![]() |
| Foto: Getty Images/David Gyung |
Sebuah skandal besar mengguncang sistem kesehatan di China Tengah. Sejumlah rumah sakit jiwa (RSJ) swasta di Xiangyang, Provinsi Hubei, kedapatan melakukan praktik culas dengan merekrut orang sehat untuk berpura-pura menjadi pasien. Aksi ini dilakukan demi menguras dana asuransi kesehatan publik.
Berdasarkan laporan investigasi bawah tanah (undercover) oleh Beijing News, rumah sakit ini mengiming-imingi warga dengan janji "rawat inap gratis dan biaya hidup gratis". Bukannya mengobati orang sakit, RSJ tersebut justru menjadikan orang sehat sebagai "sapi perah" untuk mendapatkan kompensasi dari pemerintah.
Di China, asuransi publik menanggung sebagian besar biaya medis, sementara pasien hanya membayar persentase kecil. Hal inilah yang dimanfaatkan pengelola RSJ. Setelah berhasil membujuk orang untuk masuk, pihak rumah sakit akan memalsukan rekam medis dan daftar perawatan untuk mencairkan dana asuransi.
Seorang jurnalis yang menyamar sebagai perawat di RSJ Hongan menemukan fakta mencengangkan. Mayoritas pasien di sana tidak menunjukkan perilaku abnormal dan hampir tidak menerima pengobatan.
"Banyak dari mereka adalah lansia yang sulit bergerak. Mereka menganggap rumah sakit ini sebagai panti jompo karena jauh lebih murah daripada panti jompo biasa," ujar seorang perawat senior dalam laporan tersebut dikutip dari SCMP.
Bahkan, ada perawat yang identitas pribadinya sendiri dimasukkan ke sistem sebagai pasien agar rumah sakit bisa mengklaim dana asuransi atas namanya.
Biaya Siluman dan Kekerasan Terhadap Pasien
Dalam sistem penagihan, ditemukan seorang pasien yang menginap selama 90 hari ditagih sebesar 12.426 yuan (sekitar Rp27 juta). Namun, dari jumlah itu, hanya Rp1,1 juta yang digunakan untuk obat, sementara sisanya diklaim sebagai biaya berbagai terapi. Ironisnya, pasien mengaku tidak pernah menerima terapi-terapi tersebut.
"Saya hanya minum obat setiap hari, bahkan tidak pernah disuntik. Rasanya seperti tinggal di rumah saja," ungkap salah satu pasien.
Tak hanya penipuan uang, laporan tersebut juga mengungkap sisi kelam kekerasan. Perawat di RSJ Hongan sering terlihat menampar, menendang, hingga memukul pasien dengan pipa air. Ponsel pasien disita dan komunikasi dengan keluarga dibatasi ketat agar praktik ini tidak terbongkar.
Sistem Tertutup yang Sulit Diawasi
Pakar reformasi medis, Xu Yucai, menyebut bahwa RSJ sangat rentan terhadap penipuan karena operasionalnya yang tertutup.
"Masyarakat tidak bisa mengawasi apa yang terjadi di dalam. Selain itu, banyak pasien yang tidak memiliki kemampuan untuk mengevaluasi apakah mereka benar-benar menerima perawatan atau tidak," jelas Xu.
Skandal ini telah memicu kemarahan besar di kalangan warganet China dan telah dilihat lebih dari 66 juta kali di media sosial. Menanggapi hal ini, otoritas kesehatan di Xiangyang dan Yichang menyatakan telah meluncurkan investigasi resmi sejak 3 Februari 2026.
Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Skandal RSJ di China, Rekrut Orang Sehat Jadi Pasien Demi Tipu Asuransi"
