Hagia Sophia

17 February 2026

Kanker Mata Anak Bisa Disembuhkan

Retinoblastoma. Foto: Getty Images/iStockphoto/PabloUA

Retinoblastoma atau kanker mata merupakan salah satu jenis kanker anak terbanyak di Indonesia. Menurut data Indonesian Pediatric Cancer Registry (IPCAR), retinoblastoma menjadi jenis kanker terbanyak pada anak setelah leukemia dengan cakupan 6,45 persen.

Spesialis mata Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) Kencana Jakarta Prof dr Rita Sita Sitorus, SpM, SubspPOS, PhD mengungkapkan kanker mata retinoblastoma bisa disembuhkan. Salah satu faktor pentingnya adalah pendeteksian lebih dini.

Semakin cepat kanker mata ditemukan, maka peluang kesembuhan akan semakin besar. Jika terlambat dan tumor sudah menyebar, ini bisa sangat berbahaya untuk keselamatan nyawanya karena bisa mengakibatkan kematian.

"Di Indonesia, angka kematian anak karena retinoblastoma masih tinggi, bahkan dibandingkan dengan negara tetangga di Asia. Deteksi dininya itu masih cukup rendah, tumor ditemukan pada stadium advance. Kalau sudah pada stadium lanjut, maka angka kematiannya makin tinggi," ungkap Prof Rita pada detikcom belum lama ini.

"Kedua, kalau deteksi dininya berjalan baik, tapi ketika diputuskan sang dokter bahwa mata anak harus diangkat karena tumor di dalam bola mata sudah terlalu besar, orang tuanya menolak. Di Indonesia angka penolakan pengobatan oleh dokter itu tinggi. Orang tua biasanya pergi dulu mencari pengobatan alternatif, ke pengobatan tradisional, dukun, orang pintar dan lain-lainnya, dan ketika sudah makin besar tumornya, baru balik lagi ke rumah sakit. Ya dalam hal ini maka prognosisnya turun selain biaya pengobatan lebih mahal," sambungnya.

Prof Rita menjelaskan ada perbedaan mendasar dari penanganan retinoblastoma di Indonesia dan negara maju. Kalau di Indonesia tujuan utamanya masih difokuskan pada level mencegah kematian, sementara di luar negeri tujuan utamanya sudah pada level menjaga kualitas hidup yang baik dengan mempertahankan bola mata pasien dan fungsi penglihatannya.

Dalam banyak kasus, pasien kanker mata retinoblastoma terpaksa harus menjalani prosedur pengangkatan bola mata. Padahal jika sistem penanganan kanker mata berjalan baik, edukasi ke masyarakat lancar, sebenarnya penglihatan anak bisa diselamatkan.

"Negara maju itu sudah bagaimana supaya mata anak-anak dengan retinoblastoma ini tidak diangkat, dan fungsi lihatnya dipertahankan tetap bagus, Kita di sini masih mengurusi bagaimana caranya agar si anak 'tidak meninggal'," ujar Prof Rita.

Perkembangan dunia kedokteran saat ini,pengobatan kanker mata retinoblastoma di dunia sudah jauh lebih maju. Ada beberapa tindakan canggih yang bisa dilakukan, antara lain injeksi intravitreal kemoterapi, dan injeksi intra arterial kemoterapi .

Injeksi intra-vitreal kemoterapi adalah prosedur medis ketika obat kemoterapi disuntikkan langsung ke dalam bola mata. Salah satu keunggulan metode ini adalah bola mata pasien dan fungsi lihatnya dapat tetap dipertahankan sehingga kualitas hidup anak tetap baik.

"Namun, sayangnya prosedur pengobatan ini masih belum dapat dilakukan di banyak rumah sakit di luar Jakarta, seperti di Jawa, Sumatera, apalagi di ujung Indonesia yang belum terekspose dengan intravitreal kemoterapi. Sebenarnya bisa, tapi masih terkendala obat, selain diperlukan human resource dengan kompetensi keterampilan tertentu, seperti dokter spesialis mata anak atau dokter spesialis mata onkologi (tumor) yang mendalami bidang retinoblastoma," jelas Prof Rita.

Pada saat ini, Prof Rita dan tim Multidisiplin RB Nasional terus bekerja sama dengan dukungan Wakil Menteri Kesehatan Prof Dante Saksono Harbuwono dan jajarannya untuk meningkatkan layanan kanker mata retinoblastoma yang tersandar di seluruh Indonesia. Prof Rita juga menjadi salah satu dokter yang terlibat dalam strategi pegembangan retinoblastoma center di Indonesia, strategi yang sudah terbukti efektif dilakukan di negara negara lain di dunia.

Ia berharap rencana ini bisa segera terealisasi, agar masalah kanker mata retinoblastoma pada anak bisa segera diselesaikan.

"Strateginya adalah pengembangan retinoblastoma center. Mungkin ada ada enam atau minimal empat retinoblastoma center di Indonesia pada wilayah wilayah tertentu secara merata sesuai dengan kondisinya. Mungkin jumlah itu untuk di tingkat awal, karena biaya pengembangan Retinoblastoma Centre (RB Centre) yang memenuhi kriteria standar yang baik itu memerlukan biaya dan teknologi tinggi, selain tim multidisiplin yang kompeten dan berdedikasi. Perlu perhitungan cost effective yang cermat, dan juga obat-obatan," ungkap Prof Rita.

Dengan membuat beberapa retinoblastoma center di beberapa daerah terpilih tapi merata, terstandar baik, dan didukung dengan sistem rujukan yang baik, maka diharapkan pasien kanker anak retinoblastoma di Indonesia bisa lebih mudah mendapatkan penanganan yang baik.

"Saya dengan teman-teman yang tergabung dalam tim multidisiplin retinoblastoma berkomitmen membantu pemerintah agar strategi RB Center ini bisa diimplementasikan dalam waktu yang tidak lama lagi. Kalau nggak, kasian pasien-pasien yang adalah anak anak kita generasi penerus bangsa," kata Prof Rita.

"Pemerataan penanganan retinoblastoma itu harus berjalan, jangan hanya dipusatkan di misalnya Jakarta, bagaimana dengan yang di ujung? Harus yang sesuai standar penanganan yang baik," tambahnya.

Prof Rita juga mengungkapkan saat ini pihaknya bekerja sama untuk mengembangkan terapi retinoblastoma berbasis genomic. Ini dilakukan juga melalui kerjasama dengan Wamenkes Dante Saksono Harbuwono.

Melalui basis ini, pasien bisa mendapatkan terapi yang presisi dan sesuai dengan kebutuhan pasien masing-masing. Dengan begini, peluang kesembuhan pasien retinoblastoma bisa lebih tinggi.

"Kita lagi kolaborasi dengan ahli di Los angeles, karena mereka sudah mengembangkan teknologi tersebut. Kita mau ikut adopsi teknik mereka. Keunggulannya kemungkinan sembuhnya naik, presisi pengobatannya. Ini terobosan dan inovasi yang bagus untuk Indonesia," tandasnya.

























Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Jalan Panjang Penanganan Retinoblastoma di RI, Kanker Mata Anak Bisa Sembuh!"