Hagia Sophia

04 February 2026

Peneliti: Di Indonesia Virus Nipah Terdeteksi pada Hewan Ini

Ilustrasi (Foto: Getty Images/Manjurul)

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada Jumat (30/1) menyatakan dua kasus infeksi virus Nipah (NiV) yang dikonfirmasi laboratorium telah dilaporkan di India.

Dalam Disease Outbreak News terbarunya, WHO menyebutkan National IHR Focal Point India pada Senin (26/1) memberi tahu tentang dua kasus yang terdeteksi di Negara Bagian Benggala Barat.

Kasus-kasus infeksi ini dikonfirmasi di Institut Virologi Nasional India di Kota Pune pada 13 Januari, kata WHO, yang juga menyatakan bahwa kedua kasus tersebut melibatkan tenaga kesehatan di sebuah rumah sakit swasta.

Bagaimana di Indonesia?

Sementara di Indonesia, sampai saat ini belum ditemukan kasus pada manusia. Meski begitu, peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengungkapkan sejumlah penelitian telah memberikan bukti ilmiah keberadaan virus tersebut pada satwa liar.

Ahli Utama Virologi sekaligus Kepala Organisasi Riset Kesehatan BRIN, Niluh Putu Indi Dharmayanti mengatakan studi serologis di Kalimantan Barat menemukan antibodi Nipah virus pada sekitar 19 persen sampel serum kelelawar Pteropus vampyrus, meskipun tidak ditemukan pada babi.

"Deteksi molekuler juga telah dilakukan menggunakan metode PCR pada sampel saliva dan urine kelelawar di Sumatera Utara, yang mengonfirmasi keberadaan genom Nipah virus," jelasnya, dikutip dari keterangan resmi, Minggu (1/2/2026).

Penelitian lanjutan bahkan menemukan virus serupa pada Pteropus hypomelanus di wilayah Jawa, dengan karakter genetik yang berkerabat dekat dengan isolat dari Malaysia dan negara Asia Tenggara lainnya.

Menurut Indi, kondisi ekologis Indonesia menjadikan risiko penularan virus Nipah tidak bisa diabaikan. Keanekaragaman spesies kelelawar yang tinggi, kedekatan habitat satwa liar dengan permukiman manusia, serta praktik perburuan dan perdagangan satwa menjadi faktor pendorong terjadinya spillover virus.

Selain itu, keberadaan pasar hewan dengan sanitasi yang kurang memadai serta populasi babi yang besar di beberapa wilayah turut meningkatkan potensi penularan lintas spesies.

"Interaksi yang intens antara manusia, hewan, dan lingkungan menjadi kunci munculnya penyakit zoonotik seperti Nipah," ujarnya.

Ia menegaskan hingga saat ini belum tersedia vaksin maupun obat antivirus spesifik untuk Nipah virus. Oleh karena itu, penanganan kasus sangat bergantung pada perawatan suportif, sementara pencegahan menjadi langkah paling penting untuk menekan risiko wabah.

Di sisi lain, BRIN, lanjut Indi, mendorong penguatan surveilans aktif pada satwa liar, hewan domestik, dan manusia, serta peningkatan kapasitas diagnostik di berbagai daerah. Deteksi dini dinilai krusial untuk mencegah meluasnya penularan jika virus berpindah ke manusia.

Pendekatan One Health menjadi strategi utama dalam kesiapsiagaan menghadapi Nipah virus. Pendekatan ini menekankan kolaborasi lintas sektor antara kesehatan manusia, kesehatan hewan, dan lingkungan dalam memantau serta mengendalikan penyakit zoonotik.

"Tantangan ke depan adalah keterbatasan data epidemiologi dan rendahnya kesadaran masyarakat terhadap risiko zoonosis. Edukasi publik harus diperkuat agar masyarakat memahami bahaya kontak dengan satwa liar dan konsumsi pangan yang berpotensi terkontaminasi," tambahnya.

Indi berharap hasil riset yang dilakukan BRIN dapat menjadi dasar kebijakan nasional dalam pencegahan penyakit emerging dan re-emerging.

"Penguatan riset, surveilans, dan kesiapsiagaan adalah kunci agar Indonesia mampu menghadapi potensi ancaman Nipah virus secara lebih siap dan terukur," pungkasnya.

























Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Kata Peneliti BRIN, Virus Nipah Terdeteksi pada Hewan Ini di RI"