![]() |
| Foto: Getty Images/Lauren DeCicca |
Para peneliti penyakit menular mengidentifikasi Pteropine orthoreovirus (PRV), virus orthoreovirus baru yang ditularkan dari kelelawar, pada sampel usap tenggorok dan kultur virus yang telah diarsipkan dari lima pasien di Bangladesh. Kelima pasien tersebut sebelumnya diduga terinfeksi virus Nipah, namun hasil tes menunjukkan negatif.
Temuan ini menambah daftar virus zoonosis yang terdeteksi pada manusia di Bangladesh serta menunjukkan bahwa PRV perlu dipertimbangkan dalam diagnosis banding penyakit yang menyerupai infeksi Nipah. Studi ini diterbitkan dalam jurnal Emerging Infectious Diseases pada Desember 2025.
Seluruh pasien diketahui sempat mengonsumsi nira kurma (date-palm sap) mentah, cairan manis yang juga dikonsumsi kelelawar, terutama pada musim dingin.
Nira kurma mentah selama ini dikenal sebagai salah satu jalur penularan virus Nipah di Bangladesh. Kelelawar sendiri merupakan reservoir alami berbagai virus zoonosis yang telah dikenal maupun yang baru ditemukan, seperti rabies, Nipah, Hendra, Marburg, dan SARS-CoV-1.
"Temuan kami menunjukkan bahwa risiko penyakit akibat konsumsi nira kurma mentah tidak hanya terbatas pada virus Nipah," ujar Nischay Mishra, PhD, profesor madya epidemiologi di Center for Infection and Immunity (CII), Columbia University Mailman School of Public Health, sekaligus penulis senior studi tersebut, dikutip dari situs web resmi Columbia University, Rabu (4/2/2026).
Ia menegaskan pentingnya program pengawasan berspektrum luas untuk mengidentifikasi dan mengurangi risiko kesehatan masyarakat dari virus baru yang ditularkan oleh kelelawar.
Pada periode Desember 2022 hingga Maret 2023, lima pasien dirawat dengan gejala yang konsisten dengan infeksi virus Nipah, seperti demam, muntah, sakit kepala, kelelahan, peningkatan air liur, serta gangguan neurologis.
Meski demikian, hasil pemeriksaan PCR dan serologi menunjukkan seluruh pasien negatif virus Nipah. Peneliti kemudian menggunakan metode high-throughput agnostic viral capture sequencing (VCS) untuk menganalisis sampel biologis pasien.
Hasilnya, sekuens PRV terdeteksi pada sampel usap tenggorok yang diarsipkan. Virus PRV juga berhasil dikultur dari tiga sampel, yang menunjukkan adanya virus infeksius aktif.
Para pasien terdaftar dalam program surveilans virus Nipah yang dijalankan oleh Institute of Epidemiology, Disease Control and Research (IEDCR) Bangladesh, International Centre for Diarrheal Disease Research, Bangladesh (icddr,b), serta Centers for Disease Control and Prevention (CDC) Amerika Serikat.
Kelima pasien tersebut mengalami penyakit berat. Padahal, laporan infeksi PRV di negara tetangga umumnya menunjukkan gejala yang lebih ringan. Hal ini mengindikasikan kemungkinan adanya kasus PRV dengan gejala ringan di Bangladesh yang belum terdeteksi.
"Ini merupakan tambahan baru kasus limpahan zoonosis yang menyebabkan komplikasi pernapasan dan neurologis setelah konsumsi nira kurma mentah, selain infeksi virus Nipah," ujar Tahmina Shirin, PhD, Direktur IEDCR sekaligus Direktur Pusat Influenza Nasional Bangladesh.
Dalam penelitian lanjutan yang didukung Departemen Pertanian Amerika Serikat, Mishra dan timnya juga mengidentifikasi sumber infeksi dengan menemukan PRV yang secara genetik serupa pada kelelawar yang ditangkap di sekitar lokasi kasus manusia di wilayah Daerah Aliran Sungai Padma.
"Penelitian ini memberikan bukti penting yang menghubungkan reservoir kelelawar dengan infeksi pada manusia. Saat ini kami tengah mempelajari mekanisme penularan dari kelelawar ke manusia dan hewan domestik, serta ekologi virus baru yang ditularkan kelelawar di komunitas sekitar DAS Padma," kata Ariful Islam, ekologi dan epidemiolog penyakit yang ditularkan kelelawar dari Charles Sturt University, Australia.
Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Virus Kelelawar Baru Mirip Nipah Ditemukan pada Manusia di Bangladesh"
