![]() |
| Ilustrasi obesitas (Foto: Getty Images/CreativaImages) |
Kementerian Kesehatan RI mengungkapkan obesitas lebih rentan terjadi di wilayah perkotaan. Kondisi ini dipicu oleh berbagai faktor, mulai dari pola urbanisasi, pertumbuhan ekonomi, hingga perubahan teknologi yang mengubah cara hidup masyarakat.
Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular (PTM) Kemenkes RI, dr Siti Nadia Tarmizi menjelaskan faktor tersebut tak hanya berdampak pada meningkatnya penyakit tidak menular, tetapi juga menggeser pola konsumsi masyarakat.
Teknologi, terutama layanan pesan-antar makanan, lanjutnya, membuat aktivitas fisik semakin berkurang. Masyarakat tak lagi perlu berjalan kaki atau menyiapkan makanan sendiri, sehingga kontrol terhadap asupan gula, garam, dan lemak menjadi semakin sulit.
"Apa yang terjadi di kota besar, mengapa kemudian terjadi obesitas, itu karena pola urbanisasi, pertumbuhan ekonomi, dan perubahan teknologi. Kemudian adanya food processing yang mempermudah hidup kita sebenarnya. Serta tentunya ada isu dari mass media," ucapnya dalam Webinar dalam rangka Hari Gizi Nasional ke-66 tahun 2026 melalui YouTube Direktorat Pelayanan Kesehatan Keluarga, Rabu (5/2/2026).
Ia mencontohkan fenomena serupa terjadi di negara-negara maju seperti Amerika Serikat, saat konsumsi makanan cepat saji, es krim, dan gula berlebih meningkat drastis dan memicu lonjakan kasus obesitas.
"kalau dulu mungkin kalau mau mencari makanan, zaman kuliah kita harus jalan kaki untuk ke warteg atau ke warung, kalau sekarang tidak perlu, duduk manis 10-15 menit makanannya datang. Dan makanan yang datang itu tentunya kadang-kadang kita tidak bisa pastikan apakah kadar gula garamnya itu sesuai, kadang-kadang keasinan. Karena gula dan garam kita tahu itu seperti zat yang kalau kita tambah terus, kita akan tubuh kita segera beradaptasi," tuturnya lagi.
Lebih lanjut, dr Nadia mengatakan tubuh manusia dapat beradaptasi dengan rasa. Ketika seseorang terbiasa mengonsumsi makanan asin atau manis, maka saat kadar garam atau gula dikurangi, makanan akan terasa hambar. Akibatnya, konsumsi berlebih terus berulang tanpa disadari.
Berdasarkan survei konsumsi masyarakat Indonesia, Kemenkes mencatat bahwa konsumsi gula, garam, dan lemak di perkotaan jauh lebih tinggi dibandingkan pedesaan, bahkan hampir dua kali lipat. Sekitar 35 persen masyarakat perkotaan tercatat mengonsumsi gula, garam, dan lemak melebihi batas yang dianjurkan.
"Perkotaan itu memang cenderung lebih tinggi untuk konsumsi gulanya, kemudian untuk konsumsi garamnya, konsumsi lemaknya, itu pasti lebih hampir mencapai 2 kali lipat dari pedesaan," lanjutnya lagi.
Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Obesitas Rentan Terjadi di Perkotaan, Kemenkes RI Ungkap Kebiasaan yang Jadi Pemicunya"
