Hagia Sophia

21 February 2026

Diabetes Jadi Urutan Pertama Sebagai Penyebab Gagal Ginjal di Indonesia

Diabetes menjadi penyebab utama gagal ginjal. Foto: Getty Images/Alena Butusava

Gagal ginjal kerap berkembang tanpa gejala berarti hingga akhirnya pasien membutuhkan terapi pengganti ginjal seperti cuci darah atau transplantasi. Banyak orang baru menyadari fungsi ginjalnya menurun ketika kerusakan sudah cukup berat.

Konsultan ginjal-hipertensi Prof Dr dr Endang Susalit, SpPD-KGH menyampaikan, diabetes menempati urutan pertama sebagai penyebab gagal ginjal di Indonesia. Hipertensi berada di peringkat kedua, disusul infeksi. Ketiga kondisi tersebut merupakan masalah kesehatan yang banyak ditemukan di masyarakat dan sering kali tidak terkendali dengan baik.

Pola ini menunjukkan bahwa gagal ginjal bukan sekadar persoalan organ, melainkan akumulasi penyakit metabolik dan gaya hidup yang tidak terkontrol. Kerusakan terjadi perlahan dan sering tanpa disadari, hingga fungsi ginjal menurun drastis.

Lantas, pada tahap kerusakan seperti apa seseorang harus mulai mendapat penanganan serius? Kapan kondisi tersebut dikatakan sudah memerlukan terapi pengganti ginjal, seperti transplantasi?

Batas Aman Fungsi Ginjal: GFR di Bawah 15 Sudah Tahap Akhir

Penurunan fungsi ginjal umumnya diukur melalui parameter yang disebut Glomerular Filtration Rate (GFR), yakni angka yang menunjukkan seberapa baik ginjal menyaring limbah dan cairan dari darah. Secara umum, berdasarkan pedoman internasional Kidney Disease: Improving Global Outcomes (KDIGO), GFR normal berada di atas 90 mL/menit/1,73 m².

Ketika GFR turun ke angka 60-89, fungsi ginjal mulai menurun ringan. Pada kisaran 30-59, kerusakan masuk tahap sedang. Jika sudah berada di bawah 30, kondisi tergolong berat. Sementara itu, GFR di bawah 15 mL/menit/1,73 m² dikategorikan sebagai gagal ginjal tahap akhir (end-stage renal disease) yang biasanya memerlukan terapi pengganti ginjal seperti dialisis atau transplantasi.

Prof Endang menjelaskan, transplantasi idealnya dipertimbangkan sebelum pasien terlalu lama menjalani cuci darah.

"Kalau memang angkanya sudah di bawah 15, meskipun belum cuci darah, biasanya pasien sudah mulai merasa tidak enak badannya," ujarnya.

Sementara itu, terkait kondisi pasien dengan fungsi ginjal menurun, Prof Dr dr Nur Rasyid, SpU(K), menekankan pentingnya menjaga keseimbangan cairan tubuh. Menurutnya, ketika GFR turun hingga di bawah 40, pasien umumnya tidak dianjurkan berpuasa karena risiko kekurangan cairan dapat memperburuk kondisi ginjal.

"Yang paling berbahaya pada gangguan fungsi ginjal adalah kalau kekurangan cairan," jelasnya.

Ia menambahkan, dalam ajaran agama, ibadah diperuntukkan bagi mereka yang dalam kondisi sehat. Karena itu, pasien dengan gangguan fungsi ginjal sebaiknya berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter sebelum memutuskan berpuasa atau melakukan aktivitas yang berisiko menyebabkan dehidrasi.

Deteksi Dini Gagal Ginjal: Cukup Tes Urine Lengkap

Banyak orang mengira pemeriksaan ginjal harus melalui tes mahal dan rumit. Padahal, menurut Prof Endang, cara paling sederhana untuk mendeteksi gangguan ginjal justru bisa dilakukan melalui pemeriksaan urine lengkap.

"Urine lengkap saja. Kalau urinenya bersih, negatif, itu biasanya normal. Itu saja paling mudah dan murah," ujar Prof Endang.

Pemeriksaan urine lengkap dapat mendeteksi adanya protein, darah, atau kelainan lain yang menjadi tanda awal gangguan fungsi ginjal. Jika hasilnya berada dalam batas normal, risiko kerusakan ginjal umumnya rendah. Sebaliknya, bila ditemukan kelainan, pasien dapat segera menjalani evaluasi lanjutan sebelum kondisinya memburuk.

Menurutnya, tes ini tersedia luas di laboratorium umum dengan biaya yang relatif terjangkau. Karena itu, ia menganjurkan masyarakat terutama yang memiliki diabetes, hipertensi, atau riwayat keluarga penyakit ginjal, untuk tidak menunggu munculnya gejala sebelum memeriksakan diri.

Deteksi dini menjadi kunci, sebab kerusakan ginjal sering berlangsung tanpa keluhan hingga memasuki tahap lanjut.

Hidup Sehat Cegah Gagal Ginjal: Batasi Gula, Garam, dan Jaga Pola Makan

Meski angka gagal ginjal terus meningkat, para dokter menegaskan bahwa sebagian besar kasus sebenarnya dapat dicegah. Kuncinya ada pada pengendalian faktor risiko utama seperti diabetes dan hipertensi.

Menjaga kadar gula darah tetap stabil, membatasi konsumsi makanan manis dan tinggi karbohidrat sederhana, serta rutin memantau tekanan darah menjadi langkah penting untuk melindungi ginjal. Asupan garam juga perlu dibatasi agar tekanan darah tidak melonjak dan membebani organ penyaring tersebut.

Selain itu, pola makan yang bersih dan matang juga tidak kalah penting. Makanan yang tidak higienis atau kurang matang dapat meningkatkan risiko infeksi, yang dalam beberapa kasus dapat berdampak pada fungsi ginjal. Karena itu, memastikan makanan dimasak dengan baik dan dikonsumsi dalam kondisi higienis menjadi bagian dari upaya menjaga kesehatan ginjal secara menyeluruh.

Menjaga berat badan ideal, rutin berolahraga, dan memastikan kecukupan cairan harian turut membantu mempertahankan fungsi ginjal. Namun, pada individu dengan gangguan fungsi ginjal, kebutuhan cairan harus disesuaikan dengan anjuran dokter.

Para ahli mengingatkan, gagal ginjal bukanlah kondisi yang muncul secara tiba-tiba. Kerusakan terjadi perlahan selama bertahun-tahun akibat penyakit yang tidak terkontrol. Karena itu, kombinasi gaya hidup sehat dan pemeriksaan rutin termasuk tes urine sederhana, menjadi langkah penting agar masyarakat tidak terlambat menyadari penurunan fungsi ginjalnya.

Tanpa perubahan gaya hidup dan deteksi dini, angka pasien yang harus menjalani cuci darah berisiko terus meningkat dari tahun ke tahun.

























Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Diabetes Jadi Penyebab Terbanyak Gagal Ginjal, Ini Wanti-wanti Para Dokter"