Hagia Sophia

07 November 2022

Kondisi Mental Aaron Carter Semasa Hidupnya

Aaron Carter, Foto: Getty Images/Gabe Ginsberg

Mantan penyanyi cilik internasional, Aaron Carter, meninggal dunia di usia 34 tahun. Belum ada kabar pasti terkait penyebab kematiannya. Namun sebelum kabar kepergian Aaron beredar luas, kerabatnya menemukan ia sudah tidak bernyawa di bathtub kamar mandi rumahnya pada Sabtu pagi.

Aaron Carter dulunya adalah bintang cilik terkenal di awal 2000-an berasal dari Florida, Amerika Serikat. Namanya kian melejit ketika ia merilis single lagu "Oh, Aaron", "Not Too Young, Not Too Old", dan "That's How I Beat Shaq". Namun tak lama setelahnya, ia vakum merilis album selama 15 tahun.

Sayangnya, ketika beranjak dewasa adik Nick Carter ini jatuh dalam ketergantungan alkohol dan narkoba. Ia pun berjuang untuk keluar dari lingkaran setan tersebut dan mencoba memulihkan kesehatan mentalnya. Bahkan, Aaron pernah meramalkan kematiannya sendiri tak lama setelah ulang tahunnya ke-30 pada Desember 2017.

"Saya pikir akan mati pada usia 30 tahun," kenang Aaron dikutip dari Usmagazine, Minggu (6/11/2022).

"Bahkan ketika saya berusia 13-14 tahun, saya berpikir 'Ya Tuhan, Saya akan mati'. Hidup itu cukup berat. Saya menghadapi banyak trauma, kehilangan, dan kesepian. Aku hanya merasa aku harus pergi," ucapnya.

Berikut ini sederet kondisi mental yang dialami Aaron semasa hidupnya.

1. Gangguan Stres Pascatrauma

Gangguan stres pascatrauma atau Post Traumatic Stress Disorder (PTSD) adalah gangguan kejiwaan ketika seseorang pernah mengalami atau menyaksikan peristiwa traumatis dalam hidupnya. Peristiwa tersebut bisa berupa bencana alam, kecelakaan serius, aksi teroris, perang, pemerkosaan, atau percobaan pembunuhan.

Pada Juli 2017, Aaron ditahan karena terbukti memiliki dan memakai ganja. Penggunaan barang berbahaya tersebut bukan tanpa alasan. Ia mengaku memiliki beban pikiran yang berat sampai-sampai mengalami gangguan stres pasca trauma.

"Saya akan mengatakan di sini tepat di depan kalian semua, saya tidak malu akan hal itu. Saya memiliki masalah. Saya memiliki gangguan stres pasca trauma. Saya tidak pernah ingin orang tua saya bercerai. Saya tidak pernah ingin ayah saya mati. Saya tidak pernah ingin saudara perempuan saya meninggal pada usia 27 tahun. Hal ini kian sulit karena orang tua saya bercerai, seakan-akan semuanya berputar di luar kendali," bebernya.

Orang dengan PTSD biasanya memiliki pikiran dan perasaan buruk yang akan berlangsung lama setelah peristiwa mengenaskan tersebut berakhir. Mereka mungkin merasakan emosi yang intens, misalnya sedih, takut, serta marah.

2. Kepribadian Ganda

Kepribadian ganda adalah beberapa identitas kepribadian yang terdapat dalam satu individu. Dikutip dari International Bipolar Foundation, varian kepribadian ini diambil dari pengalaman hidup pengidapnya. Masing-masing karakteristik ini didasari dari usia, perilaku, kesadaran, ingatan, dan persepsi hidup.

3. Skizofrenia

Gangguan mental yang ditandai dengan halusinasi dan delusi dalam jangka waktu lama disebut dengan skizofrenia. Penyakit mental ini tergolong kronis karena membutuhkan perawatan seumur hidup dan berpotensi mengganggu aktivitas sehari-hari pengidapnya.
























Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Sederet Kondisi Mental Aaron Carter Sebelum Meninggal, Termasuk Skizofrenia"