![]() |
| Waspadai lemak di area perut. Foto: Getty Images/PeopleImages |
Perut yang kian membesar sering dianggap sekadar persoalan penampilan atau tanda usia bertambah. Padahal, lingkar perut yang melewati batas normal dapat menjadi sinyal risiko kesehatan serius.
Penumpukan lemak di area perut diketahui berkaitan dengan meningkatnya risiko hipertensi, penyakit jantung, hingga diabetes tipe 2, bahkan pada orang dengan berat badan yang tampak normal. Karena jarang menimbulkan gejala pada tahap awal, risiko ini kerap tidak disadari meski proses gangguan metabolisme sudah berlangsung.
Tidak semua lemak di tubuh memiliki dampak yang sama terhadap kesehatan. Secara ilmiah, lemak tubuh terbagi menjadi dua jenis utama, yakni lemak subkutan dan lemak viseral. Lemak subkutan adalah lemak yang berada tepat di bawah kulit dan umumnya terlihat di area seperti paha, lengan, atau pinggul. Jenis lemak ini relatif kurang berbahaya secara metabolik.
Sebaliknya, lemak viseral merupakan lemak yang tersimpan di rongga perut dan menyelimuti organ-organ vital seperti hati, pankreas, dan usus. Perbedaan lokasi ini menjadi kunci mengapa lingkar perut besar memiliki implikasi kesehatan yang lebih serius dibanding penumpukan lemak di bagian tubuh lain.
Lemak di perut tidak sama dengan lemak di bagian tubuh lain. Lemak perut bagian dalam, atau lemak viseral, bersifat lebih aktif dan tidak hanya berfungsi sebagai cadangan energi. Lemak ini dapat melepaskan berbagai zat kimia pemicu peradangan ke dalam aliran darah, sehingga menimbulkan peradangan ringan yang berlangsung lama tanpa gejala jelas. Meski tidak langsung terasa, proses ini perlahan mengganggu keseimbangan metabolisme tubuh.
Dampaknya, tubuh menjadi kurang sensitif terhadap insulin dan fungsi pembuluh darah ikut terganggu. Kondisi inilah yang meningkatkan risiko tekanan darah tinggi, diabetes tipe 2, penyakit jantung, serta gangguan kesehatan lain seperti perlemakan hati dan beberapa jenis kanker. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa risiko tersebut bisa muncul bahkan pada orang dengan berat badan yang terlihat normal.
Karena itu, bahaya lingkar perut besar bukan sekadar soal jumlah lemak, melainkan lokasi dan cara kerjanya di dalam tubuh. Lingkar perut yang melewati batas normal menjadi tanda adanya lemak berisiko yang bekerja secara diam-diam, sehingga perlu diwaspadai sejak dini.
Mengapa Lingkar Perut Berkaitan dengan Hipertensi, Jantung, dan Diabetes
Penelitian menunjukkan bahwa akumulasi lemak viseral berperan dalam memicu peradangan sistemik ringan, resistensi insulin, dan disfungsi metabolik yang menjadi pemicu utama gangguan metabolik.
Pada kondisi normal, tubuh mengatur gula darah, tekanan darah, dan fungsi pembuluh darah secara seimbang. Namun, ketika lemak viseral berlebih, jaringan ini mulai melepaskan zat-zat pro-inflamasi dan molekul yang memicu peradangan dan mengganggu kerja insulin, sehingga tubuh jadi kurang responsif terhadap hormon insulin yang penting untuk mengatur gula darah. Akibatnya, seseorang bisa mengalami peningkatan gula darah secara bertahap, yang menjadi fase awal menuju diabetes tipe 2.
Selain memengaruhi gula darah, lemak viseral juga berkaitan dengan gangguan kadar lemak dalam darah. Penumpukan lemak di perut sering disertai meningkatnya kolesterol jahat dan trigliserida, yang dapat menumpuk di dinding pembuluh darah. Lama-kelamaan, pembuluh darah menjadi lebih kaku dan sempit, sehingga aliran darah terganggu. Kondisi ini meningkatkan risiko penyakit jantung dan hipertensi (tekanan darah tinggi), meskipun seseorang belum merasakan keluhan apa pun.
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa lemak perut memiliki hubungan yang lebih kuat dengan risiko penyakit jantung dan hipertensi dibandingkan berat badan atau angka timbangan semata. Semakin besar penumpukan lemak viseral, semakin tinggi pula kemungkinan tekanan darah meningkat. Hal serupa terjadi pada diabetes, di mana orang dengan lingkar perut besar memiliki risiko lebih tinggi mengalami gangguan gula darah dibandingkan mereka dengan lingkar perut normal, meski berat badannya terlihat biasa saja.
Singkatnya, lingkar perut besar mencerminkan adanya aktivitas biologis yang mengganggu keseimbangan metabolik tubuh, dan itulah yang menjembatani hubungan antara lemak perut dengan hipertensi, penyakit jantung, dan diabetes-serangkaian kondisi kronis yang sering berkembang perlahan dan jarang menimbulkan gejala di awalnya.
Lingkar Perut: Sinyal Dini Risiko Penyakit Kronis
Dalam konteks penilaian kesehatan metabolik, lingkar perut dinilai sebagai indikator yang lebih sensitif dibandingkan berat badan atau indeks massa tubuh (IMT) semata. Karena itu, para ahli merekomendasikan pengukuran lingkar perut sebagai bagian dari pemantauan kesehatan rutin.
Mengacu pada kriteria yang banyak digunakan secara internasional, termasuk rekomendasi dari WHO untuk populasi Asia, lingkar perut dikategorikan berisiko bila melebihi 90 cm pada pria dan 80 cm pada perempuan. Melewati batas ini berarti risiko gangguan metabolik mulai meningkat, bahkan pada individu dengan berat badan yang tampak normal.
Lingkar perut yang berlebih seharusnya dipandang sebagai sinyal peringatan dini bahwa tubuh sedang menyimpan lemak berisiko di area vital. Tanpa menimbulkan gejala jelas, kondisi ini dapat menjadi awal peningkatan risiko hipertensi, penyakit jantung, dan diabetes. Karena itu, memantau lingkar perut sama pentingnya dengan memperhatikan angka di timbangan, sekaligus memberi kesempatan untuk melakukan perubahan gaya hidup sejak dini sebelum gangguan metabolik berkembang menjadi penyakit kronis.
Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Kenapa Lingkar Perut Besar Bisa Mematikan? Ini Faktanya"
