![]() |
| PR besar penanganan kanker anak di Indonesia. Foto: Getty Images/iStockphoto/5./15 WEST |
Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) berbicara soal tantangan penanganan kanker di Indonesia. Salah satunya adalah temuan kasus kanker anak yang masih rendah.
Ketua Unit Kerja Koordinasi (UKK) Hemato Onkologi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), dr Eddy Supriyadi, SpA, SubspHOnk(K), PhD menjelaskan dari 11-12 ribu kasus kanker anak baru tiap tahun di Indonesia, yang ditemukan bisa kurang dari separuhnya atau sekitar 4 ribu - 4.500 kasus.
Mengapa hal ini bisa menjadi tantangan besar? Pertama, menurut dr Eddy kebutuhan dokter untuk kanker anak masih belum cukup. Terlebih, distribusi dokter kanker anak juga masih belum baik.
"SDM kita memang kurang dibanding dengan jumlah penduduk. Kedua, sudah kurang, distribusinya juga tidak merata, hanya terpusat pada sentral-sentral di pulau Jawa," cerita dr Eddy ketika dihubungi detikcom beberapa waktu lalu.
Kemudian ada beberapa faktor pendukung lain yang harus dipenuhi agar penanganan kanker anak berjalan lebih baik. Misalnya, pada pemenuhan fasilitas transfusi darah, dokter multidisiplin di sebuah fasilitas kesehatan, ahli Pediatric Intensive Care Unit (PICU), ahli infeksi anak, dan lain-lain.
Kemudian, dr Eddy juga menyebut diperlukan standarisasi formal penanganan kanker anak yang lebih matang di Indonesia. Dengan begitu, kanker anak bisa ditangani dengan baik.
"Mengelola kanker anak itu tidak hanya menyediakan sumber daya dan obatnya saja, kita juga harus memikirkan tempat perawatan, itu harus khusus, untuk anak itu secara fisik dan psikologis kan," sambungnya.
Ira Soelistyo, Pendiri dan Ketua YKAKI (Yayasan Kasih Anak Kanker Indonesia) menambahkan salah satu peran penting yang dibutuhkan adalah perawat onkologi anak. Menurutnya, jumlah perawat onkologi anak masih sangat kurang.
"Sangat disayangkan bila dokternya sudah canggih tetapi perawatnya masih perawat umum, jadi sering nggak nyambung dalam menangani pasien anak kanker, ini juga menjadi concern kami sebagai organisasi orang tua pengidap," ujar Ira.
Dokter anak subspesialis hemato-onkologi dr Stefanus Gunawan, SpA SubspHO berbicara soal penanganan kanker anak di luar Jawa-Bali. Pada saat ini, dr Stefanus menjalani praktik penanganan kanker anak di RSUP Prof Dr RD Kandou, Manado, Sulawesi Utara.
Ia mengungkapkan secara umum pelayanan kanker anak di luar Jawa-Bali, masih memiliki banyak keterbatasan. Beberapa di antaranya seperti fasilitas yang terbatas hingga subspesialis yang belum merata.
Hal ini membuat sebagian dari kasus kanker anak di daerah kecil harus dirujuk ke pulau Jawa.
"Sebagai contoh, di Manado itu cuma ada dua (dokter hemato onkologi anak). Sebenarnya tiga, tapi satu baru lulus, dan satu purna bakti, jadi tinggal dua. Di seluruh Sulawesi ada dua di Manado dan dua di Makassar," cerita dr Stefanus.
Kondisi ini membuat risiko keterlambatan penanganan kanker anak menjadi lebih besar, padahal pasien memerlukan penanganan secepatnya untuk meningkatkan angka kesembuhan.
Kendala lain di daerah yang ditemukan adalah penerimaan orang tua terkait diagnosis yang rendah. Sebagian orang tua merasa 'tidak terima' dengan diagnosis tersebut, hingga menolak perawatan dari dokter dan sebagian memilih alternatif.
