Hagia Sophia

17 February 2026

Ambisi China Dibalik Pembangunan Tembok Hijau Raksasa

Foto: Desertification

Tembok Hijau Raksasa (Great Green Wall) China adalah proyek rekayasa ekologi masif yang bertujuan memperlambat meluasnya gurun Gobi dan Taklamakan di bagian utara negara tersebut.

Sejak 1978, China menanam lebih dari 66 miliar pohon di sepanjang perbatasannya dengan Mongolia, Kazakhstan, dan Kyrgyzstan. Pihak berwenang China berencana menanam 34 miliar pohon lagi selama 25 tahun ke depan. Jika berhasil, Tembok Hijau Raksasa ini akan meningkatkan tutupan hutan Bumi sebesar 10% sejak akhir 1970-an.

Tembok Hijau Raksasa atau Program Hutan Lindung Tiga Utara, dirancang memperlambat erosi tanah dan pengendapan pasir yang terus meningkat sejak 1950-an akibat urbanisasi dan perluasan pertanian. Perubahan ini memperburuk kondisinya yang memang sudah kering dan memicu badai pasir lebih sering. Badai pasir menerbangkan lapisan tanah paling atas dan mengendapkan pasir, sehingga mendegradasi lahan serta meningkatkan polusi di kota-kota.

China bagian utara sudah kering sebelum ledakan urbanisasi tahun 1950-an, karena pegunungan Himalaya menciptakan "bayangan hujan" di atas perbatasan negara tersebut dengan Mongolia yang membatasi curah hujan. Inilah mengapa gurun Gobi dan Taklamakan begitu luas. Jika digabungkan, keduanya mencakup wilayah seluas 1,6 juta kilometer persegi.

Terlepas dari upaya China selama lima dekade terakhir, Gobi dan Taklamakan masih meluas. Gurun Gobi misalnya, menelan sekitar 3.600 kilometer persegi padang rumput China setiap tahunnya. Desertifikasi (penggurunan) ini merusak ekosistem dan lahan pertanian, tetapi juga memperburuk polusi di kota-kota seperti Beijing.

Tahun lalu, perwakilan pemerintah mengumumkan China selesai mengepung Taklamakan dengan vegetasi, yang membantu menstabilkan bukit pasir dan menumbuhkan tutupan hutan dari sekitar 10% wilayah China pada tahun 1949 jadi lebih dari 25% saat ini. Penanaman pohon akan terus berlanjut di sekitar Taklamakan untuk memelihara dan memperluas hutan.

Jika semuanya berjalan sesuai rencana, Tembok Hijau Raksasa ini akan membentang sepanjang 4.500 kilometer pada tahun 2050. "Tembok" ini adalah hutan hasil penanaman terbesar di dunia, namun masih belum jelas seberapa efektifnya dalam memperlambat desertifikasi.

Sementara beberapa penelitian menunjukkan bahwa Tembok Hijau Raksasa telah mengurangi frekuensi badai pasir, penelitian lain berpendapat bahwa penurunan ini sebagian besar disebabkan oleh faktor iklim.

Kritikus mengatakan tingkat kelangsungan hidup pohon dan semak yang ditanam terlalu rendah. Hal ini mungkin karena sebagian besar wilayah tembok tersebut hanya terdiri dari satu atau dua spesies pohon, kebanyakan poplar dan willow, membuatnya rentan penyakit. Contohnya tahun 2000, 1 miliar pohon poplar mati akibat satu jenis patogen di provinsi Ningxia.

Kematian pohon juga tinggi karena China menanam pohon di tempat-tempat yang tidak memiliki cukup air untuk pertumbuhan. Tanpa campur tangan manusia yang terus-menerus, banyak pohon tidak dapat bertahan hidup.

"Orang-orang berbondong-bondong ke bukit pasir alami dan Gobi untuk menanam pohon, menyebabkan penurunan cepat pada kelembapan tanah dan permukaan air tanah," kata Xian Xue, pakar terkemuka tentang desertifikasi akibat erosi di Chinese Academy of Sciences yang dikutip detikINET dari Live Science.

Karena bersifat monokultur, Tembok Hijau Raksasa juga tidak mendukung keanekaragaman hayati. Meski demikian, program ini menginspirasi Tembok Hijau Raksasa Afrika, yang akan menjadi sabuk pepohonan sepanjang 8.000 km untuk memperlambat degradasi lahan dan desertifikasi.

























Artikel ini telah tayang di inet.detik.com dengan judul "Sisi Gelap di Balik Ambisi China Buat Tembok Hijau Raksasa"