Hagia Sophia

21 January 2026

Riset: Nyamuk Lebih Suka Darah Manusia daripada Hewan

Ilustrasi (Foto: Getty Images/iStockphoto/auimeesri)

Nyamuk adalah serangga yang memakan apa saja. Mulai dari nektar tumbuhan, hingga darah ayam, tikus, buaya, katak, dan tentu saja darah manusia. Namun, sebuah studi baru menemukan ketika manusia semakin masuk dan mengganggu wilayah liar, nyamuk bisa 'menempatkan selera khusus' untuk darah manusia dibanding sumber makanan lainnya.

Peneliti di Brasil menganalisis sampel darah dari nyamuk yang dikumpulkan di cagar alam di Hutan Atlantik (Atlantic Forest), wilayah Brasil yang sudah mengalami deforestasi parah.

"Beberapa spesies yang diteliti menunjukkan preferensi yang jelas untuk mengisap darah manusia," kata Jeronimo Alencar, ahli biologi dari Oswaldo Cruz Institute di Brasil sekaligus penulis studi tersebut, dalam pernyataan resminya.

Temuan ini sejalan dengan bukti-bukti sebelumnya bahwa deforestasi membuat manusia lebih sering bersentuhan dengan makhluk pembawa penyakit berbahaya.

Nyamuk diketahui dapat menularkan Zika, demam berdarah dengue, malaria, hingga ensefalitis (radang otak), sejumlah penyakit yang dapat berdampak serius pada kesehatan dan bahkan mematikan. Adapun hasil penelitian ini dipublikasikan dalam jurnal Frontiers in Ecology and Evolution.

Menurut para peneliti, Hutan Atlantik menjadi habitat sekitar 270 spesies mamalia, 850 jenis burung, serta sekitar 570 reptil dan amfibi. Dahulu, kawasan hutan ini membentang hingga 1,3 juta kilometer persegi di Brasil, lebih luas dari gabungan Texas dan California. Namun kini luasnya menyusut menjadi kurang dari sepertiga akibat pengembangan pertanian dan permukiman.

Meski begitu, studi ini memiliki beberapa keterbatasan. Salah satunya, analisis hanya dilakukan pada darah dari 145 nyamuk betina, dan tidak semua sampel berhasil diidentifikasi. Karena itu, masih belum jelas sejauh mana hasil ini bisa digeneralisasi. Selain itu, belum diketahui bagaimana preferensi nyamuk berubah sejak Hutan Atlantik masih utuh.

Namun, penelitian ini tetap dapat membantu ilmuwan memahami hubungan yang kompleks antara deforestasi dan penyakit. Manusia menghilangkan sekitar 10 juta hektare hutan setiap tahun.

"Deforestasi mengurangi keanekaragaman hayati lokal, sehingga nyamuk, termasuk yang menjadi vektor agen patogen, menyebar dan mencari sumber makanan alternatif," tulis penulis studi. Dan sumber itu, ternyata, bisa jadi adalah manusia.

























Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Terungkap Lewat Studi, Nyamuk Terbukti Lebih Suka Darah Manusia daripada Hewan"