![]() |
| Bau badan. Foto: Getty Images/skynesher |
Gym makin ramai, event lari kian sering digelar, dan gaya hidup aktif semakin populer. Di ruang latihan indoor atau di tengah kerumunan peserta lari, satu isu kerap muncul diam-diam-bahkan menjadi keluhan terbuka di media sosial: bau badan saat olahraga.
Sebagian orang merasa terganggu, sebagian lainnya tersinggung. Padahal, bau badan tidak selalu berkaitan dengan malas mandi atau kebersihan yang buruk. Terdapat proses biologis yang bekerja, serta kebiasaan tertentu yang tanpa disadari bisa memperkuatnya dan semuanya berawal dari apa yang terjadi pada tubuh saat berkeringat.
Banyak orang mengira bau badan berasal langsung dari keringat. Padahal, keringat yang baru keluar dari tubuh sebenarnya tidak berbau sama sekali. Bau baru muncul ketika keringat bercampur dengan bakteri yang secara alami hidup di permukaan kulit, terutama di area seperti ketiak.
Penelitian yang dimuat dalam Journal of Investigative Dermatology menjelaskan bahwa bakteri seperti Corynebacterium dan Staphylococcus memanfaatkan zat-zat tertentu dalam keringat, khususnya keringat dari kelenjar apokrin. Zat tersebut antara lain asam lemak, asam amino, serta senyawa yang mengandung sulfur. Ketika bakteri "memakan" zat-zat ini, mereka memecahnya menjadi senyawa berbau tajam, seperti asam beraroma menyengat dan senyawa sulfur yang aromanya sering digambarkan mirip bawang atau amis. Senyawa hasil pemecahan inilah yang kemudian kita kenal sebagai bau badan.
Perlu dicatat, komposisi zat dalam keringat dan jenis bakteri di kulit setiap orang berbeda-beda. Ulasan dalam British Journal of Dermatology menyebutkan bahwa perbedaan mikrobioma kulit yang dipengaruhi oleh faktor genetik, hormon, kebersihan, dan pola hidup, membuat bau badan menjadi persoalan yang sangat personal. Ketika proses biologis ini berlangsung bersamaan dengan kondisi tertentu saat olahraga, aroma yang dihasilkan pun bisa terasa jauh lebih kuat.
Mengapa Bau Badan Lebih Terasa Saat Olahraga?
Saat berolahraga, tubuh memproduksi keringat dalam jumlah yang jauh lebih besar dibandingkan aktivitas sehari-hari. Kondisi ini membuat kulit menjadi lembap lebih lama, sehingga bakteri penyebab bau memiliki waktu dan "bahan baku" yang cukup untuk berkembang. Di lingkungan seperti gym indoor atau event lari dengan kerumunan padat, sirkulasi udara yang terbatas membuat senyawa bau tidak cepat menghilang, melainkan menumpuk di ruang tertutup.
Selain faktor lingkungan, gesekan antara kulit, pakaian olahraga, dan keringat juga berperan penting. Gesekan ini mempercepat pelepasan zat dari kelenjar apokrin seperti asam lemak dan asam amino, yang kemudian diurai oleh bakteri menjadi senyawa berbau. Penelitian dalam Journal of the Royal Society Interface menunjukkan bahwa kondisi hangat, lembap, dan minim sirkulasi udara merupakan lingkungan ideal bagi bakteri kulit untuk memproduksi senyawa bau secara lebih intens.
Jenis pakaian olahraga turut memperkuat efek ini. Studi yang dipublikasikan dalam Applied and Environmental Microbiology menemukan bahwa kain sintetis seperti polyester cenderung menahan bakteri penyebab bau lebih kuat dibandingkan bahan alami seperti katun. Bahkan setelah dicuci, bakteri tertentu masih dapat bertahan di serat sintetis dan kembali menghasilkan bau saat terkena keringat. Temuan serupa juga dilaporkan dalam Textile Research Journal, yang menyebutkan bahwa bahan sintetis mempertahankan kelembapan lebih lama, sehingga memperpanjang aktivitas bakteri penyebab bau badan. Meski begitu, intensitas bau badan tetap bisa berbeda pada tiap orang, meskipun berada dalam situasi olahraga yang sama.
