Hagia Sophia

11 February 2026

Takut Keriput di Usia 30, Remaja Ini Rutin Botox Sejak Usia 16

Ilustrasi. (Foto: Getty Images/twinsterphoto)

Bagi Jazlyn Miller, jarum suntik yang menembus kulit wajahnya bukan lagi hal yang menakutkan. Di usianya yang baru menginjak 16 tahun, remaja asal Alabama, AS ini sudah akrab dengan meja perawatan klinik kecantikan. Alasannya, ia tidak ingin melihat ada satu pun kerutan di wajahnya saat menginjak usia 30 tahun nanti.

"Saya ingin mencegahnya sekarang. Jadi ketika saya berumur 30 tahun, saya tetap terlihat glowing," ungkap Jazlyn dalam wawancaranya dengan NYPost.

Awalnya, Jazlyn mengenal Botox untuk alasan medis, yakni meredakan nyeri kronis pada otot rahangnya. Namun, setelah merasakan sensasi wajah yang lebih kencang, ia memutuskan untuk "langsung terjun sepenuhnya" ke dunia kosmetik.


Ia mulai meminta suntikan di area dahi dan sekitar mata karena merasa wajahnya terlalu ekspresif.

Keputusan ini seketika menjadikannya buah bibir di sekolah. Teman-teman sebayanya hingga para orang tua murid merasa terkejut dan tidak habis pikir.

"Banyak orang yang menghakimi, mereka bilang: 'Berani-beraninya kamu melakukan Botox di usia 16 tahun?'" ceritanya.

Bahkan, sang ibu, Jessica Miller, ikut terkena imbasnya. Ia dihujani kritik dari sesama ibu karena dianggap membiarkan anaknya mengambil keputusan yang terlalu berisiko. Namun bagi Jessica yang merupakan seorang aesthetician, ia hanya ingin anaknya merasa percaya diri.

"Saya akan melakukan apa pun agar dia merasa cantik di matanya sendiri," tegas sang ibu.

Meski mendapatkan kritik pedas, Jazlyn merasa suntikan rutin setiap tiga bulan sekali itu adalah bentuk self-care atau perawatan diri, layaknya memakai makeup atau menata rambut di salon.

Fenomena 'Beauty Anxiety' di Media Sosial

Kisah Jazlyn bukanlah satu-satunya. Di platform TikTok dan Instagram, tren remaja belasan tahun yang mencari 'baby botox' sebagai langkah pencegahan (preventative) sedang meledak.

Dr Claudia Kim, seorang ahli bedah kosmetik, menyebut fenomena ini didorong oleh standar kecantikan digital yang tidak realistis.

"Ini bukan lagi sekadar rasa takut menjadi tua, tapi adanya pandangan negatif yang dilekatkan pada proses penuaan alami wajah," jelasnya.

Remaja kini merasa cemas melihat garis halus sekecil apa pun di wajah mereka karena terus-menerus terpapar filter kamera dan wajah-wajah "tanpa pori" di media sosial.

Meski Jazlyn merasa lebih percaya diri, para pakar kesehatan memberikan peringatan keras. Melakukan prosedur invasif di usia pertumbuhan memiliki risiko jangka panjang yang belum banyak dipelajari secara mendalam.

Salah satunya termasuk ketergantungan pada jarum suntik di usia muda dikhawatirkan merusak cara remaja melihat diri mereka sendiri tanpa bantuan prosedur klinis.

Dr Douglas Monasebian, ahli bedah plastik, menegaskan tidak ada manfaat jangka panjang yang begitu darurat sehingga tidak bisa menunggu sampai usia 18 atau 20 tahun.

"Biarkan mereka dewasa terlebih dahulu untuk membuat keputusan sendiri bagi tubuh mereka," tegasnya.

























Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Cerita Remaja 16 Tahun Mulai Rutin Botox, Takut Wajahnya Keriput di Usia 30"