Ia berharap nantinya fasilitas pendukung penanganan kanker anak bisa terus ditingkatkan. Termasuk bagaimana pemerataan tenaga medis di daerah luar Jawa-Bali. Ia juga mengingatkan pentingnya kesejahteraan tenaga kesehatan.
"Dokter itu juga manusia, dokter juga punya rumah tangga yang harus dihidupi. Kalau cuma dokternya disuruh ke sana kemari ke pelosok, tapi tidak ditunjang fasilitasnya maupun untuk penghidupannya juga berat buat dokternya," tambahnya.
Direktur Medik dan Keperawatan RS Kanker Dharmais, dr Reni Wigati, SpA mengungkapkan penanganan kanker anak harus dilakukan secara komprehensif dan multi disiplin. Tiap jenis kanker anak memiliki karakteristik dan kebutuhan terapi yang berbeda.
Ia memastikan tatalaksana multidisiplin yang diterapkan di RS Kanker Dharmais akan berjalan dengan baik. dr Reni mengungkapkan pasien harus menjadi prioritas utama dalam penanganan kanker anak.
"Prinsip utama kami adalah memberikan terapi yang efektif namun tetap memperhatikan kualitas hidup anak," ujar dr Reni pada detikcom.
Untuk meningkatkan layanan, pihak RS Kanker Dharmais terus melakukan pelatihan internal untuk tenaga kesehatan. Penelitian ke pusat pelayanan kanker di luar negeri juga terus dilakukan.
Kemudian RS Kanker Dharmais juga terus meningkatkan edukasi pada masyarakat soal kesadaran kanker anak. Dengan begini, deteksi kanker anak bisa lebih baik.
Komitmen Kemenkes untuk Mengatasi Kanker Anak
Direktur Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI, Siti Nadia Tarmizi mengungkapkan pada saat ini pihaknya akan berfokus pada penerapan Rencana Aksi Nasional (RAN) kanker anak 2025-2029. Diharapkan target penurunan kesembuhan kanker anak nantinya bisa dikejar melalui program tersebut.
"Melaksanakan sesuai dengan apa yang sudah direncanakan karena dalam RAN sudah diidentifikasi upaya-upaya yang dilakukan termasuk percepatan bila memungkinkan," ungkap Nadia beberapa waktu lalu pada detikcom.
Dalam kesempatan terpisah, Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik Kemenkes, Aji Muhawarman mengungkapkan sederet strategi yang disiapkan Kemenkes untuk mengatasi masalah kanker anak.
Misalnya, dengan meningkatkan promosi kesehatan terkait kanker anak, melakukan penunjukkan 15 rumah sakit tingkat paripurna untuk rujukan kanker anak, hingga pelatihan dan edukasi berkelanjutan oleh rumah sakit pengampu.
"Pembentukan tim multidisiplin, kerjasama kolaborasi bilateral, perbaikan. Fasilitasi kanker anak di gedung khusus ibu dan anak, penyusunan standar paliatif di layanan rujukan," kata Aji pada detikcom.
Berkaitan dengan ketersediaan obat, Aji mengaku pihaknya akan terus melakukan kerjasama dengan industri obat. Selain itu, Kemenkes juga bakal memantau ketersediaan obat dengan sistem online serta memastikan perencanaan obat di rumah sakit secara akurat.
"Rumah sakit rujukan nasional sudah mulai berkoordinasi dengan rumah sakit lain di berbagai wilayah sebagai bagian dari implementasi. Koordinasi dengan organisasi profesi dokter dan perawat sudah diinisiasi dalam struktur dokter sebagai pemangku kepentingan utama dalam penguatan layanan dan persatuan perawat dalam upaya dukungan di unit layanan kesehatan," tandasnya.
Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "PR Besar Penanganan Kanker Anak di Indonesia, Kebutuhan SDM hingga Fasilitas"
