Hagia Sophia

08 February 2026

Berat Badan Turun, Kenapa Asam Urat Justru Naik?

Asam urat naik gara-gara diet? Foto: Getty Images/Wand_Prapan

Berat badan mulai turun, baju terasa semakin longgar. Namun, hasil cek darah justru bikin kaget: kadar asam urat naik. Situasi ini cukup sering dialami orang yang sedang menjalani diet, terutama ketika pola makan berubah secara drastis. Alih-alih makin sehat, tubuh justru memberi "sinyal protes" lewat nyeri sendi atau lonjakan angka asam urat. Lantas, kenapa kondisi ini bisa terjadi, dan apakah berarti diet yang dijalani keliru?

Sebelum membahas lebih jauh, perlu dipahami bahwa diet yang dimaksud dalam artikel ini adalah pola makan untuk menurunkan berat badan, terutama yang dilakukan dengan pembatasan kalori cukup ketat, perubahan komposisi makan secara drastis, atau penurunan berat badan yang relatif cepat. Ini berbeda dengan diet medis tertentu, seperti diet rendah purin, yang justru dianjurkan bagi pengidap masalah asam urat.

Berat Badan Turun Drastis, Kenapa Asam Urat Justru Naik?

Saat diet dilakukan terlalu ketat dan berat badan turun dengan cepat, tubuh sebenarnya sedang "kaget". Kondisi ini paling sering terjadi pada fase awal diet, yakni dalam 3-7 hari pertama hingga sekitar 1-3 minggu pertama setelah pola makan diubah drastis. Untuk mencukupi energi, tubuh membakar lemak dan jaringan lebih banyak dari biasanya. Proses ini menghasilkan zat sisa, salah satunya keton, yang harus dibuang lewat ginjal.

Masalahnya, kemampuan ginjal terbatas. Ketika ginjal harus membuang banyak keton sekaligus, pembuangan asam urat jadi tidak maksimal. Akibatnya, asam urat bisa menumpuk sementara di dalam darah dan kadarnya meningkat.

Tak hanya itu, penurunan berat badan yang terlalu cepat juga membuat tubuh memecah jaringan dari dalam. Proses ini melepaskan zat yang kemudian diolah tubuh menjadi asam urat, meskipun orang tersebut tidak banyak mengonsumsi makanan tinggi asam urat.

Inilah sebabnya, pada sebagian orang, asam urat justru naik di awal diet, padahal pola makan terasa lebih sehat. Kabar baiknya, kondisi ini sering kali bersifat sementara dan bisa membaik jika diet dilakukan lebih bertahap serta kebutuhan cairan tercukupi.

Namun, bila penurunan berat badan berlangsung sangat cepat dan disertai keluhan nyeri sendi atau hasil pemeriksaan menunjukkan asam urat terus meningkat, pola diet yang dijalani sebaiknya dievaluasi.

Diet Tinggi Protein Bisa Picu Lonjakan Asam Urat

Saat diet, banyak orang memilih memperbanyak protein dengan harapan berat badan turun lebih cepat dan massa otot tetap terjaga. Pola ini umumnya dilakukan dengan meningkatkan konsumsi daging merah, ayam, telur, seafood, hingga kaldu daging. Namun tanpa disadari, diet tinggi protein terutama dari sumber hewani, bisa memicu kenaikan asam urat.

Pasalnya, sebagian makanan tinggi protein hewani juga mengandung purin. Di dalam tubuh, purin akan dipecah dan diubah menjadi asam urat (uric acid). Ketika asupan purin meningkat tajam, sementara tubuh juga sedang berada dalam fase penurunan berat badan, kadar asam urat lebih mudah melonjak.

Risiko ini makin besar jika diet dilakukan dengan:
  • porsi protein berlebihan
  • minim sayur dan serat
  • rendah karbohidrat secara ekstrem
Dalam kondisi tersebut, tubuh tidak hanya menerima purin dari makanan, tetapi juga menghasilkan purin dari pemecahan jaringan tubuh sendiri. Kombinasi inilah yang membuat sebagian orang mengalami asam urat naik meski merasa sudah "makan sehat".

Perlu dipahami, protein tetap penting saat diet. Namun, kuncinya ada pada keseimbangan. Protein sebaiknya tidak hanya bersumber dari hewani, tetapi juga dikombinasikan dengan protein nabati, sayur, dan asupan cairan yang cukup agar metabolisme asam urat tetap terkendali.

Kurang Minum Saat Diet, Risiko yang Sering Tak Disadari

Saat menjalani diet, fokus banyak orang tertuju pada pengaturan makan yaitu apa yang boleh dan tidak boleh dikonsumsi. Sayangnya, asupan cairan sering terabaikan. Padahal, kurang minum bisa menjadi salah satu pemicu naiknya asam urat saat diet.

Air berperan penting membantu ginjal membuang asam urat melalui urine. Ketika tubuh kekurangan cairan, urine menjadi lebih pekat dan kemampuan ginjal membuang asam urat ikut menurun. Akibatnya, asam urat lebih mudah menumpuk di dalam darah.

