Hagia Sophia

21 January 2026

Ini Kata Menkes Terkait Maraknya Komunitas Pejalan Kaki

Menkes RI Budi Gunadi Sadikin (Foto: Nafilah Sri Sagita/detikhealth)

Tren olahraga jalan kaki belakangan kian marak, terutama di kalangan anak muda. Media sosial dipenuhi konten jalan santai menyusuri gang-gang kecil hingga kawasan 'hidden gems' yang jarang terjamah kendaraan bermotor.

Fenomena ini dinilai sebagai alternatif olahraga yang lebih ringan di tengah citra olahraga lari yang kini terlalu kompetitif.

Menanggapi hal tersebut, Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin menyambut positif tren jalan kaki yang mulai digemari masyarakat. Menurutnya, yang terpenting adalah tetap aktif bergerak.

"Bagus dong. Yang penting aktif. Mau olahraga apa pun, lari, jalan kaki, padel, yang penting sesuai anjuran WHO, aktivitas fisik minimal 30 menit sehari," beber Budi saat ditemui detikcom Senin (19/1/2026).

Ia menegaskan, aktivitas fisik tidak harus selalu berat atau kompetitif. Selama tubuh bergerak secara rutin, manfaat kesehatan tetap bisa dirasakan, baik untuk kebugaran fisik maupun kesehatan mental.

Belakangan ini, lari dinilai terasa terlalu kompetitif lantaran tidak sedikit dari mereka adu target pace, podium lomba, personal best (PB), hingga ajang konten media sosial.

Kondisi inilah yang mendorong munculnya komunitas jalan kaki sebagai alternatif lebih santai dan inklusif. Salah satunya dirasakan Mahesa (28), seorang walking enthusiast di Malang yang sejak 2023 rutin mengikuti kegiatan komunitas jalan kaki bernama Uklamtahes.

"Sekarang kan banyak komunitas lari, komunitas sepeda juga. Mereka bisa dibilang cukup kompetitif. Nah dengan adanya komunitas jalan kaki ini, kita bisa olahraga yang lebih santai," ujar Mahesa saat dihubungi, Sabtu (17/1/2026).

Menurutnya, jalan kaki tidak membutuhkan usaha fisik seberat lari. Aktivitasnya pun lebih fleksibel dan bisa dilakukan siapa saja.

"Karena ini jalan, masuk-masuk gang. Jadi nggak terlalu butuh effort besar. Kalau lari kan butuh tenaga yang keras banget," lanjutnya.

Mahesa menuturkan, komunitas yang diikutinya biasanya menggelar agenda 'jalan kaki blusukan' dua hingga tiga kali dalam sebulan. Selain itu, ia juga mulai membiasakan diri berjalan kaki untuk aktivitas harian jarak dekat.

"Kalau mau ngopi misalnya jaraknya satu kilometer, sekarang lebih milih jalan kaki daripada naik motor," katanya.

Tak hanya menyehatkan, jalan kaki bersama komunitas juga dinilai lebih menyenangkan karena membuka kesempatan untuk bersosialisasi dan menjelajahi tempat-tempat baru.

"Bisa ketemu orang-orang baru, terus nemu tempat-tempat yang sebelumnya nggak kepikiran buat didatangi," kata dia.

























Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Kata Menkes soal Marak Komunitas Jalan Kaki, Alternatif Lari yang Terlalu Kompetitif"