Hagia Sophia

14 May 2023

Pria Ini Alami Penyakit Misterius Usai Buka Makam Mesir Kuno

Mumi Mesir kuno. (Foto: REUTERS/MOHAMED ABD EL GHANY)

Melihat dan memasuki makam Mesir Kuno adalah suatu pengalaman yang banyak diimpikan oleh arkeolog. Namun, bagi Ramy Romany, hal ini justru malah membawa sebuah 'kutukan' baginya.

Romany menceritakan pada tahun 2019 ia ditugaskan menelusuri sebuah makan di kota Amarna untuk mencari tahu lebih banyak tentang firaun Akhenaten.

"Saya berada di Mesir di sebuah makam di Amarna. Tidak banyak orang pergi ke Amarna. Saya pergi ke sana karena saya mencoba untuk mengetahui lebih banyak tentang Akhenaten, saya masuk ke dalam makam yang belum dibuka selama 600 tahun," ungkapnya dikutip dari News18, Sabtu (13/5/2023).

Namun, dalam perjalanan kembali ke Kairo, dia mulai merasa tidak enak badan dan keesokan harinya terbangun dengan demam 42° C dan halusinasi. Bahkan, ia sampai batuk berdarah.

Meski begitu, Romany mengatakan sakit yang dideritanya setelah membuka makam mesir kuno bisa dijelaskan secara ilmiah.

Ketika melakukan penelusuran, makam itu dipenuhi kelelawar dan ular. Bau amonia yang menyengat dari urine kelelawar pun menyebabkannya merasa mual. Ketika ia berbicara ke kamera, udara yang kotor ini pun masuk ke dalam tubuh.

"Saya berteriak ke kamera dan menjadi sangat bersemangat dan saya menghirup semua omong kosong ini. Ular dan kelelawar, tapi mungkin kutukan Mumi juga bercampur," tambahnya.

Menurut para dokter, kombinasi antara kelelawar, ular, dan debu yang ditemui di dalam makan tidak baik untuk kesehatan. Inilah mengapa dirinya sampai mengalami hal tersebut.

Sering Terjadi Kepada Ahli Egyptologi

Bukan hanya Romany, sakit setelah melakukan penelusuran di makam mumi juga pernah dialami oleh arkeolog asal Inggris, Howard Carter, George Herbert, dan Lord Carnarvon ketika membuka makam firaun kuno di Mesir pada tahun 1922.

Tak seberuntung Romary, Carnarvon meninggal dua bulan setelah membuka makam tersebut. Hal ini pun menggemparkan banyak orang. Bahkan, surat kabar berspekulasi bahwa ia adalah korban dari kutukan firaun.

Alih-alih kutukan, Jurnal British Medical mengungkap bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antara potensi kutukan mumi dan kelangsungan hidup arkeolog, serta tidak ada tanda bahwa mereka yang terpapar 'kutukan' ini kemungkinan meninggal dalam 10 tahun.

Studi laboratorium baru-baru ini juga mengungkap bahwa beberapa mumi memang membawa jamur, termasuk dua spesies yang berpotensi berbahaya, yakni Aspergillus niger dan Aspergillus flavus. Jamur ini dapat menyebabkan reaksi alergi mulai dari sesak hingga pendarahan di paru-paru.

Racun bisa sangat berbahaya bagi orang dengan sistem kekebalan yang lemah. Beberapa dinding makam juga dapat ditutupi dengan bakteri yang menyerang pernapasan seperti Pseudomonas dan Staphylococcus.

Para ilmuwan juga mendeteksi gas amonia, formaldehida, dan hidrogen sulfida di dalam sarkofagus yang tersegel. Dalam konsentrasi yang kuat mereka dapat menyebabkan rasa terbakar di mata dan hidung, gejala seperti pneumonia, dan dalam kasus yang sangat ekstrim, kematian.

Kelelawar juga menghuni banyak kuburan yang digali, dan kotorannya membawa jamur yang dapat menyebabkan histoplasmosis penyakit pernapasan seperti influenza.

Selain itu, sanitasi saat melakukan penggalian kerap kali terabaikan oleh para arkeolog.

"Mengingat kondisi sanitasi pada saat itu secara umum, dan di dalam Mesir khususnya, Lord Carnarvon kemungkinan besar akan lebih aman di dalam makam daripada di luar," kata F. DeWolfe Miller, profesor epidemiologi di University of Hawaii di Manoa, dikutip dari National Geographic.

"Pada proyek arkeologi yang saya ikuti, kami umumnya tidak memakai masker atau [perlindungan lain terhadap bahan berbahaya] di dalam makam. Jika kita melakukannya, itu karena khawatir menghirup debu daripada jamur atau jamur," pungkasnya.





























Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Penjelasan Medis di Balik Penyakit Misterius Para Ahli Mesir Kuno usai Buka Makam Mumi"