Hagia Sophia

16 February 2026

Kebiasaan Main Medsos Menghambat Pertumubuhan Tinggi Badan Anak?

Medical & Scientific Affairs Director Danone SN Indonesia, Dr dr Ray Wagiu Basrowi, MKK, FRSPH (Foto: Sarah Octaviani Alam/detikHealth)

Kebiasaan anak yang terlalu lama menatap layar gawai, bermain media sosial, atau menonton video tanpa jeda ternyata tak hanya berdampak pada kesehatan mata dan konsentrasi. Lebih dari itu, pola hidup sedentari ini bisa ikut menghambat proses pertumbuhan tinggi badan anak.

Medical & Scientific Affairs Director Danone SN Indonesia, Dr dr Ray Wagiu Basrowi, MKK, FRSPH, menjelaskan pertumbuhan ideal anak tidak cukup hanya mengandalkan asupan nutrisi. Ada tiga pilar utama yang harus berjalan bersamaan, yakni nutrisi, stimulasi fisik, dan pola asuh.

"Sebenarnya untuk menjadi ideal itu butuh tiga pilar. Pertama aspek kunci nutrisi, kedua harus ada stimulasi, dan ketiga pola asuh. Nutrisi saja biasanya tidak akan efektif," jelas dr Ray saat ditemui pasca agenda Health Corner 'Gizi Lengkap, Anak Tinggi dan Cepat Tanggap' di Gedung Trans TV, Jumat (13/2/2026).

Menurutnya, zat gizi penting untuk pertumbuhan tulang dan otot, seperti kalsium, zat besi, dan vitamin C, tidak akan bekerja optimal bila anak kurang bergerak. Nutrisi tersebut membutuhkan dukungan aktivitas fisik agar dapat dimanfaatkan tubuh secara maksimal.

"Zat-zat gizi itu akan lebih optimal kalau dibarengi dengan aktivitas fisik. Karena ada enzim-enzim tertentu yang hanya keluar saat anak bergerak dan saat istirahat," lanjut dia.

Di sinilah masalah muncul ketika anak lebih banyak menghabiskan waktu di depan layar.

"Kalau asupan nutrisinya sudah bagus tapi aktivitasnya dihabiskan di depan TV atau media sosial, maka growth hormone ini tidak akan keluar," tegasnya.

Growth hormone atau hormon pertumbuhan berperan penting dalam memanjangkan tulang dan membentuk otot. Hormon ini hanya diproduksi optimal saat anak aktif bergerak dan mendapatkan waktu istirahat yang cukup.

"Growth hormone ini adalah 'penendang' supaya tulang memanjang dan otot menjadi lebih kompak. Ini terpenuhi kalau ada aktivitas fisik yang proper dibarengi istirahat cukup. Kalau aktivitas berlebihan tapi kurang istirahat juga tidak bagus. Percuma zat gizinya," jelas dr Ray.

Tak hanya itu, stimulasi dari interaksi dengan orang dewasa juga memegang peranan penting. Pendekatan ini disebutnya sebagai combo approach yang telah dibuktikan dalam berbagai penelitian longitudinal, mampu membantu anak mencapai pertumbuhan optimal.

"Harus ada stimulasi yang dibarengi interaksi orang dewasa. Ini sudah banyak penelitian klinis bahwa anak bisa mencapai pertumbuhan optimal dengan pendekatan kombinasi ini," katanya.

Menurut dr Ray, orang tua tidak boleh hanya fokus pada ukuran fisik atau antropometri semata. Aspek kognitif dan sosial anak juga harus tumbuh seiring dengan fisiknya.

"Jangan cuma mengejar antropometri. Harus ada indikator akademik dan sosial. Anak yang tidak dibarengi kemampuan bersosialisasi yang baik biasanya juga tidak akan menjadi sumber daya manusia yang optimal," tuturnya.

Karena itu, ia mengingatkan pentingnya keseimbangan antara nutrisi yang baik, aktivitas fisik rutin, istirahat cukup, serta pola asuh dan stimulasi yang tepat.

"Paket kombo nutrisi, pergerakan fisik, istirahat cukup, plus pengasuhan yang baik dan stimulasi, ini yang bisa membuat si kecil menjadi generasi yang baik di masa depan," pungkasnya.

























Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Hati-hati! Keseringan Main Medsos Bisa Hambat Tinggi Badan Anak, Ini Kaitannya"