Hagia Sophia

22 February 2026

Puasa Juga Bermanfaat Buat Kesehatan Jiwa

Foto: Getty Images/ferlistockphoto

Manfaat puasa tidak hanya bagi kesehatan fisik, tetapi juga baik untuk kesehatan mental. Spesialis kesehatan jiwa dr Lahargo Kembaren, SpKJ, mengatakan puasa kerap dipahami sebagai aktivitas spiritual yang berfokus pada pengendalian diri.

Namun, lanjutnya, dalam perspektif psikologi dan psikiatri modern, puasa juga dapat dilihat sebagai proses regulasi diri yang memengaruhi emosi, fungsi kognitif, dan keseimbangan mental.

Mengacu pada sejumlah penelitian tentang puasa religius maupun intermittent fasting, dr Lahargo menjelaskan bahwa pembatasan makan yang dilakukan secara sadar dapat membantu stabilisasi mood, meningkatkan kontrol impuls, serta memperkuat makna hidup.

"Puasa bukan sekadar ritual fisik, tetapi sebuah perjalanan psikologis dan spiritual yang membantu manusia memperlambat langkah di tengah dunia yang serba cepat. Dalam jeda itu, seseorang belajar mengenali kembali apa yang penting dan apa yang hanya memenuhi ruang tanpa makna," ucap dr Lahargo dalam keterangan resmi diterima detikcom, Kamis (19/2/2026).

"Puasa adalah sarana DETOKSIFIKASI JIWA, yang ditahan bukan hanya rasa lapar tapi juga emosi, ego, impulsivitas dan pikiran yang berisik," lanjutnya.

Adapun, istilah "detoksifikasi psikologis" di sini bukan berarti mengeluarkan racun secara fisik, melainkan menggambarkan proses penataan ulang pola pikir, emosi, dan kebiasaan mental yang selama ini mungkin terlalu penuh oleh distraksi dan tekanan.

1. Regulasi Emosi: Belajar Menenangkan Reaksi Batin
Dalam ilmu psikiatri, regulasi emosi berkaitan dengan kemampuan seseorang mengelola perasaan tanpa kehilangan kendali. dr Lahargo mengatakan, puasa melatih individu untuk menghadapi rasa tidak nyaman: rasa lapar, lelah, atau keinginan tanpa langsung bereaksi.

Ketika seseorang mampu menahan dorongan, bagian otak yang berfungsi sebagai 'rem emosi'(prefrontal cortex) menjadi lebih aktif. Hal ini membantu mengurangi reaksi impulsif, meningkatkan kesabaran, serta memberi ruang bagi respons yang lebih sadar.

Contoh aktivitas sederhana:
  • Latihan napas perlahan saat emosi mulai naik.
  • Menunda respons terhadap pesan atau konflik hingga emosi lebih stabil.
"Puasa melatih hati untuk merespons dengan sadar, bukan sekadar bereaksi," tutur dr Lahargo.

2. ⁠Spiritual Coping: Menguatkan Makna dan Harapan
Puasa hampir selalu diiringi praktik spiritual seperti doa, sembahyang, membaca kitab suci, dan refleksi diri. Dalam psikologi, hal ini dikenal sebagai spiritual coping, cara seseorang menggunakan nilai spiritual untuk menghadapi tekanan hidup.

Penelitian menunjukkan bahwa individu yang mempraktikkan coping spiritual cenderung memiliki ⁠rasa makna hidup lebih kuat, ⁠tingkat harapan yang lebih tinggi, serta kemampuan menerima situasi sulit dengan lebih tenang.

Contoh aktivitas:
  • Membaca kitab suci, doa atau renungan
  • Menuliskan tiga hal yang disyukuri setiap malam.
"Dalam hening puasa, jiwa belajar menemukan arti di tengah keterbatasan."

3.⁠ ⁠Menurunkan Stres: Adaptasi Tubuh dan Pikiran
Puasa yang dijalani secara sehat dapat membantu tubuh beradaptasi terhadap perubahan ritme hidup. Beberapa studi menunjukkan adanya perbaikan persepsi stres dan kesejahteraan psikologis selama periode puasa religius. Dari sudut pandang psikiatri, proses ini berkaitan dengan regulasi hormon stres, peningkatan resiliensi, serta kemampuan menghadapi tekanan tanpa merasa kewalahan.

Contoh aktivitas:
  • Jalan santai, olahraga ringan menjelang berbuka.
  • Mengurangi paparan berita atau media sosial yang memicu stres.
"Puasa bukan sekadar menahan makan, tetapi memberi ruang bagi pikiran untuk beristirahat."

4.⁠ ⁠Neuroplastisitas Otak: Kesempatan untuk Reset Mental
Puasa berhubungan dengan peningkatan faktor neurotropik seperti BDNF, yang mendukung neuroplastisitas yaitu kemampuan otak membentuk jalur baru. Secara psikologis, ini memberi peluang untuk mengubah kebiasaan lama menjadi pola yang lebih sehat.

Menurut dr Lahargo, manfaat yang mungkin dirasakan, seperti ⁠fleksibilitas berpikir meningkat, motivasi belajar hal baru, serta adaptasi lebih baik terhadap perubahan.

Contoh aktivitas:
  • Membaca buku reflektif.
  • Mengikuti kelas, kajian atau diskusi pengembangan diri selama bulan puasa.
"Saat pola lama berhenti sejenak, otak menemukan ruang untuk bertumbuh."

5.⁠ ⁠Kontrol Impuls: Latihan Menunda Gratifikasi
Puasa adalah praktik nyata dari delay of gratification. Dalam psikiatri, kemampuan menunda dorongan berkaitan erat dengan kesehatan mental jangka panjang.

Adapun manfaatnya antara lain ⁠mengurangi perilaku impulsif, membantu pengambilan keputusan yang lebih matang, sertameningkatkan disiplin diri.

Contoh aktivitas:
  • Mindful eating saat berbuka: makan perlahan dan sadar.
  • Memberi jeda beberapa detik sebelum mengambil keputusan penting.
"Yang dilatih dalam puasa bukan sekadar perut, tapi kemampuan berkata 'cukup'."

6.⁠ ⁠Stabilitas Kognitif: Pikiran Lebih Terarah
Sebagian orang melaporkan kejernihan mental selama puasa. Hal ini bisa terjadi karena berkurangnya overstimulasi dan meningkatnya kesadaran diri. Dari perspektif psikologis, fokus menjadi lebih terarah, pikiran terasa lebih ringan, serta prioritas hidup lebih jelas.

Contoh aktivitas:
  • ⁠Menyusun tiga prioritas utama setiap pagi.
  • Mengurangi multitasking yang berlebihan.
"Ketika distraksi berkurang, pikiran menemukan arah."

7.⁠ ⁠Relasi Sosial: Empati yang Bertumbuh
Puasa sering diiringi kegiatan berbagi dan kebersamaan. Dukungan sosial adalah faktor protektif penting dalam kesehatan mental. Melalui relasi yang hangat, seseorang dapat merasakan, empati yang lebih dalam, koneksi emosional yang kuat, serta rasa memiliki dalam komunitas.

Contoh aktivitas:
  • Berbuka bersama keluarga atau teman dan kerabat
  • Terlibat dalam kegiatan sosial atau pelayanan.
"Puasa tidak hanya mendekatkan diri pada Tuhan, tetapi juga pada sesama," ucap dr Lahargo.

























Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Nggak Kaleng-kaleng, Ternyata Ini Manfaat Puasa Buat Kesehatan Jiwa"