Hagia Sophia

08 February 2026

Menkes Kembali Soroti Banyaknya Pasien Indonesia yang Milih Berobat ke LN

Foto: Tara Wahyu NV/detikJateng

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyoroti fenomena banyaknya pasien Indonesia yang memilih berobat ke luar negeri untuk terapi kanker darah, padahal layanan serupa mulai tersedia di dalam negeri.

Menurut Budi, salah satu terapi paling penting untuk kanker darah adalah bone marrow transplant atau transplantasi sumsum tulang. Namun, layanan ini lama sekali nyaris tidak berjalan di Indonesia.

"Saya malu sebagai Menteri Kesehatan negara besar, kenapa treatment untuk kanker darah yang paling ujung, yang namanya bone marrow transplant, kita pun sedikit sekali," sorotnya dalam peringatan Hari Kanker Sedunia, Rabu (4/2/2026).

Ia mengaku sempat menanyakan ke sejumlah rumah sakit besar apakah prosedur tersebut pernah dilakukan. Jawabannya, membuatnya terkejut.

"Pernah, tapi puluhan tahun yang lalu."

Menkes kemudian 'memaksa' salah satu rumah sakit rujukan untuk kembali menjalankan layanan transplantasi sumsum tulang sekitar dua tahun lalu. Kini, prosedur tersebut sudah rutin dilakukan dengan tingkat keberhasilan yang cukup tinggi pada pasien dewasa.

Tantangan berikutnya adalah pasien anak. Keberhasilan pada anak masih rendah karena risiko infeksi pasca-transplantasi jauh lebih besar.

Meski begitu, Budi melihat harapan dari satu rumah sakit di Jakarta yang memiliki dokter dengan kemampuan melakukan bone marrow transplant pada anak.

"This is the first time I saw. Seenggaknya sudah bisa."

Persoalan berikutnya, kata Menkes, bukan lagi pada kemampuan medis semata, melainkan pada koordinasi dan kemauan untuk bekerja bersama.

"Makin pintar kita kadang-kadang ego-nya makin tinggi. Untuk bisa duduk bareng-bareng melakukan bone marrow transplant untuk anak-anak."

Alasan yang paling sering muncul dari fasilitas kesehatan, menurutnya, adalah biaya yang mahal.

Di sisi lain, ia melihat fakta yang justru bertolak belakang di masyarakat.

"Selalu jawabannya mahal. Tapi ratusan ribu orang Indonesia ke luar negeri bisa bayar. Saya kadang-kadang garuk-garuk kepala, kok orang Indonesia bisa bayar di Thailand sama Malaysia?"

Budi menyebut, saat ia meminta dokter di dalam negeri menjalankan prosedur tersebut, alasan yang muncul selalu sama: mahal. Namun, pada saat yang sama, ribuan pasien Indonesia tercatat pergi ke luar negeri untuk mendapatkan layanan yang sama.

"Kalau saya tanya ke dokter-dokter di Indonesia, lakukan bone marrow transplant. Jawabannya: Pak, mahal. Tapi seribuan orang Indonesia yang keluar negeri."

Ia menilai ada yang keliru yang perlu diperbaiki, bukan hanya dari sisi sistem layanan kesehatan, tetapi juga dari pola pikir dan semangat bersama untuk membangun kemampuan di dalam negeri.

Menkes mengakui penanganan kanker anak masih memiliki banyak pekerjaan rumah yang sangat spesifik. Begitu pula dengan kanker payudara yang baru mulai diperkuat lewat skrining masif.

Di akhir pernyataannya, Budi mengungkap alasan personal yang membuatnya sangat peduli pada isu kanker.

"Ibu saya meninggal karena kanker. Ayah saya juga meninggal karena kanker. Lymphoma dan Multiple Myeloma. Jadi secara personal, saya punya compassion untuk menurunkan kejadian kanker di Indonesia."

Menurutnya, sudah saatnya layanan kanker tingkat lanjut diperkuat di dalam negeri agar pasien Indonesia tidak lagi merasa perlu mencari harapan pengobatan ke luar negeri.

























Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Menkes Garuk-garuk Kepala, Banyak Pasien Kanker Berobat di Malaysia hingga Thailand"