Hagia Sophia

02 February 2026

Meski Sangat Mematikan, WHO: Risiko Penularan Virus Nipah di India Rendah

Pengawasan di Bandara untuk cegah Virus Nipah. (Foto: ANTARA FOTO/Fikri Yusuf)

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memberikan penilaian terbaru terkait munculnya kasus Virus Nipah di Benggala Barat, India. Meski virus ini sangat mematikan dan belum memiliki vaksin maupun obat, WHO menilai risiko penyebaran nasional hingga global saat ini masih berada pada level rendah.

Sejalan dengan penilaian tersebut, WHO menegaskan bahwa saat ini tidak ada rekomendasi pembatasan perjalanan atau perdagangan ke India.

"Berdasarkan bukti terkini, WHO tidak merekomendasikan pembatasan perjalanan atau perdagangan apa pun," tulis WHO dalam keterangan resminya dikutip Jumat (30/1/2026).

Fokus pada Klaster Terbatas

Dalam laporan resminya per 29 Januari 2026, WHO menjelaskan bahwa kasus Virus Nipah di India saat ini bersifat terbatas (sporadis). Dua kasus yang dikonfirmasi pada awal Januari menimpa dua orang perawat di sebuah rumah sakit swasta di distrik North 24 Parganas.

Hingga 27 Januari 2026, tim kesehatan telah melacak dan menguji 196 orang yang sempat melakukan kontak erat dengan pasien. Hasilnya, seluruh kontak tersebut dinyatakan negatif dan tidak menunjukkan gejala. Hal ini menunjukkan bahwa belum ada bukti peningkatan penularan antar-manusia secara luas.

Risiko Lokal Moderat, Global Rendah

WHO membagi penilaian risiko menjadi beberapa tingkatan:
  • Tingkat Sub-nasional (Benggala Barat): Risiko dinilai Moderat. Hal ini dikarenakan wilayah perbatasan India-Bangladesh merupakan habitat alami kelelawar buah yang membawa virus tersebut.
  • Tingkat Nasional dan Global: Risiko dinilai Rendah. Kasus saat ini terisolasi di satu distrik dan pasien tidak melakukan perjalanan saat menunjukkan gejala.
"Sejarah menunjukkan bahwa wabah Nipah di Asia Tenggara biasanya hanya terjadi dalam klaster kecil dan jarang sekali menyebar luas secara internasional melalui perjalanan," tulis WHO dalam keterangannya.

Meski risiko penyebarannya rendah, WHO tetap mengingatkan urgensi kewaspadaan karena belum adanya vaksin atau obat berlisensi untuk Virus Nipah. Penanganan pasien saat ini sepenuhnya hanya berupa perawatan suportif untuk mengatasi gejala radang otak dan gangguan pernapasan.

Hingga akhir Januari, dilaporkan satu perawat pria mulai pulih, sementara satu perawat wanita lainnya masih dalam kondisi kritis.

Walaupun tidak ada larangan bepergian, WHO mendorong otoritas setempat untuk terus memperkuat pengawasan laboratorium dan komunikasi risiko. Masyarakat diimbau untuk tetap melakukan langkah pencegahan mandiri, seperti menghindari konsumsi nira pohon kurma mentah yang berisiko terkontaminasi air liur kelelawar dan selalu mencuci bersih buah-buahan.

























Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "WHO: Risiko Penularan Virus Nipah di India Rendah, Tak Ada Pembatasan Perjalanan"