Hagia Sophia

04 February 2026

Ini Kata WHO Tentang Risiko Penyebaran Nipah usai Muncul Lagi di India

Foto ilustrasi: Getty Images/jarun011

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menilai risiko penyebaran virus Nipah dari India relatif masih rendah setelah dua kasus infeksi dilaporkan di negara tersebut. Karenanya, ia menilai belum perlu ada pembatasan perjalanan.

"WHO menilai risiko penyebaran lebih lanjut dari dua kasus ini rendah," kata badan PBB itu dalam pernyataan tertulis kepada Reuters, Jumat. WHO menambahkan India memiliki kapasitas untuk mengendalikan wabah semacam ini dan sejauh ini belum ada bukti peningkatan penularan antarmanusia.

Meski begitu, sejumlah negara dan wilayah di Asia seperti Hong Kong, Malaysia, Singapura, Thailand, dan Vietnam memperketat pemeriksaan di bandara sebagai langkah antisipasi setelah India mengonfirmasi kasus tersebut.

WHO menyebut kemungkinan paparan lanjutan terhadap virus tetap ada. Virus Nipah diketahui beredar di populasi kelelawar di beberapa wilayah India dan Bangladesh. Virus ini dibawa oleh kelelawar pemakan buah serta hewan lain seperti babi, dan dapat menyebabkan demam serta peradangan otak.

Tingkat kematian akibat virus Nipah berkisar antara 40 hingga 75 persen. Hingga kini belum tersedia obat atau vaksin yang disetujui, meski beberapa kandidat vaksin masih dalam tahap pengujian.

Penularan ke manusia umumnya terjadi melalui kontak dengan kelelawar yang terinfeksi atau buah yang terkontaminasi. Penularan antarmanusia relatif sulit dan biasanya memerlukan kontak dekat dalam waktu lama. Para ahli menyebut wabah berskala kecil bukan hal yang luar biasa dan risiko bagi masyarakat umum masih rendah.

Sumber infeksi dalam kasus terbaru ini belum sepenuhnya diketahui. WHO mengklasifikasikan virus Nipah sebagai patogen prioritas karena tingginya tingkat kematian, belum adanya pengobatan yang efektif, serta kekhawatiran virus ini dapat bermutasi menjadi lebih mudah menular.

Dua tenaga kesehatan yang terinfeksi dilaporkan sedang menjalani perawatan di rumah sakit di negara bagian Benggala Barat, India timur. India sendiri secara berkala melaporkan kasus Nipah, terutama di negara bagian Kerala di selatan, yang dikenal sebagai salah satu wilayah berisiko tinggi sejak virus ini pertama kali muncul pada 2018.

























Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "WHO Buka Suara soal Risiko Penyebaran Nipah usai Muncul Lagi di India"