Hagia Sophia

17 February 2026

Kematian Pertama, Pasien Terpapar Virus Nipah di India Meninggal

Ilustrasi (Foto: REUTERS/Stringer Acquire Licensing Rights)

India melaporkan kematian pertama dalam wabah virus Nipah terbaru setelah seorang perawat berusia 25 tahun di negara bagian Benggala Barat meninggal di rumah sakit, menurut otoritas setempat.

Perempuan tersebut, yang menjalani perawatan di unit perawatan intensif sebuah rumah sakit di wilayah Barasat, mengalami komplikasi, termasuk infeksi paru sekunder, dan akhirnya mengalami henti jantung, kata pejabat kesehatan.

Ia merupakan satu dari dua kasus terkonfirmasi di negara bagian timur tersebut. Pasien kedua, seorang perawat laki-laki berusia 27 tahun dari rumah sakit yang sama, dilaporkan telah pulih dan dipulangkan.

Kasus ini mendorong pelacakan kontak secara luas, dengan sekitar 200 orang ditempatkan dalam pemantauan, menurut kementerian kesehatan federal. Pejabat kesehatan daerah menyatakan bahwa seluruh kontak yang teridentifikasi telah dinyatakan negatif dan tidak ditemukan infeksi lanjutan.

Kematian di India ini terjadi beberapa hari setelah Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengonfirmasi seorang perempuan meninggal akibat Nipah di negara tetangga, Bangladesh.

Pasien di Bangladesh, yang berusia sekitar 40-an, mulai mengalami gejala yang konsisten dengan Nipah pada 21 Januari, seperti demam dan sakit kepala, yang kemudian diikuti hipersalivasi, disorientasi, dan kejang.

Perempuan tersebut dilaporkan tidak memiliki riwayat perjalanan, tetapi sempat mengonsumsi nira kurma mentah. Ia meninggal sekitar sepekan kemudian dan dikonfirmasi terinfeksi virus Nipah, menurut otoritas setempat. Sebanyak 35 orang yang melakukan kontak dengan pasien dinyatakan negatif, namun tetap berada dalam pemantauan.

Hingga saat ini, WHO menyatakan tidak ada kasus tambahan yang terdeteksi.

Virus Nipah merupakan virus zoonosis, yakni dapat menular dari hewan ke manusia. Kelelawar buah dianggap sebagai inang alami utama, meskipun penularan juga dapat terjadi melalui makanan yang terkontaminasi atau kontak erat dengan orang yang terinfeksi.

Pada tahap awal, virus ini dapat menimbulkan gejala seperti demam, sakit kepala, dan gangguan pernapasan. Dalam kasus yang lebih berat, infeksi dapat menyebabkan ensefalitis (peradangan otak) dan gagal napas. Menurut WHO, tingkat kematian Nipah berkisar antara 40 hingga 75 persen, tergantung pada kondisi dan kualitas perawatan.

Hingga kini belum ada vaksin yang disetujui maupun terapi antivirus spesifik untuk Nipah. Penanganan umumnya bersifat suportif dan berfokus pada penanganan komplikasi.

Wabah Nipah terbaru juga mendorong langkah kewaspadaan di luar India. Sejumlah negara di Asia telah memberlakukan pemeriksaan kesehatan di bandara, sementara Badan Keamanan Kesehatan Inggris (UKHSA) menyarankan pelancong ke wilayah terdampak untuk segera mencari nasihat medis jika mengalami gejala setelah kembali.

WHO juga menegaskan kembali bahwa risiko penyebaran internasional saat ini masih dinilai rendah.

























Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Pasien Terpapar Virus Nipah di India Meninggal, Kematian Pertama dalam Wabah Terbaru"