Hagia Sophia

05 February 2026

Situasi Terkini Terkait Wabah Virus Nipah di India

Virus Nipah di India (Foto: REUTERS/Stringer Acquire Licensing Rights)

Wabah virus Nipah di India belakangan memicu kekhawatiran global. Pada 26 Januari 2026, India melalui IHR National Focal Point (IHR NFP) melaporkan kepada World Health Organization (WHO) adanya dua kasus infeksi virus Nipah (NiV) yang telah dikonfirmasi di Negara Bagian Benggala Barat.

Pemeriksaan laboratorium awal mengindikasikan infeksi NiV, sementara konfirmasi resmi diperoleh dari National Institute of Virology di Pune pada 13 Januari 2026. Kedua kasus dikonfirmasi melalui pemeriksaan Reverse Transcription Polymerase Chain Reaction (RT-PCR) dan Enzyme-Linked Immunosorbent Assay (ELISA).

Adapun kasus pertama merupakan seorang perawat perempuan dan kasus kedua perawat laki-laki. Keduanya berusia antara 20 hingga 30 tahun dan berasal dari wilayah Barasat, Distrik North 24 Parganas. Kedua pasien mulai mengalami gejala khas infeksi NiV berat pada akhir Desember 2025 dan dirawat di rumah sakit pada awal Januari 2026.

"Hingga 21 Januari 2026, kondisi pasien kedua dilaporkan mengalami perbaikan klinis, sementara pasien pertama masih menjalani perawatan intensif," demikian keterangan resmi WHO, dikutip Senin (2/1/2026).

Situasi Terkini

Menyusul dua kasus terkonfirmasi tersebut, otoritas kesehatan India mengidentifikasi dan memeriksa lebih dari 190 orang yang memiliki kontak erat, termasuk tenaga kesehatan dan kontak di masyarakat. Seluruh sampel dari para kontak tersebut dinyatakan negatif virus Nipah.

WHO juga menyebut Indian National Centre for Disease Control pada 27 Januari menyatakan bahwa tidak ditemukan kasus tambahan virus Nipah di Benggala Barat sejak Desember 2025 hingga saat ini.

"Tidak ada kasus lebih lanjut yang terdeteksi hingga saat ini. Kejadian ini merupakan wabah infeksi NiV ketiga yang dilaporkan di Benggala Barat (wabah sebelumnya dilaporkan di Siliguri pada tahun 2001 dan Nadia pada tahun 2007)," tutur WHO.

Di sisi lain, WHO mengatakan infeksi virus Nipah (NiV) merupakan penyakit zoonosis yang dapat menular ke manusia melalui hewan yang terinfeksi, seperti kelelawar, atau melalui makanan yang terkontaminasi air liur, urine, maupun kotoran hewan pembawa virus.

Penularan juga dapat terjadi dari manusia ke manusia melalui kontak erat dengan pengidap yang terinfeksi. Kelelawar pemakan buah atau flying fox (spesies Pteropus) diketahui sebagai inang alami virus Nipah.

Masa inkubasi virus Nipah berkisar antara 3 hingga 14 hari. Namun, dalam beberapa kasus langka, masa inkubasi dapat berlangsung hingga 45 hari. Diagnosis laboratorium pada pasien dengan riwayat klinis infeksi NiV dapat dilakukan pada fase akut maupun fase pemulihan menggunakan kombinasi beberapa pemeriksaan. Metode utama yang digunakan meliputi pemeriksaan RT-PCR dari cairan tubuh serta deteksi antibodi melalui uji ELISA.

Infeksi NiV pada manusia menunjukkan spektrum klinis yang luas, mulai dari tanpa gejala, infeksi saluran pernapasan akut (ringan hingga berat), hingga ensefalitis fatal atau peradangan otak yang dapat berujung pada kematian.

Pada tahap awal, pengidap biasanya mengalami gejala seperti demam, sakit kepala, nyeri otot, muntah, dan sakit tenggorokan. Kondisi ini dapat berkembang menjadi pusing, mengantuk, gangguan kesadaran, serta tanda-tanda neurologis yang mengindikasikan ensefalitis akut. Sebagian pasien juga dapat mengalami pneumonia atipikal dan gangguan pernapasan berat, termasuk sindrom gangguan pernapasan akut (acute respiratory distress syndrome).

Pada kasus yang berat, ensefalitis dan kejang dapat terjadi dan berkembang dengan cepat hingga menyebabkan koma dalam waktu 24 hingga 48 jam.

Tingkat kematian kasus atau case fatality ratio (CFR) pada wabah virus Nipah di Bangladesh, India, Malaysia, dan Singapura berkisar antara 40 hingga 75 persen. Angka ini dipengaruhi oleh kemampuan masing-masing negara dalam melakukan deteksi dini serta penanganan klinis yang memadai.

Hingga saat ini, belum tersedia obat antivirus maupun vaksin berlisensi yang secara khusus ditujukan untuk infeksi virus Nipah. Penanganan pasien terutama bergantung pada perawatan suportif intensif untuk mengatasi komplikasi pernapasan dan gangguan neurologis.

Virus Nipah (Henipavirus nipahense) juga ditetapkan sebagai patogen prioritas oleh WHO dalam kerangka WHO R&D Blueprint for Epidemics, guna mempercepat pengembangan langkah-langkah penanggulangan medis dalam menghadapi potensi epidemi dan pandemi.

























Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "WHO Ungkap Situasi Terkini Wabah Virus Nipah di India"