Hagia Sophia

05 January 2026

Mungkinkah 'Super Flu' Bisa Jadi Next Pandemi? Ini Kata Eks Petinggi WHO

Foto: Getty Images/iStockphoto/wckiw

Lonjakan kasus influenza imbas adanya varian baru influenza A (H3N2) subclade K di sejumlah negara memicu kekhawatiran publik terkait potensi pandemi setelah COVID-19.

Kemunculan istilah 'super flu' sebenarnya berkaitan dengan dugaan kecepatan penularan. Meski begitu, Mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara, Prof Tjandra Yoga Aditama, menilai kondisi saat ini belum mengarah ke pandemi.

"Kalau melihat perkembangan sekarang, maka super flu ini hanya akan mengakibatkan gelombang penyakit flu yang lebih hebat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, jadi tidak, atau setidaknya belum mengarah ke pandemi," kata Prof Tjandra dalam keterangannya, yang diterima detikcom Kamis (1/1/2026).

Ia menjelaskan, penilaian apakah suatu penyakit berpotensi menjadi pandemi tidak bisa dilakukan secara prematur, melainkan bergantung pada sejumlah faktor kunci.

Menurut Prof Tjandra, terdapat tiga faktor utama yang menentukan super flu berpotensi berkembang menjadi pandemi seperti yang terjadi pada influenza H1N1, 2009 silam.

Pertama, jika terjadi mutasi lebih signifikan yang membuat virus H3N2 menjadi benar-benar baru dan sangat berbeda dari varian sebelumnya.

Kedua, peningkatan tajam penularan dan keparahan penyakit. Jika laju penularan meningkat drastis disertai dampak klinis yang lebih berat, risiko epidemi akan semakin besar.

Ketiga, meluasnya penularan lintas negara secara masif. Pandemi, menurutnya, ditandai oleh penyebaran global yang tidak lagi bisa dibendung batas wilayah.

"Kalau ketiga faktor ini tidak terjadi secara bersamaan, peluang menjadi pandemi relatif kecil," lanjut Prof Tjandra.

Sebagai catatan, H3N2 bukanlah virus baru. Lonjakan kasus influenza di sejumlah negara seperti Jepang, Kanada, dan Amerika Serikat pada Oktober lalu, serta kemungkinan di Malaysia dan Thailand, juga disebabkan oleh H3N2. Bahkan, dunia pernah mengalami peningkatan besar kasus influenza pada 1968, yang juga dipicu oleh virus influenza A H3N2, meski belum dalam bentuk subclade K.

Namun, yang perlu dicermati, virus H3N2 subclade K ini disebut telah mengalami sekitar tujuh kali mutasi. WHO sejak November 2025 telah menyatakan virus ini menyebar cepat dan mendominasi kasus influenza di sejumlah negara di belahan bumi utara.

Data terakhir dari Amerika Serikat per 30 Desember 2025 menunjukkan influenza berada pada kategori tinggi hingga sangat tinggi di 32 negara bagian, meningkat tajam dari 17 negara bagian pada minggu sebelumnya.

Jumlah pasien influenza yang dirawat di rumah sakit melonjak menjadi 19.053 orang, hampir dua kali lipat dibandingkan pekan sebelumnya yang tercatat 9.944 pasien. CDC juga melaporkan sekitar 3.100 kematian akibat influenza pada musim flu kali ini. Dalam satu pekan, angka kematian pada anak meningkat menjadi lima kasus, dari tiga kasus pada minggu sebelumnya.

Data tersebut menunjukkan bahwa sebagian besar kasus influenza di Amerika Serikat disebabkan oleh virus H3N2, dan bukan tidak mungkin didominasi oleh subclade K.

Prof Tjandra mengimbau bila mengalami gejala flu, sebaiknya menjaga kondisi, memakai masker agar tidak menularkan ke orang lain, dan beristirahat.

Kedua, segera berkonsultasi dengan tenaga kesehatan apabila gejala memberat, serta melaporkan bila dalam satu lingkungan, rumah, kantor, atau sekolah, terdapat beberapa orang dengan gejala serupa yang muncul mendadak.

Ketiga, vaksinasi influenza tetap dapat diberikan, terutama bagi kelompok rentan seperti lansia dan penderita penyakit penyerta berat.

Sementara itu, kepada pemerintah, Prof Tjandra menekankan pentingnya komunikasi risiko yang transparan dan berkelanjutan.

"Akan baik kalau perkembangan virus influenza H3N2 subclade K di berbagai daerah diinformasikan secara luas kepada publik dari waktu ke waktu, termasuk setelah temuan 62 kasus ini," ujarnya.

























Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Kata Eks Petinggi WHO soal Kemungkinan 'Super Flu' Bisa Jadi Next Pandemi"