Hagia Sophia

22 August 2022

Mana yang Lebih Berbahaya, Cacar Monyet atau COVID-19?

detikcom

Belum kelar dengan pandemi COVID-19, kini virus cacar monyet juga disorot dunia lantaran kasusnya meningkat signifikan. Bahkan sudah ditemukan satu kasus di Indonesia, yaitu pasien berusia 27 tahun yang melakukan perjalanan luar negeri. Lantas, antara COVID-19 dan cacar monyet, mana yang lebih berbahaya?

Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin menjelaskan, kasus cacar monyet di dunia saat ini mencapai 35 ribu kasus, tentunya lebih sedikit dibandingkan kasus COVID-19 yang mencapai jutaan orang dalam waktu yang sama. Hal tersebut dikarenakan penularan cacar monyet lebih sulit dibandingkan COVID-19.

Adapun penularan cacar monyet terjadi pada saat sudah bergejala, seperti mengalami bintik atau ruam terlebih dahulu dan harus kontak langsung. Sedangkan COVID-19, seseorang yang belum bergejala pun sudah bisa menularkan ke orang lain. Itu sebabnya COVID-19 lebih berbahaya dibandingkan cacar monyet lantaran penularannya lebih cepat.

"Cacar monyet di Indonesia sudah ketemu satu dan konfirm itu positif. Cacar monyet ini sudah terjadi di dunia 35 ribu kasus yang teridentifikasi pada masa yang sama. COVID-19 sudah jutaan dalam waktu yang sama. Karena penularannya dia (cacar monyet) jauh lebih sulit dibandingkan COVID-19," tuturnya saat konferensi pers, Senin (22/8/2022).

"Penularannya dia itu terjadi pada saat sudah bergejala. Berbeda dengan COVID-19, jadi COVID itu belum bergejala itu sudah bisa menular. Itu sebabnya COVID-19 cepat penularannya karena orang nggak tahu dia sakit, kita dekat-dekat sama dia, tahu-tahu kita ketularan," sambungnya lagi.

Selain penularan, fatalitas dari penyakit cacar monyet lebih rendah dibandingkan COVID-19. Berdasarkan data dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Budi menyebut dari 35 ribu orang yang terinfeksi hanya 12 orang yang meninggal dunia.

Adapun kasus meninggal tersebut kemungkinan disebabkan oleh virus yang masuk ke dalam tubuh, sehingga menyebabkan infeksi pada paru-paru hingga otak.

"Fatalitasnya sangat rendah. Dari 35 ribu yang ada di WHO, meninggal teridentifikasi 12 orang. Meninggalnya bukan karena virusnya karena di kulit ini tidak bisa meninggal. Meninggalnya biasanya karena secondary infection," ucap Budi.

"Jadi udah infeksi di kulit, kemudian garuk-garuk infeksinya masuk kemudian kena infeksi bakteri di paru. Biasanya meninggalnya karena pneumonia atau infeksi masuk ke meningitis di otak oleh bakteri. Tapi bukan meninggalnya gara-gara infeksi virusnya di kulit," sambungnya lagi.
























Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Cacar Monyet Vs COVID-19, Mana yang Lebih Berbahaya?"