Hagia Sophia

08 February 2026

Gejala Awal Wanita Kena Tumor Otak di Usia 27

Foto: Dok. Sisca sudah atas izin yang bersangkutan

Usia 27 tahun seharusnya jadi masa-masa saat rencana mulai matang, karier perlahan stabil, dan mimpi-mimpi disusun perlahan. Namun, itu semua runtuh seketika bagi Sisca Febriane (29), wanita di Jakarta Selatan saat dokter mendiagnosis dirinya mengidap tumor otak.

Kabar tersebut ia ketahui pada akhir 2023, saat usianya menginjak 27 tahun. Tak ada 'alarm' nyata dari tumor otak tersebut sebelumnya, hanya masalah-masalah 'kecil' yang bahkan ia anggap sebagai efek kelelahan bekerja.

"Awalnya ngerasa agak pusing, aku sering banget ngerasa pusing dan mat aku ada silinder dan emang agak sedikit jereng gitu kan. Aku masih nggak ada mikir aneh-aneh," kata Sisca kepada detikcom, Kamis (5/2/2026).

Namun, rasa pusing tersebut mulai membuatnya tak nyaman, sehingga Sisca memutuskan untuk ke rumah sakit mata memeriksakan kondisinya.

"Terus habis itu kata dokternya coba MRI (Magnetic Resonance Imaging). Nah pas MRI itu baru ketahuan ada tumor dan itu ukurannya sudah cukup besar. Makannya itu aku agak jereng," kata Sisca.

Operasi Pengangkatan Tumor

Tumor tersebut ada di bagian belakang otak Sisca. Beruntung, itu tidak mengganggu sistem kognitif dan ingatannya.

"Kata dokter kemarin ya murni kena saraf aja. Hampir menempel di batang otak, which is itu batang otak pusatnya otak kan, jadi sarafnya banyak banget," kata Sisca.

Tak ingin gegabah mengambil keputusan untuk operasi, Sisca mencari second opinion hingga ke negeri tetangga. Sayangnya, dokter di sana juga berkata hal yang sama.

"Aku sempet ke Malaysia buat nyari cara lain selain operasi. Waktu itu ada yang namanya gamma knife, ternyata udah nggak bisa karena tumor aku udah terlalu besar. Walau ke Malaysia atau ke luar negeri sekalipun tetap harus dioperasi," kata Sisca.

Gamma Knife surgery adalah metode pengobatan non-invasif (tanpa sayatan/bedah terbuka) berakurasi tinggi untuk mengatasi berbagai kelainan di otak, seperti tumor, malformasi arteriovenosa (AVM), dan neuralgia trigeminal.

Sisca menjalani operasi pada 24 Maret 2024. Tidak berhenti di situ, ujian kembali datang pascatindakan yakni dirinya mengalami koma hingga dua minggu. Tumor tersebut juga tidak bisa diangkat 100 persen dari kepalanya.

Dirinya juga kehilangan kendali penuh pada sebagian tubuhnya, sehingga kesulitan berjalan dan melakukan aktivitas seperti sediakala.

Semua Karena Gaya Hidup

Sisca mengatakan, tumor otak memang bisa berangkat dari banyak faktor baik itu diwariskan atau karena gaya hidup. Namun, pada kasusnya, gaya hidup buruk berperan besar.

"Kalau di-flashback gitu, zaman dulu aku sering banget minum yang manis-manis, sama jajan sembarangan gitu. Aku konsumsi kopi, terus minum boba cukup sering. Misal hari ini kopi, besok boba," kata Sisca.

"Bahkan dulu sempat ada festival boba, aku datang. Sehari itu aku bisa 3,4, atau 5 ya (minum) boba merek berbeda, saking sukanya sama boba. Agak ekstrem memang," sambungnya.

Kebiasaan ini juga didukung oleh pola kerja Sisca yang tidak sehat. Dirinya bisa berangkat kerja pagi dan selesai hingga dini hari.

"Kayak kerja tuh dari jam 8 pagi, kadang pulang kerja itu sampai jam 1 malam karena aku ada meeting-meeting gitu kan atau jam 2 pagi, bahkan jam 3," kata Sisca.

Saat ini Sisca rutin menjalani rehabilitasi untuk mengembalikan fungsi saraf dan otot-otot, khususnya di bagian bawah.

"Kalau sekarang semuanya sudah bisa digerakin, cuman terbatas," tutupnya.

























Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Kisah Wanita Jaksel Kena Tumor Otak di Usia 27, Ini Gejala Awalnya"