![]() |
| Ilustrasi (Foto: Getty Images/Kannika Paison) |
Banyak orang tua mulai menghadapi tantangan baru dalam proses makan anak, khususnya pada usia di bawah lima tahun (balita). Anak yang sebelumnya lahap tiba-tiba menutup mulut (GTM), mulai pilih-pilih makanan, atau hanya mau makan dengan cara tertentu. Perubahan perilaku makan ini kerap muncul seiring anak belajar mandiri dan mengeksplorasi lingkungan sekitarnya.
Di saat yang sama, berat badan anak sering kali terlihat tidak turun, tetapi juga tidak bertambah. Grafik pertumbuhan pun tampak datar, berada di kisaran yang sama atau stagnan sesuai berat badan sebelumnya (TSBB). Kondisi ini membuat sebagian orang tua mulai bertanya-tanya, apakah asupan makan anak sudah cukup untuk menunjang tumbuh kembangnya.
Tak jarang, kondisi seperti ini menimbulkan kecemasan tersendiri bagi orang tua. Bukan hanya soal angka di timbangan, tetapi juga kekhawatiran apakah asupan gizi anak sudah mencukupi serta apakah tumbuh kembangnya berjalan optimal.
Situasi serupa, misalnya, dialami oleh seorang ibu bernama Viany (29). Kepada detikcom, Viany mengatakan sang anak mulai mengalami fase gerakan tutup mulut sejak usia 1,5 tahun dan berlanjut hingga kini di usia 2,5 tahun. Sejak saat itu, proses makan menjadi tantangan yang tidak mudah.
Berat badan sang anak sempat mengalami stagnasi selama beberapa bulan. Angkanya tidak turun, tetapi juga tidak menunjukkan kenaikan berarti. Bahkan, untuk bertambah beberapa gram saja terasa sangat sulit. Kondisi tersebut membuat Viany sempat merasa khawatir, terutama ketika grafik pertumbuhan anak terlihat datar di angka yang sama dalam waktu cukup lama.
"BB-nya stagnan banget. Pernah kayak 3 bulan gak naik, 4 bulan gak naik, dan ini kayaknya kita udah 4 bulan gak naik deh. Jadi stagnan di situ-situ aja kayak bahkan nambah se-gram aja, susah banget," ucapnya saat dihubungi, Kamis (29/1/2026).
Berbagai upaya pun dilakukan. Viany mencoba memodifikasi menu makanan agar tetap mengandung protein, meski disesuaikan dengan selera anak. Saat anak menolak makanan asin, ia menyiasatinya dengan makanan bercita rasa manis, seperti roti yang diolah dengan telur. Ia juga berkonsultasi dengan sejumlah dokter spesialis anak untuk mencari solusi.
Sebagian besar dokter memberikan saran serupa, mulai dari menekankan asupan protein, mengatur jadwal makan secara disiplin, hingga memberi porsi kecil namun lebih sering. Meski seluruh saran tersebut sudah dijalani, Viany mengakui bahwa hasilnya tidak selalu langsung terlihat.
"Tapi sekarang udah mendingan. Sekarang tuh gue udah tau siasatnya. Jadi dia tuh dibikin capek dulu Dibikin lari-lari dulu, kita ajak berenang habis segala macam, baru kita ajak makan Insya Allah dia mau tuh," ucapnya lagi.
Meski begitu, tantangan lain tetap muncul, terutama kebiasaan pilih-pilih makanan. Menu yang disukai sang anak cenderung terbatas dan berulang, seperti ayam goreng atau olahan ayam tertentu, hingga lele goreng. Sementara itu, makanan dengan bumbu atau rempah yang kuat kerap ditolak. Situasi ini membuat Viany harus terus berinovasi agar kebutuhan gizi anak tetap terpenuhi.
Sebagai orang tua, Viany mengaku sempat diliputi kekhawatiran. Ia takut kondisi tersebut berdampak pada tumbuh kembang anak, termasuk risiko stunting atau gangguan penyerapan gizi. Beragam suplemen, vitamin, hingga madu penambah nafsu makan sempat dicoba, meski hasilnya belum sepenuhnya konsisten.
"Masih begitu aja sih. Ya Alhamdulillah sekarang mendingan mau makan, tapi menunya yang harus dia suka. Kalo yang dia gak suka, misalnya kayak gue mencoba berinovasi, bikin sate lilit, terus bikin apa lagi tuh, rolade daging, dia (nggak mau)," ucapnya.
Viany juga menyiasatinya lewat camilan bernutrisi saat anak sedang GTM. Protein diselipkan dalam berbagai bentuk, seperti roti isi telur, es krim buatan dari ubi dan telur, telur dadar yang dipotong tipis menyerupai mi, hingga telur gulung agar lebih menarik bagi anak.
