Hagia Sophia

19 February 2026

Skandal 'Penisgate' Olimpiade Musim Dingin

Winter Olympic Milano 2026. (Foto: Yara Nardi)

Dunia olahraga musim dingin diguncang oleh dugaan skandal yang sangat tidak biasa. Badan Anti-Doping Dunia (WADA) kini tengah menyelidiki klaim bahwa sejumlah atlet lompat ski melakukan injeksi asam hialuronat (hyaluronic acid) ke penis mereka.

Tujuannya bukan untuk kesehatan, melainkan demi memanipulasi ukuran baju ski agar bisa terbang lebih jauh saat bertanding.

Skandal yang dijuluki "Penisgate" ini pertama kali mencuat lewat laporan surat kabar Jerman, Bild, dan kini menjadi perbincangan hangat di Olimpiade Musim Dingin Milan-Cortina.

Dalam olahraga lompat ski, ukuran baju (suit) sangat diatur secara ketat oleh Federasi Ski Internasional (FIS). Ukuran baju ditentukan berdasarkan pemindaian tubuh 3D sang atlet, termasuk pengukuran selangkangan.

Menurut laporan The Guardian, semakin besar permukaan baju ski, semakin besar daya angkat (lift) yang dihasilkan saat atlet berada di udara.

"Setiap sentimeter ekstra pada baju sangat berarti. Jika baju Anda memiliki luas permukaan 5% lebih besar, Anda akan terbang lebih jauh," jelas Sandro Pertile, direktur balapan pria FIS.

Dengan menyuntikkan asam hialuronat, lingkar penis atlet akan membesar secara temporer. Hal ini memanipulasi hasil pemindaian tubuh sehingga atlet diizinkan menggunakan baju ski yang sedikit lebih besar. Luas permukaan ekstra inilah yang memberikan keuntungan aerodinamika ilegal di udara.

Risiko Kesehatan: Dari Infeksi hingga Gangrene

Meski asam hialuronat tidak termasuk zat terlarang dalam daftar doping WADA, tindakan ini sangat berbahaya secara medis. Asam hialuronat biasanya digunakan sebagai pengisi (filler) dalam bedah kosmetik untuk memperbesar ukuran penis.

Profesor Eric Chung, ahli bedah urologi, memperingatkan risiko fatal dari prosedur ini jika dilakukan secara sembarangan. Injeksi yang salah dosis atau teknik yang buruk dapat menyebabkan disfungsi seksual dan perubahan sensori.

Selain itu ada risiko deformitas atau pembengkakan yang tidak wajar pada area penis.

"Teknik penyuntikan yang buruk atau dosis yang salah dapat menyebabkan nyeri penis, hasil kosmetik yang buruk [cacat], deformitas, infeksi, peradangan, perubahan sensasi, dan disfungsi seksual. Dalam kasus yang jarang terjadi, infeksi dapat menyebar dan menyebabkan gangren (nekrosis jaringan) dan hilangnya penis," kata Chung.

Respons WADA dan Federasi Ski

Mengutip laporan BBC, Direktur Jenderal WADA, Olivier Niggli, menyatakan bahwa pihaknya akan melihat apakah kasus ini berkaitan dengan doping. Sementara itu, Presiden WADA asal Polandia, Witold Banka, menanggapi dengan nada sedikit bergurau namun berjanji akan menyelidikinya karena lompat ski adalah olahraga yang sangat populer di negaranya.

Meski demikian, Direktur Komunikasi FIS, Bruno Sassi, menegaskan kepada BBC Sport bahwa hingga saat ini belum ada bukti nyata bahwa ada atlet yang benar-benar menggunakan injeksi tersebut demi keuntungan kompetitif.

"Jika ada sesuatu yang terungkap, kami akan memeriksanya dan melihat apakah itu terkait dengan doping. Kami tidak membahas cara-cara lain [non-doping] untuk meningkatkan performa," ucap dia.

Skandal ini menambah daftar panjang upaya manipulasi baju ski setelah sebelumnya dua atlet Norwegia, Marius Lindvik dan Johann Andre Forfang, sempat dijatuhi skorsing karena kasus modifikasi jahitan pada baju mereka.

























Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Geger Skandal 'Penisgate' Olimpiade Musim Dingin, Atlet Suntik Mr P demi Performa"