![]() |
| Ilustrasi (Foto: REUTERS/Dawoud Abu Alkas) |
Fajar pada 10 Agustus 2024 menjadi momen yang tak akan pernah dilupakan Yasmin Mahani. Di tengah reruntuhan sekolah al-Tabin yang masih berasap di Kota Gaza, ia berjalan terhuyung mencari putranya, Saad. Di sana ia menemukan suaminya berteriak histeris, namun Saad seolah raib ditelan bumi.
"Saya masuk ke dalam masjid dan menyadari saya sedang menginjak potongan daging dan genangan darah," kenang Yasmin dengan pilu. Berhari-hari ia menyisir rumah sakit dan kamar mayat, namun hasilnya nihil.
"Kami tidak menemukan apa pun tentang Saad. Bahkan tidak ada jasad untuk dikuburkan. Itu adalah bagian yang paling berat."
Kisah Yasmin adalah potret satu dari ribuan keluarga di Gaza yang kehilangan orang tercinta tanpa meninggalkan jejak fisik sedikit pun. Investigasi terbaru dari Al Jazeera Arabic bertajuk The Rest of the Story mengungkapkan fakta warga Palestina dilaporkan "menguap" sejak konflik pecah pada Oktober 2023.
Metode Eliminasi Forensik
Juru bicara Pertahanan Sipil Gaza, Mahmoud Basal, menjelaskan bahwa angka 2.842 tersebut didapat melalui proses akuntansi forensik yang ketat di lokasi serangan.
"Kami menggunakan metode eliminasi. Jika keluarga melaporkan ada lima orang di dalam rumah saat serangan terjadi, namun kami hanya menemukan tiga jenazah yang utuh, maka dua orang lainnya dikategorikan sebagai 'menguap' setelah pencarian menyeluruh tidak membuahkan hasil," ujar Basal.
Keluarga korban seringkali hanya menemukan sisa-sisa biologis yang sangat minim, seperti kulit kepala atau bercak darah pada reruntuhan bangunan, tanpa ada tubuh untuk dimakamkan secara layak.
Kimiawi di Balik 'Penghilangan' Tubuh
Secara medis dan kimia, tubuh manusia yang terdiri dari sekitar 80 persen air tidak akan mampu bertahan dalam suhu ribuan derajat. Dr. Munir al-Bursh, Direktur Jenderal Kementerian Kesehatan di Gaza, menjelaskan mekanisme biologis yang terjadi.
"Titik didih air adalah 100 derajat Celsius. Ketika tubuh terpapar energi panas melebihi 3.000 derajat yang dikombinasikan dengan tekanan besar, cairan tubuh akan mendidih secara instan. Jaringan tubuh menguap dan berubah menjadi abu. Secara kimiawi, itu tidak terelakkan," jelas al-Bursh.
Senjata termobarik, atau yang sering disebut bom vakum, bekerja dengan menyebarkan awan bahan bakar yang kemudian meledak menjadi bola api raksasa. Untuk meningkatkan suhu pembakaran, campuran kimia seperti bubuk aluminium, magnesium, dan titanium ditambahkan agar panas yang dihasilkan mencapai 2.500 hingga 3.000 derajat Celsius.
Penggunaan senjata yang mampu melenyapkan materi organik secara total ini memicu perdebatan hukum yang serius. Pakar hukum menyebutkan bahwa senjata yang tidak mampu membedakan antara warga sipil dan kombatan dapat dikategorikan sebagai kejahatan perang.
Diana Buttu, pengacara dan dosen di Georgetown University, menekankan bahwa tanggung jawab ini bukan hanya milik pihak yang menyerang, tetapi juga negara-negara pemasok senjata.
Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Keji! Israel Pakai Senjata Bikin Jasad Warga Palestina Hilang dan 'Menguap'"
