Hagia Sophia

21 February 2026

Penjelasan Pakar Terkait TBC yang Kasusnya Lagi Meledak di Malaysia

Petugas kesehatan menguji dahak dari seorang pasien melalui alat tes cepat molekuler tuberkulosis (Foto: ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi)

Menteri Kesehatan Malaysia Dzulkefly Ahmad melaporkan telah terdeteksi 10 klaster TBC (Tuberkulosis) di tujuh negara bagian. Fenomena TBC di Malaysia dianggap berbahaya karena sifatnya yang laten.

Menurut Dzulkefly, banyak orang mungkin sudah terpapar tanpa menyadarinya karena bakteri tersebut bersifat 'tidur' di dalam tubuh. Lalu, apa itu 'TBC Laten'?

Ketua Majelis Kehormatan Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) Prof Tjandra Yoga Aditama mengatakan TBC Laten adalah mereka yang pernah terinfeksi tuberculosis.

"Jadi ada kuman TB dalah tubuhnya, tetapi kuman itu dalam keadaan 'dorman', katakanlah semacam tidur dan tidak aktif," kata Prof Tjandra kepada detikcom, Rabu (18/2/2026).

"Jadi walaupun ada kuman TB dalam tubuh tapi mereka yang Tuberkulosis Laten tidaklah sedang mendeita sakit TB, tidak ada gejala apa-apa, dan situasi ini dapat berlangsung bahkan bertahun-tahun lamanya selama daya tahan tubuh tetap baik," lanjutnya.

Kuman ini, lanjut Prof Tjandra akan 'bangun' saat daya tahan tubuh inangnya kurang baik.

"Nah, kalau daya tahan tubuhnya turun maka kuman TB yang 'dorman' yang tidur tadi akan bangkit dan membuat orangnya menjadi mengalami penyakit tuberkulosis aktif dengan segara gelaja dan penularannya," katanya.

Slow-Burn Epidemic

Meledaknya kasus TBC di Malaysia, beberapa pakar setempat juga menyinggung soal slow-burn epidemic imbas kenaikan kasus yang stabil namun terus-menerus selama satu dekade terakhir.

Dalam kondisi ini, menurut Prof Tjandra yang juga Badan Pengawas Perkumpulan Pemberantasan Tuberkulosis Indonesia (PPTI), TBC merupakan epidemi yang setidaknya memiliki tiga dimensi.

"Pertama adalah persisten, terus menerus ada di berbagai negara di dunia, termasuk di Malaysia dan tentunya juga di negara kita. Kedua, seakan-akan dampaknya dari waktu ke waktu tidaklah terlalu besar, sehingga seringkali luput dan tidak disadari sebagai epidemi," kata Prof Tjandra.

"Ketiga, kasusnya dapat meningkat, seperti yang terjadi di Malaysia di laporan ini, dan juga tentu perlu kita waspadai di negara kita," tutupnya.

























Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Penjelasan Pakar soal 'TB Laten', Kasusnya Lagi Meledak di Malaysia"