![]() |
| warga Jepang (istimewa) |
Jepang 'berhasil' keluar dari sebutan negara kate. Istilah ini sempat melekat di Negeri Sakura lantaran rata-rata tinggi badan populasi Jepang semula 'hanya' 160 sampai 165 sentimeter.
Berkat reformasi kebijakan terkait gizi, rata-rata tinggi badan warga Jepang menurut World Data Average Body Height saat ini, sudah berada di atas 170 cm bahkan 180 cm.
Menurut Medical & Scientific Affairs Director Danone SN Indonesia Dr dr Ray Wagiu Basrowi, MKK, FRSPH, apa yang terjadi di Jepang menandakan potensi tinggi badan seseorang jelas tidak semata-mata dipengaruhi profil DNA. Nutrisi justru berperan penting dalam tumbuh kembang anak.
Hal ini juga dibuktikan melalui sejumlah riset para pakar terkait Developmental Origins of Health and Disease (DOHaD), yang menunjukkan penentu tinggi badan justru lebih banyak didominasi nutrisi dan lingkungan, meski DNA tetap berperan.
"Jadi DNA itu memang warisan dari orang tua yang memegang modal kunci untuk salah satunya menjadi sehat, menjadi lebih pintar, menjadi lebih tinggi, tapi kontribusi DNA itu sudah banyak penelitian mengatakan semakin kecil modalnya, ini ada sudah di bawah 5 persen, di bawah 10 persen, tetapi tidak lebih besar dari asupan nutrisi dan stimulasi dari environment," tegas dr Ray, ditemui detikcom di acara Health Corner, Jumat (13/2/2026).
Bukan tanpa sebab, gizi yang cukup menjadi modal tinggi badan anak, terlebih bila dibarengi intensitas sedang aktivitas fisik juga waktu istirahat yang cukup. Menurut dr Ray, di dua momen tersebut, growth hormone tengah bekerja.
"Growth hormone ini adalah penendang, tukang nendang supaya tulang memanjang dan otot itu menjadi lebih kompak, nah ini biasanya akan terpenuhi kalau aktivitas fisik yang proper, dibarengi istirahat yang cukup," lanjut dia.
"Dulu kan Jepang dibilang sebagai negara kate, kemudian di tahun 70-an mereka melakukan reformasi nutrisi pada anak kecil, anak balita, sampai kemudian kita melihat anak jepang sekarang banyak yang tingginya sampai 170, 180, karena ternyata DNA orang Jepang yang katanya tanda kutip bangsa kate ini bisa dimodifikasi dengan asupan nutrisi dan stimulasi, termasuk physical activity dan stimulasi kognitif," sambung dr Ray.
Pendekatan konsep DOHaD disebutnya membuktikan DNA hanya menjadi modal awal pertumbuhan anak. Selebihnya, asupan nutrisi bisa menjadi modifikasi yang baik bagi tumbuh kembang anak.
"Ini harus komplit, zat gizi makro dan zat gizi mikro ditambah dengan stimulasi itu pasti DNA ini akan mencapai potensi yang jauh lebih besar dibanding potensi yang digariskan orangtua," pungkasnya.
Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Tinggi Badan Bukan Takdir Genetik, Ilmuwan Contohkan Pertumbuhan Fisik Orang Jepang"