Risiko ini makin besar saat diet dikombinasikan dengan:
  • asupan protein tinggi
  • penurunan berat badan cepat
  • pembatasan karbohidrat
Dalam kondisi tersebut, tubuh menghasilkan lebih banyak zat sisa metabolisme, sementara cairan yang masuk justru berkurang. Sejumlah kajian reumatologi mencatat bahwa dehidrasi dapat meningkatkan kadar asam urat dan memicu nyeri sendi, terutama pada orang yang sudah memiliki kecenderungan hiperurisemia.

Karena itu, mencukupi kebutuhan cairan selama diet sama pentingnya dengan mengatur makanan. Minum air putih secara cukup membantu menjaga fungsi ginjal tetap optimal dan menurunkan risiko lonjakan asam urat selama proses penurunan berat badan.

Asam Urat Naik Saat Diet, Kapan Perlu Waspada?

Kenaikan asam urat saat diet tidak selalu berarti berbahaya. Pada banyak kasus, lonjakan ini bersifat sementara, terutama di fase awal saat tubuh masih beradaptasi dengan perubahan pola makan dan penurunan berat badan. Secara umum, kenaikan asam urat akibat penyesuaian diet paling sering terjadi dalam hitungan hari hingga beberapa minggu pertama setelah diet dimulai.

Namun, pada sebagian orang terutama yang menjalani diet sangat ketat, mengalami penurunan berat badan cepat, atau memiliki faktor risiko tertentu, kenaikan asam urat dapat bertahan lebih lama. Dalam praktik klinis, kadar asam urat biasanya dinilai ulang secara klinis dalam rentang sekitar satu sampai dua bulan pertama untuk menentukan apakah kondisi tersebut masih merupakan bagian dari adaptasi atau sudah menjadi masalah yang menetap.

Jika pada evaluasi tersebut kadar asam urat tetap tinggi, terus meningkat, atau disertai keluhan, kondisi ini sebaiknya tidak diabaikan. Terlebih bila muncul nyeri sendi mendadak, bengkak, kemerahan, atau rasa panas pada sendi terutama di jempol kaki, pergelangan, atau lutut.

Waspada juga diperlukan pada orang dengan faktor risiko tertentu, seperti:
  • riwayat asam urat tinggi atau nyeri sendi akibat asam urat sebelumnya
  • penyakit ginjal
  • hipertensi atau diabetes
  • konsumsi obat tertentu
Dalam situasi tersebut, diet sebaiknya tidak dilakukan secara ekstrem dan perlu dievaluasi. Penyesuaian pola makan, memperlambat laju penurunan berat badan, hingga konsultasi dengan tenaga medis dapat membantu mencegah komplikasi.

Intinya, diet yang baik seharusnya membuat tubuh terasa lebih sehat, bukan memunculkan keluhan baru. Jika asam urat naik disertai gejala atau tidak membaik setelah evaluasi, itu menjadi tanda bahwa tubuh membutuhkan pendekatan diet yang lebih aman dan seimbang.

Kondisi Lain yang Bisa Bikin Asam Urat Naik Saat Diet

Naiknya asam urat saat diet tidak selalu disebabkan satu faktor saja. Selain penurunan berat badan yang terlalu cepat, ada beberapa kondisi lain yang kerap terjadi bersamaan saat diet dan tanpa disadari ikut memicu lonjakan asam urat.

Salah satunya adalah puasa terlalu panjang atau pola intermittent fasting yang ekstrem. Dalam kondisi ini, tubuh lebih cepat masuk ke fase pembakaran lemak dan menghasilkan zat sisa metabolisme yang dapat menghambat pembuangan asam urat oleh ginjal.

Pembatasan karbohidrat yang terlalu ketat juga berperan. Saat asupan karbohidrat sangat rendah, tubuh memproduksi lebih banyak keton, sementara asam urat harus "mengantre" untuk dibuang. Akibatnya, kadar asam urat bisa meningkat meski asupan makanan terasa lebih terkontrol.

Faktor lain yang sering luput adalah kurangnya asupan serat dari sayur dan buah. Saat porsi makan dipangkas, konsumsi serat ikut turun, padahal serat membantu menjaga keseimbangan metabolisme yang berpengaruh pada kadar asam urat.

Selain itu, konsumsi alkohol, meski dalam jumlah kecil, serta olahraga terlalu berat tanpa cukup cairan, juga dapat memperberat kondisi tubuh saat diet. Kombinasi faktor-faktor ini membuat asam urat lebih mudah naik, terutama pada orang yang memang memiliki kecenderungan sebelumnya.

Karena itu, penting dipahami bahwa diet bukan hanya soal mengurangi makan, tetapi juga menjaga keseimbangan asupan, cairan, dan kondisi tubuh secara keseluruhan.

























Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Berat Badan Turun, Asam Urat Malah Naik? Mungkin Ini Penyebabnya"