Hagia Sophia

16 February 2026

Kemenkes Kejar Angka Kesembuhan Kanker pada Anak di Indonesia

Ilustrasi kanker (Foto: Getty Images/iStockphoto/SewcreamStudio)

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) pada tahun 2024 meluncurkan Rencana Aksi Nasional (RAN) Kanker Anak Tahun 2025-2029 untuk meningkatkan angka kesembuhan kanker pada anak di Indonesia. Ini dilakukan karena kasus kanker anak masih tinggi dan tingkat kesembuhan masih rendah.

Melalui program tersebut, Kemenkes berkomitmen untuk meningkatkan angka kesembuhan kanker anak di Indonesia dari angka 24 persen menjadi lebih dari 50 persen. Sudah sampai di tahun 2026, apakah target ini masih realistis tercapai?

Berkaitan kabar terkini program tersebut, Direktur Penyakit Tidak Menular Kemenkes RI, Siti Nadia Tarmizi mengungkapkan pencapaian angka kesembuhan di atas 50 persen perlu dilakukan secara bertahap. Salah satu yang menjadi fokus saat ini adalah meningkatkan layanan perawatan kanker anak di Indonesia.

"Saat ini impact kesembuhan 50 persen baru dapat dicapai di 2029 dan ini bisa didapatkan secara bertahap. Yang kita lakukan saat ini memperkuat dulu dari sisi layanan seperti adanya centre of excellence merata di seluruh bagi Indonesia," ujar Nadia pada detikcom, Senin (9/2/2026).

Demi memastikan target tersebut tercapai, Nadia mengatakan pihaknya akan terus bekerja sesuai dengan apa yang direncanakan dalam RAN. Dalam program tersebut, telah diidentifikasi berbagai upaya yang bisa dilakukan untuk meningkatkan layanan kanker anak, termasuk percepatan bila memungkinkan.

"Cara mempercepat dengan melaksanakan sesuai dengan apa yang sudah direncanakan, karena dalam RAN sudah diidentifikasi upaya-upaya yang dilakukan, termasuk percepatan bila memungkinkan. Karena kanker anak ada beberapa hal yang masih menjadi tantangan misalnya untuk diagnostik dini dan juga dari sisi obat obatan yang masih terbatas," tambah Nadia.

Ketua Unit Kerja Koordinasi (UKK) Hemato Onkologi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) dr Eddy Supriyadi, SpA, SubspHOnk(K), PhD mengungkapkan target kesembuhan di atas 50 persen itu sebenarnya berasal dari target Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

WHO menargetkan enam jenis kanker anak prioritas, meliputi leukemia, limfoma burkitt, limfoma hodgkins, retinoblastoma, tumor wilms, dan glioma derajat rendah, memiliki angka kesembuhan di atas 60 persen.

Angka 50 persen kemudian dipilih berdasarkan jumlah dua kali dari angka kesembuhan saat ini yang berada di kisaran 24-25 persen. dr Eddy memperkirakan untuk beberapa jenis kanker target tersebut mungkin akan tercapai sesuai target tersebut, tapi bagi sebagian lainnya belum.

"Jadi di akhir 2030 mungkin kita targetkan bahwa kesembuhan 6 kanker prioritas tadi itu di atas 50 persen, yang mana ya untuk kanker tertentu iya, tapi untuk kanker yang lain kita sepertinya tidak," ujar dr Eddy pada detikcom, dalam sebuah kesempatan.

Agar target tersebut tercapai, menurut dr Eddy setiap aspek dalam pengelolaan kanker anak harus berjalan dengan baik. Ini bukan hanya soal obat dan dokter, tapi bagaimana faktor dukungan psikologis, fasilitas merata, hingga sistem yang baik.

Ketua Yayasan Kasih Anak Kanker Indonesia (YKAKI), Ira Soelistyo menilai target tersebut kurang realistis apabila melihat kondisi perawatan kanker anak saat ini. Salah satu yang disoroti masih kurang sinkronnya kerjasama antara dokter multidisiplin dan pemerintah dalam menemukan pedoman pengelolaan kanker anak yang matang.

"Kami sering miris menghadapi hal-hal yang seharusnya tidak terjadi yang lebih mementingkan ego sektoral atau pribadi daripada pasien," ujar Ira.

Meski demikian, ia tetap menyambut baik adanya RAN kanker anak tersebut. Menurutnya, penanganan kanker anak di Indonesia sudah berada di 'jalan yang tepat'. Tinggal bagaimana nanti pemerintah dan setiap pihak terkait melakukan implementasi dengan baik.

"Kita sangat-sangat bergandengan tangan dengan Kemenkes, terutama bapak Budi Gunadi Sadikin (Menteri Kesehatan), beliau concern sekali. Berkat bantuan beliau, lumayan cepat perkembangan dari kanker anak, dengan diluncurkannya RAN (Rencana Aksi Nasional) yang juga termasuk kanker anak, yang dulu-dulu kanker anak tidak pernah diperhitungkan," ujar Ira.

Kemajuan Pengobatan Kanker di RIKemajuan pengobatan kanker anak di Indonesia terus didorong oleh Kemenkes dan juga tim dokter di Indonesia. Salah satu yang menjadi perhatian khusus adalah kanker mata atau retinoblastoma.

Retinoblastoma diketahui menjadi penyebab kematian akibat kanker pada anak nomor dua, setelah leukemia atau kanker darah. Spesialis mata Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) Kencana Jakarta, Prof dr Rita Sita Sitorus, SpM, SubspPOS, PhD menjelaskan, saat ini berkembang beberapa alternatif baru pengobatan alternatif perawatan yang bisa ditawarkan pada pasien kanker retinoblastoma .
Salah satunya adalah dengan prosedur injeksi intra arterial dan prosedur injeksi intravitreal kemoterapi. Keunggulan dari kedua prosedur ini adalah pasien bisa mempertahankan penglihatannya sehingga kualitas hidup tetap baik.

"Keunggulannya dokter bisa mempertahankan bola matanya, sehingga penglihatan terjaga. Kualitas hidup pasien jadi bisa dipertahankan," ujar Prof Rita saat dihubungi detikcom.

Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono mengungkapkan pihaknya masih sangat optimistis target RAN kanker anak bisa tercapai di tahun 2029. Ia menyebut penyakit kanker, khususnya pada anak, harus ditangani secara komprehensif dan seluruh biaya ditanggung BPJS Kesehatan.

Selain memastikan pengobatan gratis bagi pasien kanker anak, ia juga memastikan Kemenkes akan terus memperluas pelayanan kanker. Salah satunya dengan membuat 514 fasilitas pelayanan kanker di rumah sakit seluruh Indonesia.

"Nah, itu kita harapkan nanti kanker-kanker anak, kanker-kanker dewasa tidak hanya diatasi di Jakarta, tetapi di seluruh kabupaten atau kota di Indonesia, rumah sakit umum daerahnya bisa menangani kasus-kasus kanker. Jadi optimis sekali (target RAN kanker anak tercapai)," kata Wamenkes beberapa waktu lalu.

























Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Siasat RI Kejar Angka Kesembuhan Kanker Anak 50 Persen, Bisakah Tercapai?"