Hagia Sophia

01 March 2024

Seperti Jepang dan Korsel, Singapura Alami Krisis Populasi Karena Warganya Pilih Childfree

Getty Images

Untuk pertama kalinya, tingkat kesuburan total penduduk Singapura turun di bawah 1,0. Perkiraan awal menunjukkan bahwa tingkat kesuburan total turun menjadi 0,97 pada tahun 2023, menurun lebih jauh dari rekor sebelumnya sebesar 1,04 pada tahun 2022 dan 1,12 pada tahun 2021.

"Ada berbagai alasan mengapa rendahnya kesuburan di Singapura. Ada pula yang bersifat sementara, misalnya pasangan yang rencana pernikahannya terganggu karena COVID-19, yang pada gilirannya mungkin menunda rencana menjadi orang tua," kata Menteri di Kantor Perdana Menteri (PMO) Indranee Rajah dikutip dari CNA, Kamis (29/2/2024).

Kekhawatiran mengenai biaya finansial dalam membesarkan anak, tekanan untuk menjadi orang tua yang baik, atau kesulitan mengelola komitmen pekerjaan dan keluarga, menjadi beberapa alasan warga Singapura memilih childfree.

Menteri juga menekankan bahwa rendahnya tingkat kesuburan di Singapura mencerminkan fenomena global di mana prioritas individu dan norma-norma masyarakat telah bergeser.

Hal yang sama juga terjadi di Jepang. Jumlah bayi yang lahir di Jepang berjumlah 758.631 pada tahun 2023, mencapai rekor terendah selama delapan tahun berturut-turut.

Jepang masih merupakan negara yang banyak wanita memilih untuk tidak punya anak. Bagi wanita Jepang yang lahir pada tahun 2000, antara 31,6 persen hingga 39,2 persen akan tetap tidak memiliki anak sepanjang hidup mereka, menurut perkiraan dari National Institute of Population and Social Security Research yang berbasis di Tokyo (IPSS).

Dalam beberapa tahun terakhir, jumlah perempuan Jepang yang tidak memiliki anak karena masalah dalam pernikahan telah melonjak, menjadi alasan utama di kalangan perempuan berusia antara 25 hingga 49 tahun.

Hal yang sama juga dialami Korea Selatan. Negara itu bahkan mencetak rekor baru tingkat kesuburan terendah di dunia. Tingkat fertilitas atau fertility rate Negeri Ginseng itu anjlok ke titik terendah sepanjang sejarah.

Menurut data yang dirilis Rabu oleh kantor statistik nasional Korea Selatan, jumlah bayi yang diharapkan per wanita seumur hidup turun menjadi 0,72 tahun lalu dari 0,78 pada tahun 2022. Jumlah kelahiran juga turun 7,7 persen menjadi 230.000, yang merupakan rekor terendah baru.

Secara global, negara-negara maju mengalami penurunan angka kelahiran, namun tidak ada penurunan yang ekstrim seperti Korea Selatan.

Krisis populasi tetap terjadi baik di Jepang dan Korsel meski pemerintah telah menyiapkan sederet tunjangan untuk membantu mereka secara finansial jika memiliki anak.

Pasangan yang memiliki anak diberikan uang tunai, mulai dari bantuan bulanan hingga perumahan bersubsidi dan taksi gratis. Tagihan rumah sakit dan bahkan perawatan IVF ditanggung, meski hanya bagi mereka yang sudah menikah. Namun kebijakan-kebijakan tersebut tetap tidak menggoyahkan pilihan para wanita untuk punya anak.

"Memiliki bayi ada dalam daftar saya, tapi ada peluang untuk promosi dan saya tidak ingin dilewatkan," kata Gwak Tae-hee, 34, manajer junior di sebuah perusahaan pembuat produk susu Korea yang telah menikah selama tiga tahun kepada Reuters.


























Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Jepang, Korsel, Singapura Alami Krisis Populasi gegara Warganya Pilih Childfree"