevention. Tujuannya bukan untuk "menciptakan" wabah, melainkan untuk mengidentifikasi celah sistem, memperbaiki alur komunikasi, serta memastikan respons medis dan kebijakan dapat berjalan cepat dan terkoordinasi saat krisis nyata terjadi.

Dalam simulasi pandemi, tidak ada virus sungguhan yang dilepaskan, tidak ada eksperimen terhadap manusia, dan tidak ada agenda tersembunyi. Yang diuji justru aspek non-medis, seperti kecepatan pelaporan kasus, kapasitas rumah sakit, kesiapan logistik, hingga strategi komunikasi risiko kepada masyarakat. Hasil simulasi kemudian digunakan sebagai bahan evaluasi agar kesalahan serupa tidak terulang saat wabah nyata benar-benar terjadi.

Praktik ini sejatinya serupa dengan simulasi bencana alam, seperti gempa atau tsunami, yang rutin dilakukan di berbagai negara. Fakta bahwa simulasi pandemi dilakukan sebelum munculnya wabah nyata tidak berarti wabah tersebut telah direncanakan. Sebaliknya, simulasi justru menjadi bagian dari upaya pencegahan dan perlindungan kesehatan publik, terutama di era globalisasi ketika penyakit menular dapat menyebar lintas negara dalam waktu singkat.

Karena itu, penyebutan istilah simulasi pandemi dalam dokumen atau diskusi lama perlu dipahami dalam konteks kesiapsiagaan kesehatan, bukan ditarik sebagai bukti adanya rencana tersembunyi untuk menciptakan wabah.

Dokumen EFTA02657725.pdf yang Sering Disalahartikan

Dokumen EFTA02657725.pdf yang dirilis oleh United States Department of Justice kerap diklaim sebagai bukti adanya pembahasan simulasi pandemi COVID-19 sebelum wabah terjadi. Namun setelah dibaca utuh, dokumen tersebut bukan laporan kesehatan, bukan dokumen kebijakan, dan bukan rencana wabah. Isinya merupakan email internal tertanggal 3 Maret 2017 yang membahas usulan ruang lingkup pekerjaan (deliverables and scope) dalam konteks kerja profesional di sebuah entitas swasta.

Di dalam email tersebut, penulis mengusulkan sejumlah topik kajian, mulai dari sistem perlindungan data kesehatan, pengeluaran kesehatan konsumen di Amerika Serikat, neuroteknologi untuk penyakit kronis, hingga isu neuroteknologi dalam pertahanan nasional. Salah satu poin yang kemudian disorot publik adalah frasa "follow-up recommendations and/or technical specifications for strain pandemic simulation", yang kerap ditafsirkan sebagai bukti perencanaan pandemi.

Padahal, istilah strain pandemic simulation dalam konteks kesehatan masyarakat merujuk pada simulasi atau kajian skenario pandemi berbasis varian penyakit yang bersifat hipotesis, sebagaimana lazim digunakan dalam latihan kesiapsiagaan.

Istilah ini tidak mengacu pada COVID-19, tidak menyebut virus tertentu, dan tidak menunjukkan adanya rencana penyebaran wabah nyata. Dalam dokumen tersebut, frasa ini juga hanya muncul sebagai usulan kajian lanjutan, sejajar dengan topik white paper dan rekomendasi teknis lainnya, bukan sebagai program aktif atau kebijakan operasional.

Karena itu, menjadikan dokumen EFTA02657725.pdf sebagai bukti bahwa pandemi COVID-19 telah direncanakan sebelumnya dinilai tidak tepat. Kesalahan tafsir muncul akibat penarikan istilah teknis dari email lama tanpa konteks waktu dan fungsi aslinya, sehingga memicu salah tafsir di ruang publik.

























Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Mencuat Lagi gegara Skandal Epstein, Benarkah Pandemi Sudah Direncanakan?"