Hagia Sophia

02 February 2026

Virus Nipah Pernah Ditemukan di Indonesia Tapi pada Kelelawar

Ilustrasi. (Foto: Getty Images/Manjurul)

Beberapa waktu terakhir, virus Nipah menjadi sorotan karena kasusnya di India membuat sejumlah negara Asia meningkatkan pengawasan di bandara. Virus ini memiliki fatality rate yang tinggi sampai 75 persen dan sampai saat ini belum ada vaksin untuk pencegahan.

Anggota Unit Kerja Koordinasi Infeksi Penyakit Tropik Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Prof dr Dominicus Husada, SpA, Subsp IPT mengungkapkan bahwa sebenarnya sudah pernah ditemukan di Indonesia, tapi pada hewan kelelawar. Seperti yang diketahui, asal penularan virus Nipah memang berasal dari kelelawar atau babi.

"Penular utama sekali lagi adalah kelelawar buah (Pteropodidae) sebagai inang alami, memang aslinya dia yang berperan, negara kita termasuk yang punya kelelawar ini dan sudah ditemukan virusnya pada kelelawar, tapi pada orang memang belum," ungkap Prof Husada dalam konferensi pers, Kamis (29/1/2026).

Pada tahun 2008, melalui uji serologi ELISA, sejumlah kelelawar spesies Pteropus vampyrus ditemukan memiliki antibodi virus Nipah. Prevalensinya mencapai 18-30 persen.

"Penelitian dilakukan terhadap beberapa hewan pembawa dan uji ELISA di beberapa tempat seperti di Medan, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Kalimantan itu kelelawar kita ada antibodinya dan bisa sampai sepertiganya dari semua kelelawar yang diteliti," ucapnya.

Sementara itu, uji coba yang dilakukan pada hewan babi dilakukan di rumah potong hewan di Jakarta, Medan, Riau, dan beberapa peternakan di Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Sulawesi Utara. Hasilnya tidak ditemukan serum babi yang mengandung antibodi nipah.

Kemudian deteksi virus pernah diungkapkan dalam sebuah hasil penelitian yang dipublikasikan pada tahun 2017. Virus nipah ditemukan pada 50 swab saliva dari spesies Pteropus vampyrus di Sumatera Utara melalui uji RT-PCR.

"Kemudian pada ludah yang diteliti dari 50 sampel itu ada virusnya, bukan cuma antibodinya, karena waktu di PCR muncul. Ternyata yang ditemukan di Indonesia itu yang dari kelelawar," ungkapnya.

Meski demikian Prof Husada mengingatkan masyarakat untuk tidak khawatir berlebihan. Selama langkah pencegahan dan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) dilakukan, maka infeksi virus Nipah bisa dicegah. Terlebih, hingga saat ini Kementerian Kesehatan (Kemenkes) belum menemukan kasus virus Nipah pada manusia.

Berikut ini, sederet cara penularan virus Nipah yang harus diwaspadai:
  • Kontak langsung dengan hewan yang terinfeksi.
  • Kontak dengan cairan urine, air liur, dan sekresi pernapasan dengan hewan yang terinfeksi.
  • Konsumsi daging mentah dari hewan yang terinfeksi.
  • Konsumsi buah yang terkontaminasi cairan tubuh hewan yang terinfeksi.
  • Kontak dengan orang yang terinfeksi melalui droplet, urine, atau darah.

























Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Pakar Ungkap Virus Nipah Pernah Ditemukan di Indonesia, Tapi pada Kelelawar"