![]() |
| Foto: Getty Images/iStockphoto/hut547 |
Kasus influenza A (H3N2) subclade K atau yang populer disebut 'super flu' sudah teridentifikasi di Indonesia. Data Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI hingga akhir Desember 2025 mencatat terdapat 62 kasus yang tersebar di delapan provinsi, dengan jumlah terbanyak ditemukan di Jawa Timur, Kalimantan Selatan, dan Jawa Barat.
Mayoritas pasien merupakan perempuan dan kelompok usia anak.
Dominasi kasus pada anak-anak ini mendapat sorotan serius dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). Ketua Umum IDAI dr Piprim B Yanuarso mengingatkan para orangtua untuk lebih peka terhadap kondisi kesehatan anak, terutama di tengah meningkatnya dinamika penularan penyakit infeksi saluran pernapasan.
"Subclade K ini memang agak sulit dikenali dan bisa menembus kekebalan yang sudah ada sebelumnya," kata dr Piprim dalam media briefing, Senin (29/12/2025).
Menurut dr Piprim, istilah 'super flu' tidak berarti virus ini selalu berujung fatal. Namun, sebutan tersebut muncul karena gejalanya dapat lebih berat dibandingkan flu musiman, terutama jika menyerang kelompok rentan, misalnya anak-anak dengan penyakit penyerta.
"Pada anak-anak, kejadian influenza tipe A apabila mengenai anak dengan penyakit bawaan atau komorbid, dampaknya bisa jauh lebih serius dibandingkan anak tanpa komorbid," ujarnya.
Anak-anak dengan penyakit jantung bawaan, gangguan paru kronis, gangguan metabolik, kelainan saraf, gangguan imunitas, hingga obesitas dan diabetes, disebut memiliki risiko lebih tinggi mengalami perburukan kondisi bila terinfeksi influenza subclade K.
Selain faktor virus, dr Piprim juga menyoroti kondisi lingkungan yang dinilai kurang ideal. Banjir dan bencana alam yang terjadi di sejumlah wilayah, terutama di Sumatera dan Kalimantan Selatan, berpotensi mempercepat penyebaran penyakit menular.
"Kita sedang menghadapi banjir dan banyak bencana di beberapa wilayah. Kita turut prihatin terhadap saudara-saudara kita dan jangan sampai kondisi ini diperberat dengan tambahan kasus influenza," kata dr Piprim.
Situasi pengungsian, keterbatasan sanitasi, dan kepadatan hunian dinilai dapat meningkatkan risiko penularan, khususnya pada anak-anak.
Menghadapi ancaman super flu, IDAI menegaskan kembali pentingnya perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) sebagai langkah pencegahan utama. Pengalaman panjang selama pandemi COVID-19 disebut seharusnya menjadi pelajaran berharga.
"Setiap penyakit menular, hal pertama yang harus kita kerjakan adalah PHBS. Kita sudah punya pengalaman pandemi COVID-19, jadi kebiasaan seperti memakai masker, menjaga kebersihan, dan menghindari kerumunan saat musim penyakit itu sangat penting," ujar dr Piprim.
Langkah-langkah sederhana seperti mencuci tangan dengan sabun, menerapkan etika batuk dan bersin, menjaga jarak saat anak sedang tidak fit, serta menggunakan masker pada kondisi tertentu dinilai masih sangat relevan untuk diterapkan saat ini.
Gejala Perlu Diwaspadai
Gejala 'super flu' umumnya mirip dengan flu musiman, seperti demam, batuk, pilek, sakit kepala, dan nyeri tenggorokan. Namun, orangtua diminta segera membawa anak ke fasilitas kesehatan jika gejala memberat, berlangsung lama, atau disertai tanda bahaya, terutama pada anak dengan penyakit penyerta.
Dengan meningkatnya temuan kasus dan dominasi pada usia anak, para dokter menilai kewaspadaan, pencegahan, dan deteksi dini menjadi kunci agar super flu tidak berkembang menjadi beban kesehatan yang lebih besar, terutama bagi kelompok paling rentan.
Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Pasien 'Super Flu' di RI Didominasi Usia Anak, IDAI Minta Ortu Lebih Waspada"