Bau Badan Tidak Selalu Soal Kebersihan
Penting untuk dipahami bahwa bau badan tidak bisa selalu dijelaskan hanya dari seberapa sering seseorang mandi. Di luar kondisi lingkungan dan aktivitas fisik, tubuh setiap orang memiliki respons biologis yang berbeda terhadap keringat. Faktor genetik berperan besar dalam menentukan jenis kelenjar keringat yang dominan, komposisi zat dalam keringat, serta jenis bakteri yang hidup di kulit. Hal ini kembali ditegaskan dalam ulasan British Journal of Dermatology yang menyebutkan bahwa setiap orang memiliki mikrobioma kulit yang unik.
Selain genetik, pola makan juga memengaruhi aroma tubuh. Konsumsi makanan tinggi protein, bawang-bawangan, atau makanan yang mengandung senyawa sulfur dapat mengubah komposisi zat dalam keringat. Penelitian dalam Journal of Nutrition menunjukkan bahwa senyawa hasil metabolisme makanan tertentu dapat dikeluarkan melalui keringat dan kemudian dimanfaatkan bakteri kulit sebagai bahan pembentuk bau.
Faktor stres dan hormon juga kerap luput dari perhatian. Saat stres, tubuh meningkatkan produksi keringat dari kelenjar apokrin, jenis keringat yang paling mudah menimbulkan bau. Studi dalam Psychoneuroendocrinology menjelaskan bahwa lonjakan hormon stres seperti kortisol dapat memengaruhi aktivitas kelenjar keringat sekaligus komposisi mikrobioma kulit. Inilah sebabnya bau badan sering terasa lebih tajam saat seseorang cemas, gugup, atau kelelahan, meski kebiasaan mandinya tidak berubah.
Perubahan hormon pada fase tertentu seperti pubertas, siklus menstruasi, atau periode latihan fisik intens juga dapat memperkuat bau badan. Ulasan di Clinical Dermatology mencatat bahwa perubahan hormon dapat meningkatkan produksi keringat apokrin sekaligus mengubah komposisi kimianya, sehingga bau badan bisa muncul lebih cepat atau lebih kuat. Dengan banyaknya faktor yang terlibat, pendekatan terhadap bau badan pun tidak bisa disamaratakan.
Jadi, Haruskah Mandi Sebelum Olahraga?
Pertanyaan soal perlu atau tidaknya mandi sebelum olahraga sering dianggap sepele, padahal secara ilmiah cukup relevan terutama dalam konteks ruang olahraga bersama. Jika bau badan dipengaruhi oleh kondisi biologis kulit sebelum dan saat berkeringat, maka kebiasaan sebelum olahraga ikut menentukan hasil akhirnya. Mandi sebelum berolahraga bukan sekadar soal rasa segar, tetapi berkaitan langsung dengan jumlah bakteri yang ada di permukaan kulit sebelum tubuh mulai berkeringat.
Penelitian yang dipublikasikan dalam International Journal of Cosmetic Science menunjukkan bahwa membersihkan kulit sebelum aktivitas fisik dapat menurunkan populasi bakteri penyebab bau. Dengan demikian, keringat yang keluar saat olahraga cenderung menghasilkan aroma yang lebih ringan.
Di sisi lain, tidak mandi sebelum olahraga juga tidak otomatis keliru, terutama jika tubuh masih relatif bersih dan belum berkeringat sebelumnya. Namun, masalah mulai muncul ketika sebelum berolahraga kulit sudah mengandung campuran sebum, sel kulit mati, dan bakteri dari aktivitas harian. Studi dalam Skin Research and Technology menjelaskan bahwa kondisi ini memberi bakteri "modal awal" untuk langsung memecah zat dalam keringat begitu olahraga dimulai, sehingga bau badan bisa muncul lebih cepat dan lebih kuat.