Di sisi lain, Viany menyampaikan pesan kepada orang tua lain yang mengalami hal serupa adalah untuk tetap sabar dan tidak panik. GTM sangat menguras emosi, tetapi penting untuk tetap tenang dan konsisten. Menyiasati asupan protein dan menerapkan feeding rules sejak dini dinilai sangat membantu, meski ia sendiri baru menyadari pentingnya hal tersebut setelah terlambat.
Dampak GTM pada Anak
Dikutip dari laman Universitas Airlangga (UNAIR) yang membahas soal 'Peringati Hari Anak Nasional, UNAIR Soroti Masalah GTM', dokter spesialis anak konsultan, Dr dr Meta Herdiana Hanindita SpA(K) menjelaskan, GTM atau gerakan tutup mulut sejatinya bukan istilah medis dan tidak ada kriteria diagnosis secara resmi. Istilah tersebut populer di kalangan ibu-ibu saat anaknya mulai susah makan.
Menurut dr Meta, fenomena GTM kerap terjadi ketika anak memasuki masa peralihan dari ASI menuju makanan padat atau saat menginjak usia satu tahun ke atas. Namun di luar faktor adaptasi, penelitian IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia) mengemukakan bahwa penyebab paling umum GTM justru dari inappropriate feeding practice atau kebiasaan makan yang tidak tepat.
Lebih lanjut, dr Meta mengungkap jika penyebab GTM bisa karena kondisi medis tertentu, namun hal tersebut bukanlah penyebab utama. Dalam banyak kasus, GTM, terjadi karena aturan makan yang belum orang tua terapkan secara konsisten di rumah.
Ia menyebutnya sebagai feeding rules, suatu pola makan teratur yang membantu anak mengenali sinyal lapar dan kenyangnya sendiri. "Karena bayi belum tahu kapan lapar atau kenyang, peran orang tua sangat penting untuk melatih mereka dengan aturan tersebut," imbuhnya.
GTM yang berlangsung terus-menerus dapat menimbulkan risiko gangguan seperti faltering atau kondisi saat berat anak tidak bertambah sesuai usia. Penelitian bahkan menunjukkan bahwa faltering dapat berpengaruh pada penurunan IQ hingga empat poin.
"Jika dibiarkan bisa berkembang menjadi masalah gizi seperti underweight hingga stunting," terangnya.
"Coba benahi dulu feeding rules selama dua sampai tiga minggu. Tapi kalau tetap tidak ada kemajuan, jangan ragu untuk konsultasi ke dokter. Bisa jadi memang ada kondisi medis yang perlu ditangani. Dan jangan lupa pantau pertumbuhan anak setiap bulan," pungkasnya.
Senada, pakar nutrisi dan metabolik anak dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Prof Dr dr Damayanti, SpA(K), mengatakan anak yang terlalu selektif dalam makanan, sering menolak lauk tertentu, atau hanya mau makanan yang itu-itu saja, berisiko mengalami kekurangan nutrisi. Kondisi ini sering terjadi pada anak usia 1-3 tahun.
Bila dibiarkan, hal ini bisa memengaruhi pertumbuhan fisik sekaligus perkembangan otaknya. Orang tua harus lebih peka terhadap kondisi anak, terlebih jika kurva perkembangannya cenderung stagnan bahkan tidak mengalami kenaikan karena pilih-pilih makanan.
"Kita bisa pantau cukup apa enggak. Kalau ternyata nggak cukup, misalnya weight faltering yaitu BB anak naik tapi gak sesuai target " ucap Prof Damayanti beberapa waktu lalu kepada detikcom.
Prof Damayanti mencontohkan pada anak berusia 1 tahun, kenaikan berat badan normalnya berkisar 8 gram per hari. Artinya, dalam satu bulan kenaikan BB anak kurang lebih 240 gram.
"Kalau dia naiknya cuman 100 gram gitu kan, 150, berarti ada sesuatu. Mesti ke dokter, cari tahu jangan-jangan ada sesuatu yang menyebabkan," tambahnya.
Ia juga menjelaskan kunci agar anak tetap bisa makan dengan tenang dan teratur ada di feeding rules, menerapkan aturan makan yang konsisten sejak dini.
Feeding rules artinya menerapkan azas responsive feeding, mengajari anak mengenali konsep lapar dan kenyang, anak diberi makan terjadwal sesuai pengosongan lambung (±2 jam) orang tua yang menentukan kelengkapan nutrisi makanan dengan mempertimbangkan selera anak tetapi anak berhak mengkonsumsi makanan sesuai kebutuhannya.
Salah satu aturan penting dalam feeding rules adalah memberi waktu makan maksimal 30 menit. Jika lewat dari itu, waktu makan harus dihentikan meski anak belum menghabiskannya.
"Biar anaknya belajar bahwa waktu makan itu nggak sepanjang mau dia," tegasnya.
Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Kisah Ibu Hadapi Anak Pilih-pilih Makan, Berat Badan Stagnan Sampai 3-4 Bulan"
