Hagia Sophia

18 September 2022

Quiet Firing, Istilah untuk Dipaksa Berhenti Kerja atau Dipecat Diam-diam

detikcom

Giliran istilah 'quiet firing' yang marak dibahas di media sosial. Bukan seperti 'quiet quitting' yaitu tren bekerja seadanya, tetapi istilah quiet firing diartikan sebagai atasan yang diam-diam memecat karyawan.

Misalnya, beberapa karyawan diketahui bertahun-tahun tidak mendapatkan kenaikan gaji atau promosi, perusahaan membiarkan karyawan melakukan pekerjaan atau tugas yang lebih sedikit. Bahkan, dengan sengaja membatasi peluang pengembangan karier karyawan tersebut.

Batasan itu bisa jadi berawal dari atasan yang menilai performa karyawan di luar ekspektasi yang diharapkan dan menurutnya tidak ada perubahan signifikan dari waktu ke waktu atau penilaian subjektif.

Dikutip dari Huff Post, 48 persen di antara lebih dari 200 ribu responden menyebut mereka melihat 'quiet firing' diterapkan dalam lingkup kerjanya.

"Quiet firing benar-benar terjadi. Terkadang, keputusannya bersifat politis, seperti ketika atasan memiliki karyawan favorit dan itu bukan Anda, pada akhirnya [mereka] mendorong Anda untuk resign," kata Gorick Ng, penasihat karir di Harvard College dan anggota fakultas di University of California, Berkeley.

"Di lain waktu, keputusannya adalah masalah kinerja, mungkin manajer Anda mencoba memberi Anda feedback, tidak melihat perubahan perilaku yang mereka inginkan dalam timeline yang mereka harapkan, [dan] jadi menyerah."

Apa sih tanda kamu mengalami 'quiet firing'?

1. Atasan menghindari obrolan

Salah satu indikasi seseorang mengalami quiet firing saat atasan menghindari obrolan dengan karyawan.

"Mereka mungkin sibuk, tentu saja, tetapi mereka juga bisa berpikir, 'Saya tahu ini akan menjadi sangat canggung, sangat cepat, jadi biarkan saya menyembunyikan wajah saya,'" katanya.

Menurutnya, mengubah atau membatalkan rapat karyawan juga bisa menjadi tanda pemecatan diam-diam atau quiet firing.

"Tugas nomor satu Anda sebagai manajer adalah memastikan bahwa orang-orang di tim mereka bahagia, sukses, dan berkembang, serta menyingkirkan rintangan dan penghalang dari jalan mereka. Jika manajer Anda tidak meluangkan waktu untuk memahami pekerjaan Anda, maka ada masalah," katanya kepada HuffPost.

"Apakah itu karena manajer Anda tidak percaya pada Anda atau apakah itu karena itu adalah tempat yang tidak mendukung manajer dan pemimpin untuk dapat menjaga orang-orang mereka, ini bukan lingkungan di mana Anda dapat tumbuh dan berkembang," tambahnya.

2. Peluang diutamakan pada karyawan lain

Peluang besar umumnya lebih diutamakan pada karyawan lain. Misalnya dalam suatu proyek, atasan sebelumnya berjanji memberikan tugas tersebut kepada seseorang, mendadak mengalihkan tugasnya pada karyawan lain.

"Pengalihan adalah ketika manajer Anda, yang sebelumnya telah berjanji untuk memberi Anda tugas tertentu, tiba-tiba mengalihkan pekerjaan itu kepada orang lain," katanya.

"Mereka mungkin berubah pikiran, tentu saja, tetapi mereka juga bisa berpikir: 'Saya tidak mempercayai Anda. Izinkan saya memberikan proyek profil tinggi ini kepada seseorang yang saya kenal akan melakukan pekerjaan ini dan melakukannya dengan baik.'"

Ng menyarankan, jika mengalami hal tersebut, coba bertanya dengan rekan kerja lain apakah pernah mendapatkan perilaku serupa, khususnya bagaimana dengan cara atasan memberikan tugas kepada masing-masing karyawan.

"Langkah pertama untuk memecahkan situasi adalah dengan mendiagnosis situasi. Apakah perilaku manajer Anda benar-benar berubah karena mereka diam-diam memecat Anda?" dia berkata.

"Atau mungkin Anda terlalu banyak membaca situasi dan menafsirkan setiap tindakan mereka dengan malapetaka dan kesuraman dalam pikiran?"

3. Promosi dan kenaikan gaji tak jelas

Atasan biasanya memiliki alasan jelas terkait promosi dan kenaikan gaji. Namun, dalam kasus quiet firing, umumnya karyawan tidak mengetahui hal tersebut.

Seseorang yang mengalami quiet firing kerap bingung apa yang dibutuhkan untuk segera mendapatkan promosi dan kenaikan gaji saat banyak karyawan lain menerimanya.

"Anda mungkin hanya mendapatkan kenaikan gaji kecil sementara yang lain menerima lebih banyak, atau Anda mungkin secara konsisten dilewatkan untuk promosi meskipun Anda bekerja sekeras rekan-rekan Anda," kata pakar.

"Jika mereka tidak dapat memberitahu Anda, maka bagi saya itu bukan tempat di mana Anda memiliki lintasan atau akan memiliki peluang untuk berkembang," kata Dilber. "Tugas majikan Anda untuk memberi tahu Anda itu secara proaktif."

4. Penilaian kinerja subjektif

Terkadang, rencana peningkatan kinerja merupakan peluang nyata bagi karyawan untuk berkembang. Namun, jika seseorang yang kompeten hanya menerima feedback subjektif, bisa jadi itu kode dipaksa resign atau quiet firing.

"Jika tindakan benar-benar tidak dapat dicapai dan sangat tidak mungkin untuk disampaikan dalam kerangka waktu yang diharapkan, atau jika atasan dan pemangku kepentingan Anda tidak menawarkan dukungan apapun agar Anda berhasil mencapai semua tugas Anda, kemungkinan itu quiet firing," sebut Nadia De Ala, pendiri program pembinaan kelompok Real You Leadership, sebelumnya mengatakan kepada HuffPost.

5. Beban pekerjaan berubah

Petunjuk lain bahwa kamu diam-diam dipecat adalah ketika ekspektasi atasan berubah tanpa masukan dari Anda dan tanpa penyesuaian gelar atau gaji, kata pelatih karir Jasmine Escalera.























Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Baru Lagi, Muncul Tren 'Quiet Firing' Dipaksa Resign atau Diam-diam Dipecat"