Dengan kata lain, yang menentukan bukan semata-mata apakah seseorang mandi atau tidak, melainkan kondisi biologis kulit saat olahraga dimulai. Jika tubuh sudah lembap, berminyak, atau tertutup pakaian seharian, mandi sebelum olahraga dapat menjadi langkah pencegahan bau badan yang efektif terutama di gym indoor atau event lari dengan interaksi jarak dekat. Sebaliknya, jika kulit relatif bersih dan aktivitas dilakukan di ruang terbuka dengan sirkulasi udara baik, dampaknya mungkin tidak terlalu signifikan.
Pendekatan ini menempatkan mandi sebelum olahraga bukan sebagai kewajiban moral, melainkan strategi praktis untuk mengelola bau badan, bukan hanya demi kenyamanan diri sendiri, tetapi juga orang lain di ruang olahraga bersama.
Cara Lain Mengurangi hingga Menghilangkan Bau Badan
Selain mandi sebelum olahraga, ada beberapa langkah lain yang secara ilmiah dapat membantu mengurangi hingga menghilangkan bau badan, terutama bagi mereka yang aktif berolahraga dan sering berada di ruang publik bersama.
Mengelola bakteri di kulit menjadi kunci utama. Penggunaan sabun dengan efek antibakteri ringan atau yang membantu menjaga keseimbangan pH kulit dapat menekan bakteri penyebab bau tanpa merusak lapisan pelindung kulit. Ulasan dalam Journal of Dermatological Science menekankan bahwa keseimbangan mikrobioma kulit yang baik justru membantu menurunkan intensitas bau badan, bukan dengan membasmi bakteri secara agresif, melainkan dengan mengendalikannya.
Pemilihan pakaian olahraga, termasuk kebiasaan setelah berolahraga, juga berpengaruh besar. Bahan yang lebih breathable dan cepat kering dapat mengurangi kelembapan yang disukai bakteri. Studi dalam Textile Research Journal menunjukkan bahwa kondisi ini membatasi waktu bakteri berinteraksi dengan keringat, sehingga pembentukan bau dapat ditekan. Karena itu, segera mengganti pakaian dan mandi setelah olahraga penting untuk mencegah bakteri terus memecah zat dalam keringat. Penelitian dalam Skin Research and Technology mencatat bahwa penundaan membersihkan tubuh setelah berkeringat dapat memperpanjang aktivitas bakteri penyebab bau.
Selain faktor eksternal, pola makan, stres, dan kualitas tidur juga berperan. Mengurangi konsumsi makanan tinggi sulfur, mengelola stres, dan menjaga tidur yang cukup dapat menurunkan produksi keringat apokrin. Ulasan dalam Psychoneuroendocrinology menunjukkan bahwa regulasi stres membantu menekan keringat yang mudah menimbulkan bau.
Bagi sebagian orang dengan bau badan yang menetap meski kebersihan sudah dijaga, konsultasi medis dapat menjadi langkah penting. Dalam kondisi seperti bromhidrosis, dokter kulit dapat merekomendasikan perawatan khusus. Hal ini ditegaskan dalam ulasan Clinical Dermatology, yang menyebutkan bahwa bau badan kronis perlu dilihat sebagai kondisi medis, bukan sekadar persoalan kebiasaan.
Pada akhirnya, bau badan saat olahraga bukan hanya soal kebersihan, melainkan hasil interaksi antara proses biologis tubuh, lingkungan, dan kebiasaan sehari-hari. Pemahaman yang tepat dapat membantu kita memilih cara mengelola bau badan yang lebih realistis, tanpa menghakimi diri sendiri maupun orang lain di ruang olahraga bersama.
Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Bau Badan Saat Olahraga: Proses Alami Tubuh atau Masalah yang Bisa Dicegah?"
